JURNAL KARAT # 109, 24 Februari 2012, DUMB FUKKIN’ BROTHER

Oleh Jon 666

19 Februari, Minggu, DUMB BROTHER

Malam, wanci Isya, itu dipelataran Common Room, Dumb Brother lahir dari galau, isak tangis dan air mata, kepedihan, dan ketidakberdayaan karena cinta.

Sabar brother, jodoh tak akan ke mana yang penting berjuang dan berkarya.

20 Februari, Senin, Dear Audrey dan I’m So Down

Kimung menulis lagu “Dear Audrey” dan “I’m So Down”. Ia juga selesai mengaransemen bagan dan nada dasar dua lagu tersebut. Di bawah lirik di buku catatannya ia menuliskan dua lagu ini diciptakan untuk Dumb Brother.

23 Februari, Kamis,

Briefing pertama Dumb Brother memainkan “Dear Audrey” dan “I’m So Down”. Dalam format gitar-kacapi “I’m So Down” sepertinya bisa mengisi ruang-ruang kacapi galau yang dimainkan Jimbot. Untuk “Dear Audrey”, permainan rebab akan sangat cocok mengisi nuansa lagu.

Lagu pertama Paperback, “Dear Audrey”,  dipersembahkan khusus untuk Jimbot dan Audrey. Ini tentu sangat personal namu kamu tak akan sulit untuk mengerti apa yang coba disampaikan lagu ini. Cinta itu sederhana, dan cara terbaik untuk memaknainya adalah melalui kesederhanaan itu.

“I’m So Down” adalah lagu tentang kekecewaan. Di lagu ini Jimbot akan bernyanyi menjerit ala Black Sabbath dengan penuh kepedihan. Lagu ini gamang. Dimainkan sebagai duet gitar akustik Kimung dan kacapi Jimbot.

Band ini akan sangat menjanjikan jika digarap dengan baik.         

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Janis Joplin, The Doors, Pink Floyd, Black Sabbath, Led Zeppelin, Motley Crue, Skid Row, Faith No More

Books : Al Qur’an al Karim

Movies : Faith No More Reunion

 

JURNAL KARAT # 108, 17 Februari 2012, DISKO PEMBERONTAKAN DAN WE ARE THE WORLD

Oleh Jon 666

11 Februari, Sabtu

Evaluasi Karat bersama Ki Amenk, Wisnu, Hendra, dan Man. Intro kalimat, “Ari sia teh rek kitu-kitu wae hirup teh, hah?” di lagu “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” diganti oleh Avatar. Man merekam langsung Avatar di bilik kantor Kahot Store.

Undangan makan malam BCCF kepada saya dan Man dari Ujungberung Rebels. Undangan ini dihadiri pula Ibu Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia.

 

12 Februari, Minggu, Disko Pemberontakan & We Are the World

Latihan hari ini ramai sekali. Setelah set selesai, sambil menunggu siap, Karat mencoba menjajal lagu baru, “Disko Pemberontakan”. Ini liriknya, simaklah,

Karena kulelah dengan semua sumpah serapah

Wajah-wajah mendua dan kebohongan total

Dan muak dengan kamu yang kerap putus asa

Cuma berkeluh kesah tanpa lakukan apa-apa

Hey! Disko pemberontakan

Terus hajar jalanan

Menggugat dan membakar

Semua yang kau kibarkan

Hey! Disko pemberontakan

Bongkar semua tatanan

Rakayan kebebasan

Gairah kehidupan

Tidakkah kamu lelah dengan paham tak jelas

Menjegal hasrat mengebiri jati diri

Syahwat kuasa dalam naung kawanan

Bersanding mesra dengan rayu “I Want You!”

Hey! Disko pemberontakan

Terus hajar jalanan

Menggugat dan membakar

Semua yang kau kibarkan

Hey! Disko pemberontakan

Bongkar semua tatanan

Rakayan kebebasan

Gairah kehidupan

Amarah bakar dada menderu menggelegar

Narasi sesat tentang intrik dan dosa

Jalin menjalin bantai ruang berpikir

Mencuci otak, berkonspirasi

Hey! Disko pemberontakan

Terus hajar jalanan

Menggugat dan membakar

Semua yang kau kibarkan

Hey! Disko pemberontakan

Bongkar semua tatanan

Rakayan kebebasan

Gairah kehidupan

Yo! Turun ke jalan dengan tangan terkepal

Mari berbaris rapat tegakkan hasrat rakyat

Guratkan darah dalam satu sejarah

Epic berani tentang hasrat dan asa!

