JURNAL KARAT # 5, 19 FEBRUARI 2010 BURGERKILL YANG BERKARAT DI “TIGA TITIK HITAM” DAN ULANG TAUN KARAT

Posted: February 21, 2010 in Uncategorized
Tags:

JURNAL KARAT # 5, 19 FEBRUARI 2010

BURGERKILL YANG BERKARAT DI “TIGA TITIK HITAM” DAN ULANG TAUN KARAT

Oleh Jon 666

Senin, 15 Februari 2010, Burgerkill vs Karat, Studio Burgerkill, “Tiga Titik Hitam” sesi 1.

Senin itu Karat maen di STBA dalam acara Buch Messe. Ini adalah acara tahunan yang digelar Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Jerman STBA. Kimung mencatat Buch Messe 2008 adalah forum pertama yang dipergunakan scene independen untuk kampanye publik pasca Insiden AACC 9 Februari 2008. Di Buch Messe 13 Februari 2008, tampil Kimung, Addy Gembel, dan Ucok Homicide dalam diskusi bertema “Ivan Scumbag, Ujungberung Rebels, dan Nihilisme Nietzsche”. Diskusi ini awalnya adalah bedah buku Myself : Scumbag, namun karena Kimung sudah enek dengan pembahasan buku Scumbag—Kimung baru saja membedah buku itu tgl 19 Januari 2009 di Selasar Sunaryo—maka ia minta agar diskusi digiring saja ke pembentukan opini masa pasca Insiden AACC. Kebetulan sangat dibutuhkan forum untuk menggiring kampanye pasca Insiden AACC.

Nah di tahun 2010 ini, Buch Messe diisi oleh penampilan Karat. Acara yg digelar tgl 15 dan16 Februari 2010 di Kampus STBA YAPARI-ABA Bandung ini menggelar bazar buku umum, talk show dari komunitas Commonroom—Kimung protes mempertanyakan ‘komunitas Commonroom’—lomba musikalisasi puisi dan pidato dalam bahasa Jerman, dan pentas seni budaya & kuliner. Di acara pentas seni inilah Karat mengisi acara bersama dengan kelompok lain, yaitu : Salahsadaya Percussion, Angklung Gentraseba, Teater Ungu, STBA Big Band, Kabumi, Elsie, Maskot, dan penampilan akustik dari Fajar France & Friend. Karat dijadwalkan maen tanggal 15 pukul 13.00. pukul 13 tepat para personil Karat sudah tiba di STBA dan segera bersiap-siap. Hadir juga Bucek bareng York dari Berlin yang kemudian ditodong Man untuk berkolaborasi dalam lagu “Blues Kinanti”, bernanyi lirik “Budak Leutik Bisa Ngapung” dalam bahasa Jerman.

Secara umum Karat bermain baik siang itu. Gig dibuka dengan “Karinding Pamuka”, berlanjut dengan “Hampura Ma” dan “New York” yang menghentak. Karat langsung menghajar dengan “Washed” dan kemudian “Blues Kinanti” yang menampilkan York untuk bernyanyi dengan bahasa Jerman berduet dengan Man. Karat langsung menghajar audiens dengan “Lagu Perang” dan kemudian ditutup dengan “Kawih Pati”. Semua dimainkan dengan baik tanpa kendala kecuali sound system yang bututnya ngga ketulungan hehehe… but it’s okay. Hmmm sedikit kritik mungkin untuk para mahasiswa niiiiiihhhhh…

Sepanjang sy sbagey grupis mengikuti perjalanan panggung Karat, panggung-panggung Karat yang terburuk biasanya di kampus-kampus dehh—kecuali acara ITB (acara di awal-awal Karat mulai manggung) yang memang hebat banget tuh..hellyeah!! Dua panggung terakhir Karat di kampus—Stikom dan STBA—kampus menampilkan performa organisasi mahasiswa atau EO mahasiswa kali yahh yang berantakan. Ini terlihat dari penyajian acara yang seadanya, kurang konsolidasi dengan sesama mahasiswa, kurang konsolidasi sama dosen dan pihak kampus, etc., dll., dsb. Bukannya Karat olo-olo, kolokan, pengen manggung di pentas yang gebyar. Tapi dibandingkan dengan acara RW Sukalilah misalnya, atau acara pemilihan RW di Babakan Asih, atau bahkan Libertad yang sangat seadanya dan digarap di gunung yang sangat jauh dari peradaban, acara-acara kampus terakhir memang butut banget digarapnya, butut banget pula segala hal penataannya, dan akhirnya band sekelas Metallica pun kalo manggung di sana dijamin pasti bakal butut juga gtuu lohh. Nah loh! Daripada dibilang butut, mending kita introspeksi yah.. coba sajikan sesuatu yang baik, hormati tamu kita, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati tamunya. Orayt cskuu!!?? Smoga mahasiswa tak mentang-mentang mahasiswa yang selalu gaya berkutat di bidang idealisme sampai-sampai menjadi naïf, kumuh, dan kehilangan hasrat estetis dalam menyajikan sesuatu. Tidak menarik.

