<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>WE&#039;RE DIFFERENT CUZ WE PLAY FREE!</title>
	<atom:link href="http://jurnalkarat.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnalkarat.wordpress.com</link>
	<description>JURNAL KARAT - KARINDING ATTACKS UJUNGBERUNG REBELS</description>
	<lastBuildDate>Sun, 04 Dec 2011 06:24:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jurnalkarat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>WE&#039;RE DIFFERENT CUZ WE PLAY FREE!</title>
		<link>http://jurnalkarat.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jurnalkarat.wordpress.com/osd.xml" title="WE&#039;RE DIFFERENT CUZ WE PLAY FREE!" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jurnalkarat.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>JURNAL KARAT # 96, 25 November 2011, BERKARAT DI BELAKANGKU : RECORDING SESSION : KARTA &amp; KARTO</title>
		<link>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/12/04/jurnal-karat-96-25-november-2011-berkarat-di-belakangku-recording-session-karta-karto/</link>
		<comments>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/12/04/jurnal-karat-96-25-november-2011-berkarat-di-belakangku-recording-session-karta-karto/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 06:24:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalkarat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[KARINDING ATTACK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalkarat.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[JURNAL KARAT # 96, 25 November 2011, BERKARAT DI BELAKANGKU : RECORDING SESSION : KARTA &#38; KARTO JURNAL KARAT # 96, 25 November 2011, BERKARAT DI BELAKANGKU : RECORDING SESSION : KARTA &#38; KARTO Oleh Jon 666 19 November, Sabtu, Karat di Ulang Tahun Sasaka Sore ini Karat tampil di ulang tahun Sasaka di Lembang. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=318&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JURNAL KARAT # 96, 25 November 2011, BERKARAT DI BELAKANGKU : RECORDING SESSION : KARTA &amp; KARTO</strong></p>
<p><strong>JURNAL KARAT # 96, 25 November 2011, BERKARAT DI BELAKANGKU : RECORDING SESSION : KARTA &amp; KARTO</strong></p>
<p><strong>Oleh Jon 666</strong></p>
<p><strong>19 November, Sabtu, Karat di Ulang Tahun Sasaka</strong></p>
<p>Sore ini Karat tampil di ulang tahun Sasaka di Lembang. Betul-betul sebuah acara yang luar biasa dengan uma karinding yang sangat banyak menyambut Karat disana. Rahayu Lembang! Rahayu sasaka! SELAMAT ULANG TAHUN SASAKA SEMOGA RAHAYU SELALU SELAMANYA, amiin!!!</p>
<p><strong>21 November, Senin, Berkarat Di Belakangku Part 3 : Common Room Rehearsal Session with Kang Noey Java Jive</strong></p>
<p>Agenda latihan hari ini adalah sesi sharing aransemen musik Karat untuk “Di Belakangku.” Untuk itu, Karat mengundang produser Peterpan, Kang Noey, untuk hadir dan memberikan wwasan atas aransemen yang telah dibangun. Maka Karat berlatih sedari jam tiga sore. Aransemen yang mengalami kemajuan pesat adalah karinding. Luar biasa sekali kerja sama Ki Amenk dan Mang Wisnu dalam memnagun aransemen karinding untuk lagu ini. Duet penggunaan karinding tabeuh (kita panggil saja si karta) dengan karinding towel (kita panggil saja si karto) benar-benar berhasil menampilkan dialog yang apik dengan pola yang sama sekali aneh, unik, tak terduga, dan tentunya keren banget! Belum ada aransemen karta &amp; karto seperti ini, dan untuk itu Karat dan Ki Amenk, secara pribadi, sangat berterima kasih kepada Asep Nata yang memperkenalkan karto kepada Karat di waktu yang sangat tepat. Aransemen dialog karta &amp; karto “Di Belakangku” disusun dalam pola yang sederhana dan ditempatkan di beberapa tempat yang terpilih dianggap bisa menonjolkan suara karinding sekaligus mengejar nuansa emosi lagu. Salut lagi untuk Ki Amenk vs. Wisnu yang telah megaransemen dialog keren ini!</p>
