SUNDA UNDERGROUND PART 1: THE EMBRIO

Posted: March 13, 2010 in Uncategorized
Tags:

SUNDA UNDERGROUND PART 1: THE EMBRIO

Oleh Kimun666

Embrio Sunda Underground—berikutnya SUG saja—tak bisa dilepaskan dari sosok Mang Utun, Ujungberung Rebels, dan kelompok-kelompok kampung adat yang ada di Bandung dan sekitarnya. Ini adalah beberapa kisah tentang SUG yang telah dirangkum Kimung dan siap dimuat dalam buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels. Kisah-kisah ini dituliskan dari wawancara Mang Utun, Man Jasad, Aki Amenk, Okid Gugat, dan perbincangan formal dan informal dengan beberapa tokoh-tokok kelompok Kasundaan di Bandung, Negara Banceuy, Subang, Tangkuban Parahu, dan lain sebagainya. Dan karena kisah-kisah ini secara khusus dituliskan untuk buku Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels, maka sudut pandang kisah masih dilihat dari sudut pandang Ujungberung Rebels. Perlu kajian lebih mendalam secara multivisi dan multi dimensi untuk menggali SUG secara lebih dalam, inklusif, dan integratif. Namun sepertinya ini cukup jelas memberikan gambaran. Selamat menyimak!

2007, Aliansi mang Utun dan Ujungberung Rebels

Dua hingga tiga bulan sejak Bandung Death Metal Syndicate (BDMS) sepakat memasukkan kesenian Sunda dalam Bandung Death Fest II 2007, mereka masih tak bisa menemukan kelompok kesenian Sunda yang mau nabeuh di konser death metal itu. Hingga akhirnya satu minggu sebelum Bandung Death Fest II, cahaya mulai mendatangi Man, Amenk, dan Okid. Suatu malam Minggu yang cerah, Themfukk mengontak Man. Man tuh di Cikapayang aya nu keur penca silat! Kabar Themfukk. Maka Man, Amenk, dan Okid pun segera menuju Cikapayang. Di sana Man, Amenk, dan Okid bertemu Mang Utun dan Mang Deni. Man segera saja mengutarakan keinginannya kepada Mang Utun bahwa ia sangat ingin konser Bandung Death Fest II dibuka oleh kesenian pencak silat. Tapi Mang Utun kemudian menawari debus untuk konser itu. Tentu saja sebuah tawaran yang menggiurkan. Man, Amenk, dan Okid kontan setuju. Sebuah pertunjukan metal yang mengetengahkan debus! Cocok!

Mang Utun sendiri sangat senang bisa mengenal anak-anak Ujungberung Rebels. Saat itu, Mang Utun bersama organisasi kepemudaan bentukannya Gerakan Pemuda Sunda Pajajaran (GPSP), sedang menggelar acara Kandang Penca On the Street. Acara ini adalah salah satu upaya yang dilakukan Mang Utun dan GPSP untuk kembali memasyarakatkan Sunda, terutama keseniannya. Kendang penca kadung identik dengan segala hal yang sifatnya seremonial dan kemudian terpuruk dalam sudut-sudut nilai sosiologis saja. Kendang Penca perlahan seperti terpisahkan dari akarnya : rakyat. Mang Utun ingin mendobrak kecenderungan yang kontra produktif dengan perkembangan Sunda itu dengan mengembalikan lagi kendang penca ke jalanan, tempat di mana kesenian menjadi sagat demokratis. Dapat dinikmati semua orang, tanpa kecuali, bebas menari, bebas mengapresiasi.

Kegembiraan yang lebih mendalam dirasakan Mang Utun dengan bertemunya ia dengan anak-anak Ujungberung Rebels adalah sebuah kearifan Sunda yang berbunyi, ngaberung di Ujungberung, ngabandung di Bandung, Sumedang tandang makalangan, di Garut siap ngagerut. Dalam visi Mang Utun atas kearifan itu, ia sangat yakin harus mulai belajar dan berlaku dari Ujungberung jika akan memelihara Bandung, Sumedang, Garut, dan tentunya tatar Sunda lainnya, termasuk Sunda dalam pengertiannya yang universal. Selama ini Mang Utun menanti-nantikan saatnya ia akan bersinggungan dengan orang Ujungberung. Dan inilah saatnya. Kearifan Sunda lainnya memperkuat keyakinan Mang Utun untuk beraliansi dengan kelompok jalanan ini, tong hayang komo embung. Jangan mau, apalagi nolak.