Sehabis dari STBA, Karat langsung menuju Commonroom. Kimung dan Hendra sendiri saat itu sudah sepakat bahwa sehabis panggung STBA jika memungkinkan mereka akan langsung menemui Eben untuk membicarakan masalah kolaborasi “Tiga Titik Hitam”. Setelah Eben konfirmasi kalo dia nyantey, maka Kimung dan Hendra pun bersiap-siap. Tak lupa mereka pamitan dan mengajak Karat yang lain seperti Mang Utun, Mang Engkus, Man Jasad, Jawis, dan Jimbot yang hadir di CR saat itu. Semua juga menyatakan akan ikut ke Eben, kecuali Man Jasad yang harus membuat surat undangan acara peringatan 2 Tahun Insiden Sabtu Kelabu dan Jimbot yang ada acara lagi. Yang tak ikut juga adalah Okid yang juga ada keperluan dan langsung cabut sehabis dari STBA, dan tentunya Aki Amenk yg emang absen sedari awal. Singkat kata jam 4 sore, Kimung, Hendra, Mang Utun, Mang Engkus, dan Jawis sudah berada di Studio Burgerkill. Ketika sampai Abah Andris sudah di Studio. Siap-siap mau nyapu halaman karena banyak daun-daun dan ranting berantakan di halaman akibat hujan besar tanpa ampun beberapa saat sebelumnya. Abah Andris pun sasapu seraya mendongeng mengenai Burgerkill di Aussie.

Setelah semua beres, Abah dan Karat lalu berkumpul di studio membincangkan mengenai kemungkinan musik “Tiga Titik Hitam” format kolaborasi Burgerkill vs Karat. Abah mengungkapkan setidaknya ia sudah punya bayangan di intro lagu dan di sesi chaos tengah lagu ketika lead gitar Agung masuk. Penggambaran Andris sebenarnya tak jauh dengan yang sudah dibayangkan oleh Karat. Namun hingga saat itu masih belum jelas apakah Burgerkill akan memainkan drum atau Andris akan bermain celempung/karinding untuk proyek kolaborasi ini.

Tak beberapa lama, Eben datang, disusul Viki dan kemudian Ramdhan. Setelah sedikit brainstorming, akhirnya Eben dan Burgerkill mengadakan pendekatan pemahaman terlebih dahulu kepada karakter suara dan pola pirigan karinding dan celempung. Maka lagu “New York” kemudian dimainkan. Setelah itu Karat memainkan lagu yang bertempo sangat lambat dan sesuai pakem dasar pirigan celempung karinding. Dan ketika akhirnya Burgerkill memahami karakter karinding dan celempung serta pola permainan Karat, mereka sepakat untuk mulai mencoba memainkan “Tiga Titik Hitam”. Untuk itu Eben memberikan masukan pirigan karinding dan celempung Hendra. Eben juga menegaskan kapada Karat bahwa ini adalah proyek kolaborasi dan karenanya ia tak ingin keberadaan karinding dan celempung hanya sebagai tempelan saja. Karinding dan celempung harus menjadi bagian dari lagu dan karenanya pasti akan ada perubahan aransemen yang besar untuk “Tiga Titik Hitam”. Dan benar saja. Eben dan Abah sepakat untuk tidak menggunakan drum dalam proyek ini. Eben meminta Abah untuk konsentrasi memberikan pola kepada Karat dengan bermain karinding atau celempung. Abah mencoba memainkan keduanya.