Hey! Disko pemberontakan

Terus hajar jalanan

Menggugat dan membakar

Semua yang kau kibarkan

Hey! Disko pemberontakan

Bongkar semua tatanan

Rakayan kebebasan

Gairah kehidupan

Ini lagu yang sangat bergairah. Memiliki aransemen ketukan disko yang kental namun tak akan kehilangan nyawa metal di dalamnya. Ada dialog antara celempung renteng Papay dan kendang Jimbot di tengah lagu ini. Lagu ini saya tulis awal tahun 2011 dan saya selesaikan tanggal 5 Agustus 2011.

Hajar!

Hari ini konsep aransemen “We Are The World” juga selesai dirumuskan. Dua opsi gitar dulu lalu diiringi karinding dan konsep sebaliknya sama-sama keren. Opsi yang cenderung dipilih adalah karinding duluan. Hajar!

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Michael Jackson, Nine Inch Nails, Peterpan, Sarasvati, The S.I.G.I.T, Pancaran Sinar Petromax, Iwan Fals, Iwan Abdurrahman

Books : Al Qur’an al Karim, Anthology The Beatles

Movies : Peral Jam Volume 2, Mancawarna Sarasvati, Potrishead in New York, Nine Inch Nails Live

 

JURNAL KARAT # 107, 10 Februari 2012, REVIEW OVERVIEW OVER VIEW OF ALL!

Oleh Jon 666

4 Februari, Sabtu, REBEL NATION DAY 2

Great days with street family spirit! Rebel Nation sukses digelar! Lebih jauh tentang Rebels Nation bisa dibaca di buku Ujungberung Rebels, Panceg Dina Galur!

6 Februari, Senin, Review 1 Hasil Miksing

Hasil miksing awal Karat oleh Biyan sudah selesai! Hasilnya semakin baik dengan penataan suara yang sudah semakin pas. Ada beberapa koreksi yang harus terus dilakukan dan semua sudah dicatat untuk kembali digarap Biyan.

Usai evaluasi hasil miksing, Man secara pribadi curhat kepada saya membahas tulisan Ucok berjudul “Catatan Terbuka untuk Kawan-kawan Ujungberung Rebels.” Tulisan ini dengan tajam menyoroti fenomena kedekatan Ujungberung Rebels dengan PT Djarum serta wakil wali kota Ayi Vivananda. Namun titik kritik yang paling vokal adalah kedekatan dengan Ayi. Ucok menilai kehadiran Ayi di berbagai panggung-panggung yang digarap Ujungberung Rebels bersama Atap dan PT Djarum telah menciptakan blunder yang terus menerus dan ini sangat disayangkan Ucok. Ia melihat bahwa Ujungberung Rebels adalah satu-satunya komunitas yang terus solid selama 20 tahun lebih dan bahkan mengalamai perkembangan yang pesat. Akan sangat disayangkan jika semua yang sudah dibangun selama 20 tahun ini tiba-tiba seakan tergadai pada satu sosok politik yang sudah digadang-gadang akan maju ke pemilihan umum tahun depan. Dengan gaya bahasa yang khas rapper dengan tradisi battle dan konfron, sebenarnya ini adalah bentuk perhatian Ucok kepada Ujungberung Rebels yang untungnya disikapi secara arif dan bijak oleh semua unsur Ujungberung Rebels.

Akibat pemuatan essay Ucok yang frontal itu, segera beredar kabar di jalanan jika saya dan terutama Man, adalah anak buah Ayi Vivananda dan merupakan broker suara untuk Ayi maju di pemilihan umum tahun 2013 hahaha…

Saya cuma bisa tertawa dan istigfar. Benarkan saya dan Man seburuk itu? Saya kira kini waktunya kita menarik diri dan berintrospeksi.

 

7 Februari, Selasa,

Perbincangan yang sangat bervitamin bersama Gustaff mengenai fenomena politik di Ujungberung Rebels. Dari berbagai sisi, visi, dan dimensi, Gustaff memiliki pandangan yang jauh lebih bijak dan kekeluargaan dari berbagai aksi reaktif yang beredar di jalanan yang berkesan terus memojokkan Ujungberung Rebels pasca terbitnya essay “Catatan Terbuka untuk Kawan-kawan Ujungberung Rebels.”