<p>Sementara itu, di sesi celempung dan suling, pirigan dan pola jugs sebenarnya sudah terbentuk, namun masih gamang akan dibawa ke mana suasana lagu dalam amsing-masing <em>waditra</em>. Namun demikian, aransemen aman sesi tiup dan pukul Karat sudah lumayan mantap saat itu. Asep Nata yang hadir juga di sesi latihan ini memberikan masukan kepada Hendra untuk lebih mengeksplorasi tepakan dan gong celempung yang menjadi khas celempung itu sendiri. Kimung juga meinta Hendra lebih mengeksplorasi tabuhan senar celempung karena ia akan bermain di sesi gong celempung.</p>
<p>Jam limasore, Kang Noey datang di Common Room. Segera ia bergabung di sesi latihn ini. Kita semua saling berbincang dalam satu lingkaran, saling mendengar apa pandangan tiap individu mengenai lagu yang digarap. Karat sendiri mengutarakan memiliki dua opsi aransemen, yang pertama mengisi nuansa lagu, dan lainnya memainkan aransemen Peterpan dan mangubah beberapa instrument yang dimainkan Peterpan di demo dengan <em>waditra-waditra</em> Karat. Kang Noey sendiri membebaskan Karat membangun “Di Belakangku” sesuai dengan kehendak Karat. Namun ia memita agar Karat merekam aransmennya agar bisa didengarkan bersama-sama Ariel dan memeinta pandangannya. Ariel memang berperan penting dalam proses kolaborasi ini dan ia harus terus dikabari mengenai kemajuan proyek ini.</p>
<p>Maka jadwal rekaman pun ditentukan. Karat sepakat merekam demo Karat-Peterpan “Di Belakangku” esoknya, hari Selasa, di studio Common Room. Untuk itu Karat memnita bantuan Gigi – Indra merekam untuk demo. Gigi menyediakan alat perekam portablenya untuk digunakan Karat. indra menyanggupi bertindak sebagai engineer.</p>
<p><em>Hajar!</em></p>
<p><strong>22 November, Selasa, Berkarat Di Belakangku Part 4 : Common Room Recording Session</strong></p>
<p>Rekaman hari ini dijadwalkan mulai jam sebelas siang, namun baru mulai jam setengah satu. Papay yang mendapat giliran pertama take celempung renteng karena ia harus segera pergi menemui ibu dan calon mertuanya. Papay memang sedang deg-degan deg-degannya karena dua mingguan lagi ia menikah dan segalanya harus terus dipersiapkan dari sekarang. Semangat Mang Papay!!! Papay dengan cepat menyelesaikan bagian celempungnya. Aransemen celempung papay terbilang irit. Ia hanya mengikuti pola bedug taiko dan membangun permainan celempung renteng hanya di bagian tengah dan akhir saja. Kimung menilai Papay masih kurang memberikan nuansa permainan celempung rentengnya untuk mengisi lagu ini. Papay berjanji akan kembali malamnya dan mengisi pola yang terasa kurang.</p>
<p>Bagian Hendra kemudian yang mengisi lagu. Ia memainkan aransemen tepak dan gong serta kombinasi senar celempungnya. Hendra menyelesaikan rekamannya dengan cepat dan giliran Kimung kini yang merekam celempungnya. Berbeda dengan Hendra, Kimung mengisi sesi ini dengan latar <em>blocking</em> gong celempung besarnya, Molly. Kimung juga dengan cepat bisa menyelesaikan sesi rekamnnya. Namun demikian, ketika direview, hasilnya ternyata kurang maksimal. Pola celempung Kimung dan hendra cenderung menumpuk, banyak jatuhnya tabuhan di saat yang sama. Biasanya aransemen celempungan Kimung&amp; Hendra selalu jatuh di tempat yang berbeda sehingga sangat rapat dan saling mengisi. Untuk itu Kimung meminta Hendra mengaransemen ulang pola celempungnya agar tidak menumpuk di wilayah latar yang dibangun celempung indung. Hendra said, <em>okay</em>.</p>
<p>Giliran karinding kini yang direkam. Ki Amenk dan Jawis masing-masing menyelesaikan sesi mereka dengan cepat. Salut kembali disampaikan kepada mereka yang telah begitu solid membangun aransmenen ini. Suling juga direkam dengan cepat. Jimbot memiliki banyak sekali pola permainan perpaduan antara Sunda danPadang, antara suling kecil, suling besar, saluang, dan serunai. Ia sempat merekam beberapa komposisi yang kemudian dipilih dua versi permainan alat tiup. Yuki juga mengisi saluang untuk melatari permaianan suling Sunda Jimbot.</p>