Sekali memainkan “Tiga Titik Hitam”, langsung terasa kekuatan lagu ini baik oleh Burgerkill maupun oleh Karat. Mereka langsung bisa merasakan peran mereka masing-masing dalam lagu ini walau tentu saja dalam kesempatan pertama ini masih belum terasa nyawa permainan karinding dan celempung. Masuk putaran ke dua, “Tiga Titik Hitam” dimainkan tambah kacau hahaha… Barulah setelah saling briefing, di putaran ketiga sedikit demi sedikit mereka mulai dapat mengumpulkan nyawa mereka untuk “Tiga Titik Hitam”. Malam itu sekitar lima sampai enam sesi lagu “Tiga Titik Hitam” dimainkan Burgerkill dan Karat. Hingga waktu menunjukkan pukul 20.00, akhirnya latihan dicukupkan demikian dengan janji besok latihan lagi dengan format yang lebih baik dan lengkap.

Selasa, 16 Februari 2010

Burgerkill vs Karat, Studio Burgerkill, “Tiga Titik Hitam” sesi 2.

Hari yang cerah. Hari ini Karat punya jadwal manggung di acara peluncuran komik Pamali#2 karya Kak Norpan Harharhar dari Regu Uncal. Panggung Karat kali ini digelar di Galeri Jeihan, di kawasan Padasuka Atas. Hmmm tempat yang sangat asri! Acaranya di sebuah joglo lumayan besar dan terbuka, dikelilingi dapuran awi yang setia memainkan simfoni alam. Di pinggir joglo ada mesjid yang tak kalah asri, menambah suasana asyik sore hari itu. Para gangster Karat sampai di lokasi bada Ashar sekitar pukul setengah empat. Setelah ngaso sebentar dan kebetulan juga lagi break Ashar saat itu, Karat tampil di panggung.

Karat memainkan list lagu yang sama dengan ketika mereka melabrak STBA sehari sebelumnya. Sususan lagu semuanya sama. Yang membedakan kini adalah suasana. Karat bermain lepas tanpa beban, tanpa sound system juga. Tak butuh sound system di suasana alam seperti itu. Di dapuran awi yang saling berkeresekan indah, musik bambu justru akan semakin gampang melebur tanpa adanya sound system. Maka Karat menghajar semuanya dengan lepas. Dan hal ini juga yang membuat mereka tampil sangat baik. Seusai manggung, semua personil Karat puas. Jauuuuhhh lebih puas dibandingkan dengan gig di STBA sehari sebelumnya (Kimung sampai bete abis dan uring-uringan gag jelas juntrungnya selain karena hilang kupluk warisan Scumbag, juga karena tidak nyaman maen).

Karat masih ingin diam berlama-lama di peluncuran buku Pamali#2 karya Kak Norpan, tapi jam 4 mereka sudah harus berlatih bersama Burgerkill. Maka sesudah maen mereka langsung bersiap-siap berangkat kembali ke Studio Burgerkill. Kini Man ikut ambil bagian bergabung. Amenk, Okid, dan Jimbot kembali absen karena mereka harus mempersiapkan berbagai hal. Man juga awalnya tak bisa karena harus menyelesaikan persiapan Peringatan 3 Tahun Insiden Sabtu Kelabu. Namun demikian, akhirnya Man ikut juga ke studio. Frans yang bertemu Karat di acara launching Pamali#2 ikut serta ke studio karena ingin memotret latihan Burgerkill vs Karat itu. Sebelumnya, hari Sabtu Kimung emang ketemu Frans di Jendela Ide dan Frans mengungkapkan ingin motret proses kolaborasi itu untuk dokumentasinya pribadi.

Sampai di studio, Burgerkill sudah kumplit, minus Agung. Setelah berhahahihi dan kongkow sebatings dua batings rokis dan kopis di halaman yang asri, mereka mulai masuk studio. Latihan Burgerkill vs karat “Tiga Titik Hitam” sesi dua segera digelar. Setelah mereview sebentar, mereka langsung menghajar lagu. Di putaran pertama lagu terdengar jelas karinding dan celempung masih belum bisa ngawin dengan gitar dan bass Burgerkill. Barulah setelah review sebentar dan masuk ke putaran kedua, mereka mulai enjoy dan ngawin dalam memainkan “Tiga Titik Hitam”. Lebih dari sepuluh kali dan break dua kali “Tiga Titik Hitam” dimainkan sebelum akhirnya Agung tiba. Man yang awalnya sudah berisap-siap karena janjian dengan Bebi di Commonroom pun akhirnya urung berangkat dan kembali bergabung memainkan “Tiga Titik Hitam”, kali ini dengan kehadiran Agung.