Namun lalu timbul satu kesadaran : saya kira jika kita membicarakan Ujungberung Rebels, maka kita membiacarakan satu entitas komunitas anak muda metal yang sangat besar di Kota Bandung. Jumlahnya sekitar 40.000, ini adalah 2% dari warga Kota Bandung, jumlah yang sangat signifikan jika kita berniat mengaitkannya dengan kekuasaan dan kondisi sosial politik di Kota Bandung. Kita ambil asumsi 40.000 anak muda ini semuanya anak-anak SMP dan SMA yang belum punya hak pilih hari ini. Tapi kita harus ingat jika dunia berputar dan waktu terus berlalu. Dalam waktu lima atau sepuluh tahun ke depan, ketika usia mereka sudah mencapai delapan belas atau lebih dan mereka sudah memiliki kekuasaan untuk memilih, mereka akan menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan. Plus, selain massa anak muda metal yang berjumlah 40.000 tadi, saya kira akan lahir generasi selanjutnya yang membuat jumlah anak muda metal di Kota Bandung semakin bertambah. Dan jika kita memang secara sadar mengakui jika kita adalah negara yang demokratis, sudah sangat sewajarnya kita mempersiapkan para pemimpin dari kalangan kita sendiri untuk bisa bertarung di ranah politik praktis yang lebih luas. Tak hanya diskusi sumir di internet, angkot, bis kota, atau di warung remang pinggiran jalan, kita harus mulai berani battle di ranah keculasan politik yang sebenarnya—tanpa harus menjadi culas. Minimal, kita harus memiliki terminologi pengelolaan komunitas agar bisa berpikir kritis secara politis agar tak mudah dibodoh-bodohi para politikus dan terjebak di kelicikan gerapan mereka.

Membina adik-adik yang jumlahnya 40.000 atau bahkan bisa lebih nanti lima sampai sepuluh tahun kemudian, tentu saja bukan sebuah perkara yang mudah. Kita perlu banyak belajar karena ini tentu saja ranah yang benar-benar baru bagi kita. Yang paling penting kita lakukan sekarang adalah melepaskan kepraktisan dalam mengeksplorasi citra diri dalam orbit politik. Saya kira untuk waktu sekarang, keberadaan tokoh-tokoh politik di pangung-panggung Ujungberung Rebels harus ditiadakan dan digantikan oleh kehadiran para guru. Satu hal yang pasti harus disadari adalah fakta bahwa para pionir Ujungberung Rebels, secara langsung atau pun tidak langsung adalah para guru. Tingkah laku, kualitas musikal, dan cara berpikir dan berideologi, semuanya dituruti oleh adik-adik. Semua perkataannya pun dituruti. Sampai titik ini, para pionir Ujungberung Rebels kini sampai di tahap sebagai guru, digugu dan ditiru. Dan kewajiban utama sebagai seorang guru adalah belajar terus menerus, senantiasa mengembangkan ilmu dan pengetahuannya.

Untuk itulah kini saatnya para pionir mulai menarik diri dan mencari guru-guru masing-masing yang bisa semakin menggali kedalaman ilmu dan cara berpikir. Akses menuju para cendekiawan, budayawan, dan akademisi yang bisa diajak berpikir kritis oleh para pionir Ujungberung Rebels hari ini sudah terbuka sedemikian lebar. Saya kira waktunya kita mulai meninggalkan berbagai aktivitas intrik politik dan mulai menjalin dialog bersama para cerdik cendekia ini demi hari esok yang lebih baik. Keberadaan para guru di panggung-panggung Ujungberung Rebels juga akan semakin memotivasi adik-adik di ranah yang lebih luas untuk senantiasa belajar dan mengembangkan diri serta kondisi social di lingkungan mereka.

                                                                                                       

8 Februari, Rabu,

Karat latihan bersama Paperback membawakan “Because”, “Kelas Rakyat” dan “We Are The World” untuk panggung konser tunggal Karat.

 

10 Februari, Jumat,

Jadwal evaluasi Karat, namun tak jadi karena saya dan Man datang terlambat. Kembali mengobrol bersama Gustaff—kini bersama Wisnu juga—di kantor Common Room mengenai peta pergerakan Ujungberung Rebels dan Kota Bandung dilihat dari berbagai potensi individu, para aktor dan perannya, yang mereka yang muncul belakangan ini, serta bagaimana mengelola pemetaan ini menjadi sesuatu yang kondusif. Tak ada yang benar-benar menyebalkan, yang ada adalah bagaimana cara kita melihat satu subjek dan perannya dari persepsi dan perspektif yang proporsional dan positif.