Dan inilah yang melatari Mang Utun untuk mendukung keinginan anak-anak metal ini menyuguhkan kesenian Sunda di konser death metal mereka. Mang Utun semakin bersemangat dan merasa cocok dengan Ujungberung Rebels ketika ia melihat logo BDMS Panceg Dina Jalur yang ternyata serupa dengan logo GPSP. Seperti halnya BDMS, GPSP juga memakai figur dua kujang sebagai logo organisasinya. GPSP juga memperguankan semboyan yang hamper sama dengan BDMS. Semboyannya adalah Panceg Dina Galur, Babarengan Ngajaga Lembur, Nyaah ka Diri, Nyaah ka Ibu Pertiwi. BelaMangan, Mang Utun juga memberi masukan kepada Man untuk mengoreksi semboyan “Panceg Dina Jalur”-nya BDMS menjadi “Panceg Dina Galur”menjelang persiapan Bandung Death Fest III tahun 2008. Pelan-pelan, Mang Utun menjadi gerbang kepada ranah Kasundaan bagi anak-anak metal Ujungberung Rebels.

Man dalam blog Myspacenya tanggal 16 Agustus 2007 menuliskan rasa syukurnya atas kelancaran Bandung Death Fest II, “Hello my friends! I just wanna share to you all about the scene in my fuckin city, the party was greats…more than 3000 peoples come and join to my fuckin party,my dreams for next BDF are to invite other bands from overseas,and of course addin more sundanese traditional performs with more “bleeding” acts at the stage, hope it can be realize. Hell is closed for one day coz i bring it to the stage ….the hell makers are :JASAD, DISINFECTED, FORGOTTEN, BLEEDING CORPSE, JIHAD, NAKED TRUTH, DEVOURED, BLEEDING FLESH, ASPHYXIATE, DEAD VERTICAL also traditional perform act called DEBUS……mystical flavour very strong on the stage when the party started by DEBUS…unlogical things happen but it real,  i can talk too much, you can see some picture below,ow  at last, i wanna say big thanx to all people who come and participate to the party…..Stay Fucking Brutal!!!

Sementara itu, hubungan Ujungberung Rebels—dalam hal ini mungkin tepatnya BDMS—dengan Kasundaan semakin erat ketika, para metalhead semakin sering menghadiri berbagai acara yang digelar oleh komunitas-komunitas kasundaan atau bahkan kelompok-kelompok Kampung Adat. Beberapa acara yang rutin dihadiri Man dan Amenk dan kawan-kawan adalah Pabaru Sunda, Tumpek Kaliwon, Tumpekan, Rajah, dan berbagai acara lainnya. Dalam setiap gelaran Kasundaa, para gegedung BDMS tak lupa mengajak para junior mereka, anak-anak metal baru di Ujungberung Rebels dan scene death metal Bandung secara umum. Mereka datang beramai-ramai menghadiri gelaran Kasundaa itu dan menyemarakkan suasana. Anak-anak Ujungberung Rebels bahkan hapal cacandraan dan lagu-lagu lainnya yang sering dinyanyikan bersama dalam berbagai acara-acara tersebut. Dari acara dan upacara tersebut anak-anak Ujungberung Rebels banyak belajar mengenai Kasundaan. Mereka banyak bertemu dengan sesepuh-sesepuh Sunda yang ada di Bandung seperti Abah Ali, Abah Adung, Abah Cahya, Abah Agus Rohman, serta sesepuh dari daerah-daerah lainnya. Mendengar banyak sekali kisah-kisah sejarah kasundaan dari setiap sesepuh yang hadir, merasakan berbagai kearifan budaya Sunda dari atmosfer kebersamaan kekompok adat Sunda, hingga akhirnya menangkap sebuah abstraksi baru berkaitan dengan Sunda. Sebuah Sunda yang universal, tidak terkungkung oleh ruang dan kepentingan. Sunda sebagai sebuah semangat posistif untuk membangun, melestarikan, dan dekat dengan sesama, lain, liyan, dan tentu saja alam.

Dalam acara Pabaru Sunda, ngarajah di Sumur Bandung yang dihadiri oleh orang Sunda dari berbagai daerah, Ujungberung Rebels melihat sendiri Sunda yang universal itu. Ratusan orang wakil dari puluhan komunitas Kasundaan, kampung adat di Indonesia dan dunia datang ke Sumur Bandung untuk mengambuil air dari dalamnya. Kampung-kampung adat di Bandung seperti Mahmud dan Cirendeu berkumpul bersama kampung-kampung adat dari Subang, Dayak Sagandu, Bali, Aceh, Padang, sampai Kutai hadir. Semua mengaku sebagai orang Sunda walau jelas memiliki identitas yang berbeda secara persebaran ruang. Mereka menyebut orang Sunda sebagai “Saudara Tua dari Sunda”, sementara orang Sunda menyebut mereka “Sajajar Sapajajaran”. Sawawa sarua manusa sa sunda sa pajajaran. Sajajar.