Benar saja, ada nuansa beda dengan adanya Agung. Melodi semakin kaya dengan dua gitar di lagu ini dan anehnya, semakin kayanya nada yang dimainkan Agung justru semakin memperkuat karakter permainan karinding dan celempung. Burgerkill dan Karat memainkan “Tiga Titik Hitam” dua putaran sebelum akhirnya bersorak dan bertepuk tangan, puas dengan aransemen kolaboratif yang mereka hasilkan.

The pigs have won tonight, now they can all sleep soundly, and everything is all right…

Jumat, 19 Februari 2010, ULANG TAUN KARAT

Jumat yang cerah di musim hujan. Walau gerimis turun namun langit cerah mala mini. Karat sudah berkumpul di Commonroom beserta dulur-dulur sadaya. Ada Zia, Arief, Mang Tahu, Kiki, dll. O iyaa Karat juga kedatangan tamu malam itu, Kang Dede dari Kasepuhan Sinar Resmi. Pupuhu ini yang pada Seren Taun Agustus 2009 menjadi tokoh Kasepuhan di kawasan Cisolok, Banten Kidul meneliti tentang angklung. Kimung mencatat dalam jurnal pribadinya, “Kang Dede adalah tokoh muda kasepuhan kawasan Banten Kidul. Ia dikenal di semua kasepuhan. Selain karena kiprahnya dalam membangun jaringan dengan kasepuhan lain serta kelompok-kelompok yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan tradisional di Jawa Barat, juga karena semua kasepuhan di Cisolok, Banten Kidul memiliki keterikatan darah. Selama tiga hari ini saya makan enak tidur enak. Gule munding dan perawan-perawan yang cantik alami di sekeliling saya hahaha.” Tiga mingu setelah kunjungan Kimung ke kasepuhan Cipta Mulya, giliran tim Commonroom yang mengunjungi Kasepuhan Sinar Resmi. Gustaff, Reina, Jenggot, Kimung, dan Jawis berangkat minggu ke tiga Agustus 2009 memenuhi undangan Kang Dede untukmenghadiri upacara adat Seren Taun Sinar Resmi yang ke 460.

Personil Karat malam itu lengkap. Full team! Latihan malam itu dimulai dengan memantapkan “Tiga Titik Hitam”. Amenk yang baru bergabung dengan “Tiga Titik Hitam” dapat dengan cepat mengikuti pola permainan karinding dan celempung. Ada beberapa kali sesi latihan karinding dimainkan bersama-sama sesuai dengan ketukan lagu. Jimbot ikut mengguide para karindingers Karat dalam membangun dan memainkan pola pirigan “Tiga Titik Hitam” yang memang tak biasa dimainkan. Pirigan dan ketukan karinding dalam lagu “Tiga Titik Hitam” juga harus secara konstan terjaga karena fungsi karinding dalam lagu ini vital. Ia membangun nuansa lagu dan ini hanya bisa dilakukan katika instrument dimainkan berulang-ulang secara bersamaan dalam ketukan dan pirigan yang tepat. Satu kesalahan saja akan dapat merusak nuansa yang terbangun dalam lagu. Dan nuansa karinding di “Tiga Titik Hitam” dapat dikatakan tiga sampai empat kali lebih kelam daripada versi asli atau akustik-drum Burgerkill di “Tiga Titik Hitam”. Hmmm sebetulnya bukan kelam sih… Lebih meditatif.  Lebih ke perenungan ke dalam diri sendiri secara bersamaan. Suara-suara yang keluar harus benar-benar jauh dari relung. Beyond consciousness. “Tiga Titik Hitam” dimainkan beberapa putaran sampai dirasakan karinding bisa bermain bersama-sama tanpa ngaremeh.

Lagu berikutnya adalah “New York”. Sampai hari itu “New York” masih belum diberi lirik. Karat masih dalam taraf penyempurnaan pola music dan pirigan lagu ini. Jimbot menyarankan kepada Kimung sebuah pirigan yang jazzy, mengisi ruang-ruang kosong dalam pirigan celempung Hendra dan ketika pirigan itu dicoba. Nuansa “New York” dirasa semakin terbangun. Kimung masih terus melatih pola pirigan Jimbot ini untuk mengisi beberapa bagian “New York” agar lebih variatif lagi. Hendra juga merubah beberapa tepukan di gong celempungnya. Lebih menghentak, lebih rancak. Sesudah itu “Lagu Perang” dan “Wasit Kehed” digeber langsung. Dua lagu ini menghentak dengan sempurna dari Karat.