 

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, The Doors, Rolling Stones, Jasad, Forgotten, Disinfected, Burgerkill, kompilasi Independen Rebel, Girlzeroth

Books : Al Qur’an al Karim

JURNAL KARAT # 106, 3 Februari 2012, WE ARE THE WORLD OF REBEL NATION

Oleh Jon 666

29 Januari, Minggu, We are the World Fixxx

Paperback latihan untuk tampil di Rebel Nation XXII. Selain enam lagu lagu sendiri, “Play with Me”, “Piquette”, “Jimina”, “Kelas Rakyat”, dan “Klab Dangdut Ciromed”, Paperback juga membawakan empat buah lagu The Beatles, “Because”, “Come Together”, “Helter Skelter”, dan “Revolution”.

3 Februari, Jumat, REBEL NATION DAY 1

Rebel Nation hari pertama digelar. Ini adalah sebuah acara yang keren dan belum pernah digelar sebelumnya oleh komunitas musik mana pun selain Ujungberung Rebels. Walau dihajar oleh hujan deras namun acara terus berjalan. Kelas Karinding—selanjutnya Kekar saja—yang diberi booth pameran menggeber panggung boothnya dengan band-band karinidng dari komunitas karinidng Priangan. Suasana semakin hangat ketika akhirnya Bah Olot sang maestro karinidng tiba menjelang malam.

Terima kasih banyak kepada Mang Boeteng dan juga komunitas karinding Iwoeng Djadi serta Karinidng Militan dan kawan-kawan lain yang membantu kelancaran kawasan Kekar.

You all rule!

Lebih jauh tentang Rebels nation bisa disimak di buku Ujungberung Rebels, Panceg Dina Galur!

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Pink Floyd, Queen, Pantera, Slayer, Jasad, Disinfected, Forgotten, Girlzeroth

Books : Al Qur’an al Karim

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JURNAL KARAT # 105, 27 Januari 2012, FIRST HIT WITH SONY AKBAR AND PAPERBACK

Oleh Jon 666

21 Januari, Sabtu

Karat berkumpul untuk membahas konser tunggal. Dibicarakan mengenai rundown lagu, penentuan tema “Gerbang Kerajaan Serigala”, konsep penampilan Karat di panggung, para artis pendukung : Paperback, Trie Utami, Risa Saraswati, Ambu Ida, dan Sony Akbar; jadwal brifng dan latihan, penetapan imej sunda kiwari, garang, futuristic, dan progresif; penantuan warna-warna penunjang gelaran per lagu, warna hitam, putih, biru, kuning, dan merah ; ikon serigala, dan tampil berdiri di atas panggung.

 

22 Januari, Minggu, Latihan pertama bersama Sony Akbar

Latihan pertama Karat bersama Sony Akbar untuk konser tunggal Karat tanggal 12 Maret 2012. Karat dan Sony Skbar membawakan lagu “Burial Buncelik”. Latihan awal berjalan lancer dan menjanjikan!

 

23 Januari, Senin, Latihan Karat

Karat latihan di Common Room.

 

25 Januari, Rabu, Lathan pertama bersama Paperback

Latihan pertama dengan paperback juga berjalan lancer. Dua lagu yang dimedley “Because” dari The Beatles yang disambung dengan “Kelas Rakyat” akan menjadi penyegar lain di tengah konser!

 

26 Januari, Kamis,

Personil Karat merapat ke konser Krakatau yang digelar di Hotel Panghegar, termasuk Kimung yang sedang kemping di Gunung Kareumbi bersama Axis 4 SMP Cendekia Muda. Kehadiran Karat ini berkaitan dengan rencana konser Karat yang rencananya akan digelar di Hotel Panghegar.

 

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Peterpan, Pink Floyd, Krakatau, The SIGIT, Faith No More, Led Zeppelin, Skidrow, Dedi Stanzah

Books : Al Qur’an al Karim

 

JURNAL KARAT # 104, 20 Januari 2012, HANGIN’ OUT WITH MY BRO, JOHN RESBORN!

Oleh Jon 666

16 Januari, Senin,

Karat latihan di Common Room. Mengundang John Resborn di lagu favorit Mama, “Hampura Ma”. John Resborn melamar Caroline kekasihnya di Common Room malam itu. Uhh how sweet… Congrats Bro!

