JURNAL KARAT # 7 JUMAT KRAMAT 5 MARET 2010 EYEFEELSICK & TELEVISION WEEK !!!

Posted: March 7, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 7 JUMAT KRAMAT 5 MARET 2010

EYEFEELSICK  & TELEVISION WEEK !!!

Asuhan Jon 666

Sabtu, 27 Februari 2010, Karat di loncing Fold Magz & Dying Fetus finishing

Karat menghajar Gedung Indonesia Menggugat (GIM) malam itu di acara loncing Fold Offline Magazine. Selain Karat, acara ini diramaikan oleh penampilan berbagai band Bandung, di antaranya Europe In De Troppen, Neowax, D Alphalpha, Arumba Saung Udjo, dan lain-lain. Karat sendiri dijadwalkan tampil kedua terakhir sebelum Europe In De Troppen (singkatnya Europe sajah yess), berkolaborasi dengan band ini membawakan beat-beat Europe yang diisi oleh lagu “New York”.

Jam delapan malam para personil Karat dan kawan-kawan sudah sampai di GIM. Untuk panggung itu Karat dibantu oleh Adan, kru papan atas dari Ujungberung Rebels yang sudah lima belas tahun ini menjadi kru andalan Burgerkill. Secara bercanda, Adan mengungkapkan, “Ayeuna ge urang keur ngakruan BK, tapi BK nu ieu mah band karinding, hahahahahaaa…” Dukungan Adan kepada Karat tentu saja sangat berharga. Dukungannya itu bermula di panggung Stikom seminggu sebelumnya ketika Adan datang sebagai teknisi band ska legendaris Bandung, Noin Bullets. Adan menyarankan kepada Kimung agar Karat diset secara serius biar suara yang dihasilkan maksimal. Untuk itu Kimung meminta bantuan Adan untuk menentukan set posisi duduk personil dan juga set sound agar musik Karat semakin maksimal. Karat lalu mengundang Adan ke sesi Jumat Kramat untuk mengenal Karat lebih jauh lagi.

Panggung GIM dihajar tuntas oleh Karat. Antusiasme audiens terlihat sangat kuat kepada Karat mengingat band ini adalah band yang memainkan musik dan instrumen paling aneh di antara band-band lain yang manggung malam itu. Semua lagu dihajar tuntas oleh karat malam itu. Karat memang kurang berhasil ketika menggeber lagu terakhir “Kawih pati” karena Kimung salah membawa celempung. Khusus “Kawih Pati” celempug yang paling pas adalah celempung indung Cisolok, sementara yang dibawa Kimung malam itu adalah celempung anak Cisolok. Perbedaan dua celempung itu jelas. Jika celempung indung lebih bervariasi suaranya disenar goong, maka celempung anak variasi suaranya lebih terletak di senar nadanya. Namun, kegamangan “Kawih Pati” terbayar sudah oleh kolaborasi “New York” vs Europe yang diset sebagai lagu terakhir Karat sekaligus gig pembuka bagi Europe. Karat dan Europe—terutama Ate sebagai programmer yang perform bareng Karat malam itu—berhasil menghidupkan dua lagu mereka masing-masing dalam beat, pirigan, surupan, dan tempo yang baik. Banyak sekali improvisasi di sana-sini, tapi secara keseluruhan musik garapan mereka dapat dikatakan berhasil dengan sangat baik. Para penonton yang asalnya tercerai berai, semua berkumpul di sekitar panggung selama panggung Karat, sejak mulai hingga akhirnya usai kolaborasi.

Sehabis panggung di GIM, para personil Karat langsung cabut ke Commonrom. Di sana mereka kembali berkumpul dan nabeuh lagi. Kali ini menggarap lagu ciptaan Man yang terinspirasi Dying Fetus. Man, Hendra, Okid, dan Jawis berkumpul dan saling mengeksplorasi berbagai pirigan karinding untuk memperkaya suara di lagu ini. Akhirnya malam itu lagu Dying Fetus Man mendekati 70 % fiks dan mulai menampakkan bentuknya. Pirigan dan surupan lagu sudah dapat semua. Masing-masing mengeksplor bagaimana bentuknya sendiri-sendiri tapi tetap padu dengan pirigan satu dengan lainnya. Yang masih belum tergarap dengan baik adalah alur lagu, bagaimana arasemen yang baik dari lagu tersebut agar groove yang terbangun dengan baik dari lagu tidak cuma mengalir di satu emosi.

Senin, 1 Maret 2010

Ilva kontak Kimung di chat FB menanyakan apakah Karat bisa tampil di Ziggy Wiggy. Ternyata Ilva juga sudah menghubungi Man Jasad dan pihak Ziggy melalui Babam seterusnya kontak ke Man untuk program ini. Awalnya Karat dijadwalkan suting Ziggy hari Rabu, tapi karena Rabu pagi Karat sudah ada jadwal suting sama IMTV, maka suting akhirnya disepakati di sesi latihan Karat di Jumat Kramat. Namun demikian jadwal suting akhirnya disepakati hari Minggu jam delapan malam di studio STV, live.