Latihan berlanjut ke “Barisan Nisan” dari Homicide. Ini memang proyek lama Karat dalam mengaransemen lagu yang baru terwujud. Rencana ini sudah jauh hari dibicarakan oleh Gaya Eyefeelsick untuk berkolaborasi dengan Karat membawa lagu “Barisan Nisan” sebagai tribute to Homicide. Gaya mengemukakan ia ingin membuat versi lain dari “Barisan Nisan” dengan komposisi music yang jauh lebih pelan. Gaya sendiri ngerap seperti seorang dalang yang bercerita penuh dengan cengkok dan lekak lekuk permainan kata yang memang dengan baik ditulis Ucoxxx. Secara umum, pola music yang akan dimainkan sudah terbayang. Ketukannya sangat lambat. Pola pirigan celempung “Kawih Pati” dicoba ke “Barisan Nisan” dan ternyata pas! Jadi lagu ini akan sangat ngemplad dalam segala kekerasan dan kegroovyannya hahahaaa.. tunggu sajah tanggal mainnyahh fellas!!!

Jumat yang cerah memang dan semakin malam, Commonroom semakin ramai. Datang Eddi Brokoli dkk yang  sudah lama ga ketemu. Kamana wae atuu mang? Hahaha kangen sama Eddi. Dia lagi garap sebuah kuis dan minta ide game kepada yang hadir untuk dia mainkan esok harinya dalam sebuah kuis yang berhadiah sebuah rumah dan uang total 100 juta rupiah hahahaa.. Work on bro!! Imahna keur kami lah xixixii…

Dan sosok Eddi Brokoli juga tak bisa dipisahkan dari Karat. Tepat hari ini satu tahun yang lalu, ia dan gengsternya Gimmick sedang bersiap menggeber sebuah event di Commonroom. Event bertajuk Secret Garden Re-Revisited ini digagas oleh Elank Polyester Embassy dan dievakulasi Elank dan Gimmick  ini adalah Secret Garden yang kedua. Acara ini memang digelar khusus untuk memperkenalkan alat music karinding ke khalayak. Dalam kesempatan itu karinding yang diwakili oleh Karinding Attack berkolaborasi dengan tiga band, Polyester Embassy, Goodbye Lenin, dan Laifenhop, selain juga tampil sendiri. Yang bermain bersama Karat  saat itu adalah Mang Utun, Mang Engkus, Kimung, dan Hendra.

Acara tanggal 21 Februari 2009 ini juga dapat dikatakan sebagai momen pertama Karat manggung dan secara resmi menggunakan nama “Karinding Attack”. Nama ini memang sudah digunakan ketika launching Morbid Nixcotine 12 Desember 2009. Namun, yang manggung saat itu bukanlah Karat. Saat itu ditampilkan permainan karinding buhun dari Giri Kerenceng pimpinan Abah Olot. Hingga saat itu, istlah “karinding attack” masihlah sebuah kata pembuka yang ditulis Kimung untuk lebih mengedepankan Giri Kerenceng. “Karinding Attack” digunakan secara resmi pertama kali di Secret Garden Revisited 21 Februari 2009.

Well, besok hari Minggu tanggal 21 Februari 2009 hahahahahaaa…

Jumat malam kemarin Kang Utun, Kimung, dan Karat yang lain sepakat jika Karat akan berulang tahun setiap 21 Februari. So HAPPY B’DAY FOR TOMORROW KARAAAAATTT!!! HAJAR TERUS JALANAN!!!!!

Bersambung ahhh ke jurnal karat#6…

10 playlist Jon 666 Tarawangsa, Burgerkill, Homicide, Bob Marley, Cianjuran, Carcass, Nailbomb, Kyle Minogue, Eddie Brickell, Queen

Movie : The Forth Kind

Books : Fatimah Az-Zahra Sang Putri Rasulullah by Nunik Utami 2009, Sejarah Tuhan by Karen Armstrong 1993,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s