Sehari sebelumnya John beserta Mama, dan tiga kawannya dari Swedia melakukan konferensi pers berkaitan dengan peluncuran buku Labour of Love and Hate yang mereka tulis dan terbitkan di Indonesia. Saying Lena berhalangan hadir karena ia harus melakukan sesuatu di Swedia.

Sepanjang latihan John merekam Karat di kameranya. Di akhir rekaman ia bilang ke Kimung, “You’re the craziest man I’ve ever met Man, hahaha!”

You too John hahahaha!!!

Informasi mengenai John Resborn dan Lena Resborn bisa dicek di http://www.resbornphotography.com/

Acara konferensi pers John Resborn bisa disimak di bawah,

Selasa, 17 Januari 2012

Soni Bebek di Labour of Love & Hate,

LAUNCHING BUKU “ LABOUR OF LOVE & HATE “ KARYA JOHN AND LENA RESBORN

ROGERS CAFÉ  15 JANUARI 2012

Minggu sore di Kota Bandung menjadi semakin cerah ketika ada sebuah spirit dalam diri seorang John Resborn seorang phtograper asal Swedia. Betapa tidak, hari itu adalah hari dimana bukunya yang berjudul Labour Of Love & Hate yang ditulisnya bersama sang adik Lena Resborn diluncurkan.

Entah ke berapakalinya kami harus mengucapkan kepada Djarum sebagai satu-satunya  sponsor yang selalu mendukung acara kami, tidak hanya sekedar mendukung peregelaran music underground saja melainkan Djarum mendukung semua kegiatan positif yang berkaitan dengan komunitas underground seperti peluncuran buku tersebut.

Peluncuran Buku Labour Of Love & Hate digelar secara sederhana namun syarat akan makna sebuah kebersamaan diantara  komunitas underground dan sang penulis itu sendiri yang dalam hal ini diwakili oleh John Resborn ( Lena Resborn tidak bisa hadir).

Acara dimulai dengan penampilan kesenian music tarawangsa. Sebuah kesenian yang sudah hamper punah ditelan jaman, sebuah kesenian hasil cipta dan karya leluhur bangsa Sunda.  Tarawangsa cukup mampu menghipnotis semua tamu yang hadir, dengan alunan music yang penuh daya magis membuat penonton betah melihatnya. Penampilan tarawangsa ini digawangi oleh Man Jasad dan anak-anak mahasiswa Unpas.

Setelah kesenian Tarawangsa selesai  Soni Bebek sebagai Host peluncuran buku Labour Of Love & Hate muncul membuka acara sekaligus menyapa semua tamu yang hadir termasuk tamu undangan yang sangat istimewa yaitu Wakil Walikota Bandung Ayi Vivananda serta tamu undangan lainnya. Soni Bebek sebagai Host cukup membuat suasana menjadi sangat cair dan sangat akrab, sambil sesekali berbicara dengan bahasa Inggris SOni Bebek mengajak tamu menyaksikan terlebih dahulu video yang berisi synopsis buku Labour Of Love & hate.

Tibalah saatnya John Resborn dipanggil oleh Host untuk memberikan penjelasan tentang apa isi buku tersebut, John Resborn menerangkan isi bukunya dengan bahasa Inggris dan sesekali Soni Bebek ikut membantu John dalam menjelaskan isi bukunya.

Pada intinya Buku tersebut menjelaskan tentang sebuah semangat dan motivasi komunitas underground yang selama ini termarjinalkan oleh kalangan pemerintah, aparat keamanan dan tokoh-tokoh masyarakat dan agama. Menurut buku ini pada dasarnya komunitas underground terbesar di dunia adalah komunitas yang ada di Bandung, mereka (komunitas underground) ternyata mampu menerobos kesulitan tersebut dengan semangat persatuan dan persaudaraan. Mereka bersatu dalam melakukan bisnis ( distro, industry rekaman, musisi, desiner).

Acara bedah buku semakin seru dengan hadirnya beberapa nara sumber yang menemani John Resborn di depan tamu-tamu. Narasumber tersebut adalah sudah tentu Wakil Walikota Bandung Ayi Vivananda, Gustaf dari common room dan yang terahir adalah Man Jasad wakil dari musisi dan komunitas Underground.