Tanpa terasa, anak-anak Ujungberung Rebels semakin dalam berkenalan dengan Sunda, terutama Man, Amenk, dan Okid. Man dan Amenk malah berkenalan dengan iket sebagai salah satu lambang utama Sunda. Iket ditangkap mereka sebagai simbol nu meungkeut kahayang dina mastaka ngarah teu mancawura. Ngarah teu paadu antara katuhanan jeung kamanusaan.[1] Man dan Amenk memiliki iket yang sering mereka pakai di berbagai acara Kasundaan. Pihak kelompok Kasundaan sendiri sangat senang menerima kedatangan anak-anak Ujungberung Rebels. Dengan kedatangan anak-anak metal ini, acara kumpul kelompok Kasundaan semakin ramai saja dan ini merupakan salah satu indikasi semakin bergairahnya semangat Kasundaan mereka.

Dalam berbagai kesempatan tumpekan, Mang Utun selaku tokoh muda Sunda yang membukakan gerbang kepada Ujungberung Rebels selalu memperkanalkan anak-anak muda metal ini kepada para sesepuh dengan sebutan “Kelompok Kampung Adat Sunda Underground”. Merujuk pada sebutan Mang Utun pada rengrengannya, anak-anak metal Ujungberung Rebels pun kental dengan sebutan Sunda Underground.

Sebutan ‘underground” juga dirasakan Mang Utun sebagai istilah yang paling pas dengan gerakan Kasundaan yang ia canangkan sendiri melawan arus dominasi arah gerakan Kasundaan yang tipikal ada atau setidaknya terasa oleh Mang Utun. Ia melihat, gerakan Kasundaan yang berkembang saat itu lebih cenderung tidak populis. Para tokoh Kasundaan lebih sering bergerak di ranah politis atau mistis, dua ranah yang sama sekali jauh dengan hakikat kepemudaan—aset penting dalam melestarikan budaya Sunda. Jarang sekali Mang Utun melihat gerakan kepemudaan yang berkomitmen benar-benar menyebarkan syiar Kasundaan kepada para pemuda tanpa ada muatan politis atau mistis di dalamnya. Bahkan dalam gerakan seni dan budaya Sunda pun hal yang bersifat politis dan mistis kerap begitu kental dan pada gilirannya pelan-pelan memisahkan Kasundaan dari para pemuda yang asing dengan dua terminologi di atas.

Di scene undergroundlah—atau mungkin lebih tepat scene independen Ujungberung Rebels—Mang Utun merasakan ketulusan para pemuda yang berkomitmen membangun kaum mudanya untuk lebih peduli terhadap seni, budaya, dan hakikat Kasundaan itu sendiri. Sama sekali tak ada muatan politis ataupun mistis dalam pemahaman Ujungberung Rebels dalam memandang Kasundaan. Mereka bahkan dapat dikatakan jauh dari dua hal tersebut, walau kesadaran tentang hal itu tetap dipelihara sekedar untuk diketahui dan disiapkan sebagai penuntun di pinggiran jalan. Bukan penuntun utama yang menerangi gelapnya jalanan yang dihajar kaum metal muda kita. Penuntun utamanya jelas : seni, musik, kemandirian, dan hasrat paling purba dalam memelihara sesuatu : cinta.

SUG secara lebih radikal kemudian ditandai dengan merebaknya serangan alat musik karinding dan celempung di kalangan Ujungberung Rebels. Ini adalah beberapa rangkuman Kimung mengenai fenomena yang terjadi antara bulan Oktober 2008 hingga awal 2009. Selamat menyimak kembali…

Oktober 2008, Karinding Attack

Karinding pertama kali diperkenalkan kepada anak-anak Ujungberung Rebels oleh Mang Utun. Alkisah, suatu hari di bulan Oktober 2008 Mang Utun mengajak seorang seniman karinding, Mang Engkus kepada anak-anak Ujungberung Rebels. Di sana, Man dan Amenk adalah dua orang yang pertama kali tertarik dengan alat musik ini. Mereka jatuh cinta pada sentuhan pertama pada alat musik sederhana itu. Man dan Amenk diberi masing-masing satu karinding oleh Mang Engkus dalam kesempatan itu. Sejak itu dalam tiap kesempatan keduanya selalu tampil dengan karindingnya masing-masing, memainkanya di mana saja, kapan saja, membuat orang-orang sekitarnya penasaran, alat apa itu yang dimainkan Man dan Amenk. Amenk yang saat itu sedang menggarap rokok Morbid Nixcotine jelas membawa alat musik ini ke kelompok kerjanya, Bandoong Sindekeit (BS). Kontan, karinding langsung menarik perhatian semua anggota sindikat. Jawis, gustavo, vian, kimung, dan ari di sindikat adalah mereka yang memiliki ketertarikan khsus pada karinding. Secara bergiliran mereka belajar karinding milik Amenk.