Selasa, 2 Maret 2010, Karat di Studio Manja

Rencananya malam ini Karat akan berkumpul dan melakukan sesi rekaman lagu untuk demo Karat, sekalian “latihan rekaman”. Namun ternyata hanya Hendra yang datang malam ini. Hujan memang turun dengan lebat malam itu. Kemarinnya bahkan, angin puting beliung mendera Ujungberung dan sekitarnya. Berhubung Man juga ternyata bayak acara malam itu, latihan Karat tak berlangsung mulus. Hendra dan man akhirnya jalan2 malam itu keliling Kota Bandung di waktu malam…

Di sisi yang lain, Kimung chat malam itu dengan Priskila, csna cs kami si Pikiw, seorang penabuh drum wanita. Awalnya perbincangan seputar musik dan hal-hal umum, sampai akhirnya Kimung mengajak Kila untuk coba bergabung bersama Karat. Kila menyambut baik walaupun ia sama sekali tak punya bayangan mengenai celempung ataupun karinding. Ia hanya pernah menyaksikan kolaborasi Sunda Underground yang dilakukan Tcukimay dengan kendang penca Jimbot cs dan mengatakan jika itu adalahs ebuah cook concept. Kimung mengundangnya untuk hadir di Jumat Kramat. Killa mengiyakan dan berjanji akan datang sekitar jam sembilan atau jam sepuluh.

Rabu, 3 Maret 2010, Karat di IMTV

Pagi yang cerah di hari Rabu. Pukul delapan pagi Kimung, Man, dan Mang Utun sudah hadir di Studio IMTV untuk sesi bincang-bincang pagi yang disiarkan secara live. Kehadiran Karat ini atas rekomendari dari Osiie yang sedang kerja magang di IMTV. So thanks dear for letting us get on screen this morning hehehehe…

Bincang-bincang pagi dipandu oleh host Oki. Total ada lima belas pertanyaan yang dikemas dalam bincang-bincang santai mengenai sejarah Karat, berbagai hal yang, melatari berdirinya Karat, apa yang dilakukan Karat hari ini, perkembangan alat musik karinding dan bagaimana cara mendapatkan karinding hari ini, hingga rencana-rencana ke depan dan harapan-harapan Karat. Sempat juga diputar video dokumentasi milik penampilan Karat milik Man, ketika Karat tampil di Dies Natalis ITB tahun 2009. Secara  umum bincang-bincang berjalan baik, fokus, dan informatif. Studio IMTV di kawasan Supratman juga bikin betah. Dari lantai lima, kita bias melihat Kota Bandung yang dilingkung gunung. Aku penasaran gimana kalo malam hari di sana yaaa… Osiie take us there again, but at night next moment yaaahhh ^^ Semua semakin ceria ketika di saat pamit Mang Utun nyeletuk, “Aya nu rek nanggung we pokona dana rekaman mah, sapuluh juta!” pamitnya seraya menyebutkan satu nama seorang agan di Bandung yang kabarnya akan mendukung Karat rekaman. Tak ada kata terucap mendengar itu, selain, “Nuhun Nya Gusti…”

Jumat, 5 Maret 2010

Seperti biasa, yang pertama kali hadir di Commonroomuntuk sesi umat Kramat adalah Hendra. Pa guru anom ini memang sejak sore sudah hadir untuk mengisi sesi belajar karinding. Muridnya sudah ada delapan orang yang secara intens hadir setiap jumat sore. Rencananya, murid-murid Hendra akan minton hasil belajarnya tanggal 8 Maret 2010 di acara kampus mereka, Fisip Unpad.

Sehabis kelas karinding, brul datang rombongan mahasiswa ke dua. Kali ini datang dari NHI atau sekarang STKIP yang datang untuk mengetahui karinding dan pengembangan budaya lebih jauh seperti yang sudah dilakukan Karat di Commonroom. Hendra sebagai kontak para mahasiswa-mahasiswi itu dengan  sabar melayani berbagai pertanyaan yang diajukan. Semoga semua informasi dan keterangan yang diberikan bisa membantu para mahasiswa karena rencananya anak-anak muda itu akan menerapkan pola yang sama di kelompoknya dalam upaya revitasilasi seni dan budaya tradisonal.