Masing-masing memberikan opininya terhadap buku tersebut, menurut Gustaf buku ini sangat menarik karena mampu memberikan nilai-nilai positif bagi komunitas underground. Sama halnya dengan Wakil Walikota yang merasa bahwa komunitas underground juga adalah anak bangsa yang mempunyai kreatifitas dan masa depan dan itu menjadi bagian tanggung jawab pemerintah juga sebagai fasilitator dan regulator. Man Jasad memperkuat bahwa dengan adanya buku ini menjadikan juru kampanye yang menyuarakan hati komunitas underdround ke seluruh dunia.

Disela-sela peluncuran dan bedah buku Labour of Love & Hate ada penampilan dari Beside dan Jasad serta ditutup dengan penampilan kolaborasi antara musisi underground yang hadir saat itu dan penampilan special juga yaitu John Resborn yang ternyata jago main perangkat music drum.

Terima kasih Djarum telah memberikan kontribusi yang luar biasa untuk komunitas underground, bukan sekedar uang dalam bentuk sponsor yang diberikan oleh Djarum, melainkan ikut juga memberikan motivasi dan spirit yang mendalam demi kemajuan music underground.

Terima kasih untuk Soni Bebek yang telah bekerja  secara maksimal dalam event tersebut. Terima kasih juga untuk Man Jasad, Gustaf dan tentunya untuk pejabat yang selalu mendukung kami Bapak Wakil Walikota Bandung Ayi Vivananda.

http://tulisansisoni.blogspot.com/2012/01/soni-bebek-di-labour-of-love-hate.html

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Pink Floyd, Entombed, Dismember, Carcass, Napalm Death, Filthy Christian, Koil, Shanty

Books : Al Qur’an al Karim

JURNAL KARAT # 103, 13 Januari 2012, SHOOT THE SPEED WITH VINCENT MOON

Oleh Jon 666

7 Januari, Sabtu

Vincent Moon datang ke Bandung dan sore ini dia langsung merekam Jimbot, mang Ayi and friends. Syuting dilakukan di batu satangtung  di Babakan Siliwangi, memainkan lagu rajah kacapi suling dan beluk. Ia mengungkapkan ketertarikannya untuk merekam visual Karinding Attack. Sudah satu tahun ini ia mendengar nama Karinding Attack dan direkomendasikan oleh kawan-kawannya untuk direkam, termasuk oleh Arrington de Dionysus, Malaikat dan Singa. Vincent sendiri sudah menceri informasi mengenai Karindig Attack dari internet dan ia sangat antusias merekam band ini.

Mengenai Vincent Moon dan menonton film-film karyanya dapat diklik di http://www.vincentmoon.com.

Berikut adalah profil Vincent Moon, simaklah,

Vincent Moon (real name Mathieu Saura, (Paris, August 25, 1979) [1]) is an independent filmmaker from Paris mainly known for his field work music videos of indie rock related musicians as well as some notable mainstream artists like Tom Jones, R.E.M. or Arcade Fire. Besides making music videos he also makes experimental films and documentaries. His 2009 film, La Faute Des Fleurs about Japanese singer Kazuki Tomokawa won the Sound & Vision Award at the film’s world premiere at CPH:DOX – the Copenhagen International Documentary Festival – in November 2009. He has been living on the road since January 2009, experimenting on nomadic cinema and traveling to film rare musicians around the world. He now works alone or with people he finds on the road, and most of the time without money involved in the projects, trying to redefine the limits of cinema in the 21st century. In 2011 he will begin work on his new collection of recordings, Petites Planetes, dedicated to experimentation between images and sounds, shot around the world.

Overview

Chryde, founder of the website La Blogothèque, wanted to shake things up and find another way to share music. He also wanted to film music differently. Chryde offered Moon to go and film musicians in Paris. The so called Take-Away Shows (or the French title Les Concerts à Emporter) have existed since April 2006. The large amount of clips is the result of a very fast filming process with mostly one take recordings in a way comparable to the Dogma 95 concept. Comparable with the field recordings of Alan Lomax or the Peel Sessions of John Peel, Moon has set up a large collection of unique single take recordings enhanced with artistic filmed video footage. The fast filming process he uses is a form of guerrilla film making. The sessions are usually two or three tracks filmed improvised in an unusual environment and as such they often had a rough and ready, demo-like feel, somewhere between a live performance and a finished music video. These live, unusually staged performances differ from the artifice of traditional music videos in favor of single-take, organic and primarily acoustic sessions.[2]