Karinding semakin dikenal di BS ketika Mang Utun datang bersama mang engkus ke acara syukuran Morbid Nixcotine di garasi rumah Tomi Morbid, kawasan Sultan Agung. Di sana, Mang Engkus yang kemudian mendapat gelar “dewa karinding swasta” mengajarkan bermain karinding kepada anggota sindikat. Mang Engkus juga menceritakan apa itu karinding dan bagaimana karinding yang sudah hilang selama 600an tahu itu dihidupkan lagi oleh Abah Olot,  seniman dan master pembuat karinding serta alat-alat musik dan kerajinan lainnya dari bambu.

Tiga minggu kemudian, dalam softloncing Morbid Nixcotine di Restoran Twang, jalan Sultan Agung, 12 Desember 2008, BS sepakat menampilkan karinding Abah Olot untuk memperkenalkan kembali karinding minimal kepada kawan-kawan lama di scene msuik independen yang ada di sekeliling Morbid Nixcotine dan BS. Kimung, Amenk, Popo, dan Tomi yang menggarap acara ini lalu sepakat mengundang grup kesenian Abah Olot, Giri Kerenceng untuk mengisi acara tersebut.

Seminggu sebelum acara, diperlukan publikasi awal acara. Kimung yang bertugas membuat publikasi tersebut. Ketika ia dan Amenk merumuskan publikasi, ia belum tahu apa nama grup kesenian karinding pimpinan Abah Olot. Untuk cepatnya, ia mencantumkan nama “Karinding Attack” di publikasi awal tersebut. Desain publikasi lalu digarap oleh Gustavo dan segera disebarkan di internet, selain tulisan biasa di shout out friendster dan myspace. Sejak itulah nama Karinding Attack mulai dikenal. Kimung sendiri tak tahu kenapa ia memilih nama “karinding attack”. Ia sering berkata jika saat ia tiba-tiba menemukan kata “attack” sedang ingat pada Atari Teenage Riots yg sering ia dengarkan era itu. Mungkin musiknya yang attacking—menghentak, menginspirasi kimung. Dalam bayangan Kimung, karinding memang akan menyerang berbagai tangsi scene metal dan scene manapun yang dekat dengannya. Morbid nixcotine adalah sel pertama scene independen yang diserang karinding attack dengan segala kerendahan hati serta keindahannya. Dalam morbid expo di restoran twang, nama grup abah kolot yang tercantum di undangan adalah Karinding Attack Giri Kerenceng. Hanya Aki Amenk, pihak dari scene metal yang ikut maen karinding dalam kesempatan itu bersama Giri Kerenceng.  Dalam debut pertamanya di scene independen, karinding ditonton sekitar 200an undangan dan kawan-kawan yang hadir. Setelah acara, Abah Olot dan kru Giri Kerenceng kongkow di commonroom bersama anak-anak Commonroom, Openlabs, dan Ujungberung Rebels. Semua org belajar karinding dalam ksempatan itu. Ranti bahkan mendapat karinding langsung dari Abah Olot saat itu.

Setelah penampilan pertama karinding di scene, alat musik ini dikenal semakin luas. Dua musisi Ujungberung yang belajar secara serius kemudian adalah Man dan Kimung. Man yang mendapat karinding dari mang Engkus terus mempelajari karinding dari Mang Utun dan Mang Engkus. Sementara itu, Kimung belajar dari Amenk, selain dari Mang Utun dan Mang Engkus. Di manapun dan kapanpun mereka terus bermain karinding. Ketika anggota BS akhirnya mendapat karinding juga, mereka semakin sering berlatih. Masa ini, Mang Engkus juga semakin dekat dengan anak-anak Ujungberung Rebels karena berbagai kegiatan yang digelar di Commonroom ataupun undangan-undangan yang dilayangkan anak-anak Ujungberung Rebels Mang Utun dan Mang Engkus. Dua acara yang kemudian membuat karinding semakin dikenal di scene independen Bandung adalah ketika Giri Kerenceng kembali tampil dalam acara sukuran satu tahun Detik.com bandung atas undangan Salomo Sihombing dan acara penggalangan dana Burgerkill Invasion of Noise West Australian Tour tanggal 4 Februari 2009 di Hotel Hyatt. Acara ini juga dihadiri Dede Yusuf yang sayangnya tak menyaksikan penampilan Karinding Giri Kerenceng. Dalam dua penampilan tersebut Man dan Aki Amenk secar konsisten terus bergabung dengan Giri Kerenceng bermain karinding. Selain dua penampilan tersebut sebenarnya masih banyak panggung yang dijajal man dan Amenk bersama Giri Kerenceng di berbagai acara adat kelompok Kasundaan. Data-data ini akan segera dilengkapi.