<p>Demo segera digarap oleh Indra di rumahnya agar besok pagi bisa selesai dan dibawa ke Ariel untuk didiskusikan. Rekaman Karat sendiri dijadwalkan hari Jumat shift 1 dan 2 di Studio Masterplan, Golf Timur, Ujungberung, dengan operator Uki dan Byan. <em>Hajar terus!</em></p>
<p><strong>23 November, Rabu, Berkarat Di Belakangku Part 5 : Ariel dan “Bintang di Surga”, Karat di Maja House</strong></p>
<p>Siang itu, Ariel tampak cerah. Dengan bersemangat ia menyambut Karat yang diwakili oleh Kimung, Wisnu, Man, dan Ardi dari Atap Promotion. Berkaos kerah biru pudar dan celama jins ia mempersilahkan Karat untuk duduk di sekitar ‘meja kerjanya.’ Dengan bersemangat pula ia menyapa kabar dan kemajuan penggarapan aransemen Karat “Di Belakangku.” Ia juga terutama menyapa Wisnu yang ternyata adalah tema sekelasnya dulu di SMA 23Bandung. Segera saja terjadi perbincangan yang hangat dan akhirnya semua mendengarkan demo yang direkam Karat sehari sebelumnya. Demo ini sangat sederhana tentu saja, namun cukup untuk sekedar pegangan atau bahan evaluasi perancangan tata aransemen yang lebih solid.</p>
<p>Dua sampai tiga kali Ariel memutar ulang demo itu dan ia menandai beberapa hal. Ia sangat tertarik kepada aransemen karinding Ki Amenk dan Wisnu dan ingin menonjokan aransemen karinding ini lebih banyak di lagu. Ia menilai aransemen karinding di lagu ini terlalu irit dan ia ingin karinding juga dimainkan di bagian-bagian awal lagu. Karinding memang hanya ditata di intro, tengah, dan bagian akhir lagu saja. Wisnu hadir mengungkapkan kepada Ariel bahwa aransemen awal memang memainkan karinding terus sepanjang lagu, namun ia dan Ki Amenk khawatir karindingnya terlalu ramai. Ariel kemudian memutar beberapa bagian dan lagu dan mengungkapkan tata permainan karinding di bagian-bagain itu bisa sedikit-sedikit saja tapi bisa memberikan efek khas karinding yang memang unik kepada pendengarnya. Ariel juga menilai bahwa permainan suling, saluang, dan serunai di lagu ini masih terkesan ragu-ragu dan meminta agar aransemennya digarap lebih lepas dan bebas.</p>
<p>Selanjutnya Ariel juga menilai jika lagu yang lebih pas untuk digarap Karat menurutnya adalah “Bintang di Surga.” Ia menilai aransemen “Bintang di Surga” yang atraktif sangat cocok dengan Karat yang memang bermain di aura itu. “Bintang di Surga” juga menyediakan ruang-ruang yang luas bagi eksplorasi permaianan Karat, baik di sesi alat tiup, alat tabuh, mau pun karinding. Ia terlihat sangat antusias ketika Karat juga ternyata memiliki perasaan yang sama. Segera saja mereka memutar “Bintang di Surga” sambil memainkan karinding mengisi lagu ini. Dengan cepat, ternyata aransemen dasar karinding bisa diselesaikan oleh Karat saat itu juga. Ariel lalu memberikan demo “Bintang di Surga” kepada Karat dan meminta Karat,jika tidak keberatan, untuk membuat aransemen juga di lagu itu. Karat tentu saja menyambut baik permintaan Ariel. Di tengah perbincangan, datang Kang Ridwan kamil—atau Mang Emil—yang juga datang menjenguk Ariel. Suasana akrab semakin trasa mengingat Mang Emil tentu saja bukan orang lain bagi Karat. Sayang, jam setengah tiga Kimung harus kembali ke sekolahnya untuk melatih anak-anak Axis SMP Cendekia Muda bermain karinding untuk tampil esok harinya di pembukaan Green Fest 2011.</p>
<p>Tak lama, Uki dan Capung Java Jive datang. Ariel sgera mengutarakan keinginannya kepada Uki agar lagu yang digarat Karat dirobah menjadi “Bintang di Surga.” Namun Uki mengungkapkan jika lagu ini sudah diproses dan perkusi sudah jalan merekam bagian mereka di “Bintang di Surga.” Akhirnya Ariel sepakat agar Karat mencoba untuk mengisi “Di Belakangku” dulu.</p>
<p>Karat sendiri memang lebih cenderung memilih “Bintang di Surga” karena memang lebih cocok dengan karakter Karat. Namun, Karat menilai materi “Di Belakangku” tak kalah kuat. Dengan komposisi yang pas, lagu ini juga akan memiliki daya dobrak yang sama dengan “Bintang di Surga.” Namun, Karat juga berjanji kepada Ariel untuk terus mencoba menggarap “Bintang di Surga.”</p>