The first Take-Away Show was with The Spinto Band. Under the name The Take-Away Shows Moon made over 120 music video clip sessions, most of the time two or three songs, among with many bands including Bon Iver, Yeasayer, Liars, R.E.M., Arcade Fire, Tom Jones, The Ex, De Kift, Stephen Malkmus, Scout Niblett, Sigur Rós, Caribou, Vic Chesnutt, Architecture in Helsinki, The National, The Shins, Andrew Bird, Okkervil River, Xiu Xiu, Sufjan Stevens, and David Bazan.

ichael Stipe became aware of the works of Moon and as a fan he asked him to make a film project for his band. The result, made with fellow filmmaker Jeremiah, resulted in various experimental projects, for internet and the big screen (SIX DAYS, THIS IS NOT A SHOW…). The project ninetynights.com was a website dedicated to reveal little by little the new R.E.M. album, in the beginning of 2008. Over a period of 90 days, one shot would appear everyday on the website, at first very mysterious and without music, then little by little showing the band members and the songs. Each video was downloadable in high resolution, to let anybody make its own edit. Moon and Jeremiah’s edit resulted in SIX DAYS, a semi-experimental approach of the music of REM. In another project with R.E.M, for the song “Supernatural Superserious”, Moon and Jeremiah shot a series of 12 clips published on a special website[3] for free download as well as on YouTube. The music video was shot in various locations around New York City. On February 12, 2008 the website supernaturalsuperserious.com was launched, containing ten takes of the video available for download in high definition as well as a YouTube page for users to upload their own versions of the video.[4] Afterwards Moon also directed the music video of the single “Until the Day Is Done”.[5]

Amongst other projects, in 2009, teaming with editor Nathanael Le Scouarnec, Moon directed Burning, a live movie about the Scottish band Mogwai. The result was praised as one of the most unique concert films ever made – a black and white, almost abstract, vision of rock music, with a very brutal ending. A few months later, Moon directed by himself another short film in the same spirit, about HEALTH, a band from Los Angeles.

Besides the Take-Away Shows, he also shot a documentary about the September 2008 NYC All Tomorrow’s Parties Festival.[6] In 2009 Moon, together with his friend Gaspar Claus, curated the third day of the Guitares au Palais-festival. It featured a line-up of indie bands playing on the instruments of Yuri Landman. In 2009 and 2010 Moon keeps filming short music movies with an increasing interest to portrait non-Western traditional artists. He filmed artists in Argentina, Chile, Cambodia, Egypt, Japan, New Zealand, Iceland, and Brasil.

He also successfully ran a crowd-funding campaign with Warp Films and ATP Festival to fund four short films shot at the All Tomorrow’s Parties music festival using the website Kickstarter.com. The project (From ATP) reached, and exceeded, its funding goal on 15 October. The films are currently in post-production. [7]

Visual style

Vincent Moon often adopts a very warm color balance in his videos, with an enhanced contrast, leading to a largely yellow and black color palette.[8] He cites his main influences from experimental cinema mostly, from Brakhage to Tscherkassky, and from ethnographic cinema, Jean Rouch or Robert Gardner.

Other films

    A Skin, a Night, documentary about the National[9]

    Cheap Magic Inside, a film about The Flying Club Cup album by Beirut (band), with Beirut performing each song in different locations around Brooklyn, New York and Paris.

    An Island, music documentary about the Danish band Efterklang.

    Miroir Noir: Neon Bible Archives, a film about the making of the Neon Bible album by Arcade Fire.

    Esperando el Tsunami, a journey through Colombia with Lulacruza.

8 Januari, Minggu,

Karat syuting film dokumentasi pertunjukan bersama Vincent Moon. Syuting dilakukan di kawasan Rumah Pohon, Gunung Kareumbi, tempat di mana Karat melakukan eksperimen rekaman pertama tahun 2010. Rombongan berangkat ke sana disertai kawan-kawan. Ranti, Zia, hana, Atar, Wija, turut serta. Syuting ini juga melibatkan Ma Nyai yang kembali memainkan “Tawasul Cimulu” atas permintaan Vincent Moon.

Syuting selesai jam setengah sepuluh malam dan rombongan segera kembali ke Bandung. Vincent dan kawannya memutuskan untuk menginap di Rumah Pohon.

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Enya, Adele, Peterpan, Pink Floyd, Koil, Joy Division, Einsturzende Neubauten, Nine Inch Nails,

Books : Al Qur’an al Karim