Karinding Attack—selanjutnya Karat saja—mulai benar-benar berkibar ketika mereka tampil sebagai kolaborator tiga band independen dalam acara yang digelar khusus oleh Elang, Gimmick Ent, dan Commonroom, The Secret Garden Revisited : Karinding Attack!!! 21 Februari 2009. Di acara itu karat tampil berkolaborasi mengisi masing-masing satu lagu dari penampilan band-band Good Bye Lenin, Leifenhoft, dan Polyester Embassy, selain juga tampil sendiri. Personil Karat yang maen saat itu adalah Mang Engkus, Mang Utun, Hendra, dan Kimung. Para personil Karat mengenang, di antara tiga band yang mereka ‘susupi’ hanya Polyester Embassy yang sudah mampu mencair dengan karinding. Ini terbaca dari kolaborasi karinding dan aransemen elang yang luwes untuk Blue Flashing Lightsnya Polester Embassy. Video kolaborasi karat dengan polyester embassy yang diupload oleh Elang sehari sesudahnya adalah video publikasi karinding attack pertama di dunia maya. Cek http://www.youtube.com/watch?v=_dsgvovMUvY.

Karat semakin dikenal ketika mereka tampil dalam diskusi Etnologi Budaya Sunda di Commonroom tanggal  4 Maret 2009. Dalam diskusi tersebut Commonroom menampilkan Zaini Alif dari Komunitas Hong dan Abah Olot yang memberikan workshop pembuatan karinding, dan juga memainkan karinding bersama Karat. Mengenai pengolahan bambu yang baik untuk karinding, Yasmin Kartikasari dari Bandung Oral History mencatat beberapa hal, “Terdapat beberapa langkah lagi dalam menebang bambu untuk menjadikan bambu sebagai raw material yang berkualitas, seperti :

1. Bambu yang sudah ditebang dihamparkan di tanah dan ditutupi daun bambu lalu didiamkan semalam.

–> dalam semalam, air yang berada di bambu akan menguap dan menempel di daun bambu dan menjadikan batang bambu lebih kering lagi.

2. Batang bambu diambil dan dibawa pulang, lalu diletakkan terbalik (bagian besar di atas, bagian kecil di bawah) dan didiamkan lagi semalam.

–> melalui gaya gravitasi, air akan merembes ke permukaan, dan menjadikan bambu lebih kering lagi.

Bersambung ah…

Cek informasi mengenai Karinding Attack di http://www.jurnalkarat.wordpress.com

Next :

ALIANSI SUNDA UNDERGROUND DENGAN COMMONROOM NETWORK FOUNDATION DAN TERBENTUKNYA BAND-BAND KASUNDAAN DI COMMONROOM SERTA ALIANSINYA DENGAN BERBAGAI SCENE INDEPENDEN DI BANDUNG DAN SEKITARNYA

Tulisan ini untuk buku Panceg Dina Galur Ujungberung Rebels dan majalah metal Newnoise Heavy & Load


[1] Yang mengikat hasrat dalam kepala manusia biar tidak berceceran ke mana-mana. Biar  tidak bentrok antara ketuhanan dan kemanusiaan.

Comments
  1. udho TND yeahhh says:

    like this!!

    \m/

  2. insan says:

    sangat menarik untuk di simak kelanjutannya!!
    di antos sambunganna!!
    support our culture movement!!

  3. cuky says:

    rahayuuuuuuuu…

  4. humansalatri says:

    rampes lach……
    kreeeen….

  5. refi says:

    simkuring bangga jadi putra pajajaran nu benghar ku budaya kaseniannana.

  6. udung says:

    rahayu…..

  7. radite says:

    muga2 jadi sunda saestu (nyengcelak herang canembrang) \m/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s