<p><strong>24 November, Kamis, Welcome Cekas!</strong></p>
<p>Papay tampil bersama Cekas, di pembukaan Green Fest 2011. Cekas adalah band binaan Kimugn karena terdiri dari anak-anak kelas Axis SMP Cendekia Muda di mana Kimung dan rekannnya Fifi menjadi wali kelas. Awalnya Papay yang  membawa celempung dan karinding untuk proyek portofolio SMP Cendekia Muda. Waditra-waditra ini segera dieksplorasi anak-anak SMP Cendekia  Muda dan entah bagaimana, gairah bermain karinding tiba-tiba membuncah, terutama di anak-anak Axis. Mereka sepakat bergabung dalam sebuah kelompok musik karinding dan tampil di acara Minggon Sunda Cendekia Muda hari umat nanti. Tiba-tiba, Pak Yogi sang kepala sekolah mengabari anak-anak ini kemungkinan jika mereka bisa tampil membuka acara Green Fest di Monumen PerjuanganBandung. Anak-anak ini langsung saja mengiyakan.</p>
<p>Dan kini di sanalah Papay bermaian celempung renteng bersama mereka : Rifky dan Adi pada celempung, Fajar dan Wali pada karinding, Hani pada dogdog, Imel pada kecrek dan keparak, Jung pada gitar, serta Sultahn dan Salma yang bernyanyi. Tampil di hadapan sekitar dua ratusan audiens siang itu, Cekas berhasil membuka pergelaran Green Fes dengan lagu “Dina Amparan Sajadah” dan “Bubuy Bulan.”</p>
<p><strong>25 November, Jumat, Berkarat Di Belakangku Part 4 : Master Plan Recording Session</strong></p>
<p>Hari ini Karat dijadwalkan rekaman bagian-bagian lagu “Di Belakangku” di Studio Masterplan, Ujungberung. Studio ini sedikit banyak memiliki keterkaitan dengan beberapa pionir Ujungberung Rebels, terutama di band Forgotten. Sekitar tahun 2005 atau 2006 hingga 2008, Addy Gembel bekerja untuk Masterplan dan hingga kini Toteng tetap menjadi engineer tetap di Masterplan, khusus untuk menggarap musik-musik metal.</p>
<p>Dari jadwal jam 10 pagi, rekaman akhirnya dimulai jam satu setelah shalat Jumat. Untuk sesi rekaman kali ini Uki dan Byan akan ada di belakang meja mikser dan memandu Karat dalam mengisi lagu. Tiga mikrofon yang digunakan adalah satu buah Neumann Type U87A dan dua buah kondensor AKG C451.</p>
<p>Rekaman dimulai oleh Papay mengisi renteng sawelasnya, pas jam satu siang. Konsep yang disusun Papay sangat sederhana. Ia mengikuti track taiko—bedug Jepang—di lagu ini dan di beberapa bagian mengisi alunan lagu. Konsep ini lumayan berwarna dibandingkan konsep sebelumnya yang hanya mengikuti taiko saja. Bagian yang cukup menonjol adalah di sesi tengah lagu ketika nuansa berubah ke warna <em>Arabic</em>. Papay dengan cepat menyelesaikan rekamannya.</p>
<p>Jam dua siang, giliran Kimung yang merekam celempung indung. Konsepnya, ia hanya memainkan gong indung untuk melatari permainan Papay dan Hendra. jadi Kimung hanya menabuh gongnya mengikuti alur snare dram yang sudah diaransemen Peterpan. Ia pun dengan cepat menyelesaikan sesi rekamannya.</p>
<p>Giliran Hendra kemudian yang mengisi sesi celempung anak. Di sesi rekaman sebelumnya di Common Room bersama Indra, konsep celempung anak Hendra menumpuk dengan pola latar Kimung. kimung sudah meminta Hendra untuk mengaransemen ulang <em>pirigan</em> celempungnya dan memang di sesi rekaman kali ini ia sudah merubah beberapa bagian agar tidak menumpuk dengan gong Kimung.hendra mengisi seluruh lagu utuh denganpirigan-pirigan yang atraktif, walau tetap saja ada yang mengganjal. Pola menumpuk di beberapbagian masih kentara, walau tak kental seperti sesi sebelumnya. Hendra merekam celempung anak dengan cepat, hanya dua puluh menit saja, mulai jam tiga.</p>
<p>Seharusnya yang masuk setelah ini adalah karinding, namun karena JImbot janjian dengan Nick dan Bill di STSI, maka ia meminta lebih dulu masuk studio. Maka jam setengah empat sore, ia mulai merekam sulingnya.Adatiga aransemen suling yang akan diisi Jimbot. Yang pertama adalah aransemen suling besar atau saluang, yang ke dua suling Sunda kecil, dan yang ke tiga serunai. Di sesi pertama ini Jimbot mengisi saluang terlebih dulu. Sesi pertama ini berjalan dengan mulus. Menginjak ke sesi aransemen ke dua—suling Sunda kecil—Jimbot mulai mengalami kesulitan. Akhirnya jamlimasore, Jimbot memutuskan untuk rehat.</p>