Jumat Kramat malam itu sepi. Para personil Karat berpencar-pencar minggu ini, padahal Jumat ini dijadwalkan akan latihan kolaborasi dengan Eyefeelsick untuk tampil di Ziggy Wiggy STV. Man, Amenk, dan Jawis ada di klasik rock malam itu untuk panggung reunian band rock klasik Rudal. Sementara Mang Utun mengabari malam itu ia baru saja turun dari lokasi bencana longsor di Ciwidey sebagai evakuasi berantai bantan bencana. Selain Hendra dan para mahasiswa yang sedang melakukan sesi wawancara, ada juga kang Abay dan dua orang kawannya yang penasaran ingin lihat latihan Karat sejak melihat penampilan mereka di Stikom, juga Addy Gembel, Ara Grindcore, dan Agung Jekomik yang sedang merencanakan ke Kuningan esok harinya untuk bedah buku “Tiga Angka Enam” dan pameran tunggal Agung Jek tanggal 17 Maret. Pameran artwork metal yang dikurasi oleh Addy Gembel dan rencananya akan menampilkan Hawe Setiawan dan Kimung dalam diskusinya tangal 20 Maret itu rencananya akan digelar di GIM. Agung juga menjajaki kemungkinan apakah Karat bisa manggung membuka pameran tunggalnya itu. Hadir pula kemudian Gaya dan jay malam itun yang memang datang atas undangan Karat, siap-siap untuk menggarap rencana kolaborasi mereka untuk di STV. Rencananya, Dinan dan tamu scenester senior Dede Suhita dari Bali juga akan datang malam itu.

Personil Karat yang hadir malam itu cuma bertiga, Hendra, Okid, dan Kimung. Namun ini tak menjadi halangan mereka untuk terus berlatih. Setelah pemanasan lagu “New York” Karat sempat menggrapa lagu Dying Fetus Man, namun hingga sesi itu tetap masih belum terbayang pola yang mantap untuk lagu itu. Semua prigan dan beat sangat groovy, hingga Kimung mengambil kesimpulan bahwa lagu itu membutuhkan satu pirigan tambahan yang straight dan cepat agar tidak terlalu manis atau giungketika dimainkan. Okid mengiyakan, namun masih belum jelas pirigan yang dihasilkan saat itu.

Latihan berlanjut ke kolaborasi dengan Eyefeesick. Awalnya mereka akan membawakan lagu “Rima Ababil”nya Homicide—bukan “Barisan Nisan” yang selama ini diberitakan di jurnal—namun Gaya memberikan opsi bagaimana jika lagu yang dimainkan adalah lagunya Eyefeelsick berjudul “Eyefeelsick”. Maka latihan kolaborasipun dimulai. Pirigan celempung dasar diambil dari beat lagu “Rima Ababil”, dimainkan Kimung dan kemudian divariasikan oleh pirigan celempung Hendra. Sempat kagok memainkan pirigan-pirigan ini, namun setelah lumayan terbiasa, ternyata “Eyefeelsick” memiliki pola yang tergoling mudah. Kunci untuk pas dalam menggarap beat celempung dalam hiphop ternyata terdapat rima dan tekanan emosi vokal.  Dengan kata lain kita harus benar-benar paham apa yang disampaikan oleh sang messenger agar dapat mengikuti emosinya.

Latihan berjalan terus ketika akhirnya Priskila datang ditemani kawannya, Hans. Ia segera saja bergabung, memainkan celempung Giri Kerencengnya Kimung. Karena masih awal sekali memainkan celempung Kila terlihat masih kagok. Namun ia tak menyerah. Okid, Kimung, dan Hendra membimbingnya pelan-pelan agar Kila bisa terbiasa dengan pola musik karindingan si Karat. Okid memberikan beberapa wawasan dasar mengenai permainan karinding dan celempung, Kimung membantunya memahami celempung melalui permainan dasar celempungan, sementara Hendra menyarankan agar Kila memainkan pirigan dasar karinding sebelum ke celempungan. Kimung sendiri berpikir, jika Kila bisa mengikuti alur musik Karat sekaligus attitude anak-anak Karat yang Ujungberungan banget, akan banyak hal bisa dilakukan Kila dan pada gilirannya karat yang lain, terutama Kimung dan hendra yang ada di sesi celempung. Kimung sendiri yakin, dengan latar belakang Kila yang seorang drummer dan juga pemain bass—Kila cerita jika ia masih bisa mengikuti beat drum Lamb of God, namun menyerah jika harus memainkan death metal—ia akan cepat mengikuti pola permainan Karat.

Latihan selesai jam dua belas malam ketika akhirnya Dinan dan Mr. Dede Suhita tiba di Commonroom. Setelah mengobrol sana-sini, forum akhirnya bubar menjelang setengah dua malam…

Bersambung cuuuuu…

Edisi depan : Panggung Karat live di STV, penggarapan kolaborasi dengan Eyefeelsick, menggarap Kila, dll…

10 Jon 666 Playlists : Tarawangsa, Homicide, Tika and the Dissidents, Burgerkill, Nicfit, Reverb And Revolver, Jasad, Disinfected, Lighthouse Family, Eddie Brickell

Books : Sejarah Tuhan by Karen Armstrong, Portraits of Bad Religion by Ojel, San Fransisco Blues by Jack Keroack, Salamatahari by Sundea,

Movies : The Doors by Oliver Stone

Comments
  1. jadwal padat…!!? HajarrR…..
    ieu aya sisindiran jang KARAT :

    mapai galengan nepi ka lebak
    di tengah jalan ka pegat lodaya
    ngalagu sing sareak
    rahayu pangestu kanggo sadaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s