<p>Okid segera masuk studio merekam gong tiup. Ia tak banyak mengalami kesulitan karena sudah sangat siap dengan pola gong tiupnya. Beberapa bagian memang dirobah , terutama di bagian <em>sampling choir</em>. Awalnya Okid bermain melatari <em>choir</em>, atas permintaan Uki ia merobahnya jadi ikut serta bersama hentakan <em>choir</em>. Lebih mantap terasa memang! Hanya setengah jam Okid merekam sesi gong tiup “Di Belakangku.”.</p>
<p>Giliran karinding kini yang masuk bilik rekaman. Sejak di war, Ariel terus menerus berkata jika ia ngin menonjolkan aransemen karinding di lagu ini. Ia menilai aransemen karindng yang telah dibuat masih kurang dan untuk itu Wisnu – Ki Amenk sudah menyusun aransemen baru yang lebih mantap. Ki Amenk yang pertama masuk bilik didampingi Wisnu, jam 18.55. Ia memainkan karinding towel Asep Nata—atau karto—dan memainkannya dengan sangat baik. Beberapa bagain yang kosong sudah ia isi dengan aransemen baru yang melatari nada-nada “Di Belakangku.” Aransemen Ki Amenk ini sangat aneh dan belum pernah ada pola permainan karinding seperti ini sebelumnya. Namun demikian, karena disusun bersama-sama, aransemen Ki Amenk penuh dengan toleransi, dalam arti ia memberikan banyak ruang untuk berdialog dengan permainan karinding Wisnu.</p>
<p>Di sisi lain, Wisnu menggunakan karinding tabeuh—atau karta—Giri Kerenceng juga mengisi bagian-bagian yang disusun Ki Amenk dengan sangat apik. Berbagai teknik dipamerkan di sini dalam porsi yang pas—tidak terlalu banyak, juga tak terlalu sedikit. Dari teknik <em>wahwah</em> hingga teknik <em>depth</em> disusun Wisnu dengan apik bersandingan dengan <em>pirigan</em> karinding yang biasa dimainkan. Sungguh ini adalah aransemen duel karinding yang sangat keren! Ia mulai merekam jam 19.30 dan selesai jam 20.45.</p>
<p>Setelah karinding selesai direkam, giliran Jimbot kini yang kembali masuk merekam suling dan serunainya. Karena susah sekali mendapatkan pola yang baik, Jimbot akhirnya meminta kepada Uki agar ia diizinkan untuk  melakukan semacam jam session silung saja beberapa kali dan nanti tinggal dipilih, dipilah, yang paling baik dimasukkan ke dalam rekaman. Uki mempersilahkan Jimbot main sebebas-bebasnya. Empat kali take, Jimbot akhirnya merampungkan permainan sulingnya dan segera beralih ke serunai. Bagian serunai relatif sedikit. Toleat Padang ini hanya disimpan di <em>verse</em> vokal ke tiga dan di bagian coda <em>Arabic</em>. Jam setengah sepuluh lewat lima Jimbot akhirnya usai merekam sesi alat tiupnya.</p>
<p>Adabeberapa hal yang belum selesai di sesi ini. Yang pertama adalah Yuki yang belum mengisi saluang—padahal <em>wadita</em> ini yang awalnya paling Ariel inginkan. Yuki sendiri sudah menyusun pola saluang, atau menggantikan pola suling Sunda besar yang sudah dimainakan Jimbot di awal sesi rekaman. Yang ke dua adalah sesi rekaman karinding Man belum dilakukan. Man sore tadi memang pamit berangkat ke Common Room untuk rapat persiapan Bandung Death Fest V.</p>
<p>Byan sendiri begitu usai merekam waditra-waditra Karat, segera membereskan dan menyeimbangkan hasil rekamannya dan langsung di<em>bounce</em> ke format wav agar bisa didengarkan bersama-sama. Ia pribadi menilai <em>waditra-waditra</em> yang dimainkan sudah cukup penuh, namun jika masih ada beberapa tambahan atau perubahan, sesi rekaman selanjutnya akan dilakukan hari Rabu, 30 November 2011.</p>
<p>Hmmm semoga semua lancar! <em>Hajar!</em></p>
<p><strong>10 Playlist Jon 666 : </strong>Tarawangsa, The Beatles, Peterpan</p>
<p><strong>Books : </strong>Al Qur’an al Karim, Transporter</p>
<p><strong>Movies : </strong>The Adventure of Tintin</p>
<p><strong>Quotes :</strong></p>
<p>“Sungguh, Kami telah mendatangkan Kitab (Al Qur’an) kepada mereka, yang kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagiorang-orang yang beriman. Tidakkah mereka menanti-nanti bukti kebenaran (Al Qur’an) itu. pada  hari bukti kebenaran itu tiba, orang-orang yang sebelum itu mengabaikannya berkata, “Sungguh rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran. Maka, adakah pemberi syafaat bagi kami yang akan memberikan pertolongan kepada kami atau agar kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami lakukan dahulu?” Mereka sebenarnya  telah merugikan dirinya sendiri dan  apa yang telah mereka ada-adakan dahulu telah hilang lenyap dari mereka. Sungguh Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siajng yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunfuk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha suci Allah Tuhan seluruh alam.” (Q.S Al A’raf, 7 : 52 – 54)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalkarat.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalkarat.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalkarat.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalkarat.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalkarat.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalkarat.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalkarat.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalkarat.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalkarat.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalkarat.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalkarat.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalkarat.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalkarat.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalkarat.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=318&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/12/04/jurnal-karat-96-25-november-2011-berkarat-di-belakangku-recording-session-karta-karto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/55a390890f4f949ec65a02a038a43bb4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalkarat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JURNAL KARAT # 95, 18 November 2011, BERKARAT DI BELAKANGKU</title>
		<link>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/26/jurnal-karat-95-18-november-2011-berkarat-di-belakangku/</link>
		<comments>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/26/jurnal-karat-95-18-november-2011-berkarat-di-belakangku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 04:07:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalkarat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[KARINDING ATTACK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalkarat.wordpress.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[JURNAL KARAT # 95, 18 November 2011, BERKARAT DI BELAKANGKU Oleh Jon 666 12 November, Sabtu, Okid dan Yuki di Panggung Sarasvati Sabtu ini Okid dan Yuki bergabung tampil bersama Sarasvati di Dago Tea House. 14 November, Senin, Berkarat Di Belakangku Part 1 Ini hari pertama perubahan jadwal latihan Karat ke hari Senin dan Rabu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=313&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JURNAL KARAT # 95, 18 November 2011, BERKARAT DI BELAKANGKU</strong></p>
<p><strong>Oleh Jon 666</strong></p>
<p><strong>12 November, Sabtu, Okid dan Yuki di Panggung Sarasvati</strong></p>
<p>Sabtu ini Okid dan Yuki bergabung tampil bersama Sarasvati di Dago Tea House.</p>
<p><strong>14 November, Senin, Berkarat Di Belakangku Part 1</strong></p>
<p>Ini hari pertama perubahan jadwal latihan Karat ke hari Senin dan Rabu. Agenda hari ini adalah penggarapan lagu Peterpan. Sebelamnya, pagi tadi Viki sudah mengabari jika Kang Noey, produser Peterpan akhirnya memutuskan jika lagu yang akan diisi oleh Karat adalah “Di Belakangku.” Kang Noey sendiri berjanji akan segera mengirimkan materi lagu kepada Karat melalui Viki. Sementara lagu belum sampai, Karat memutuskan untuk berlatih “Di Belakangku” dari versi asli lagu ini.</p>
<p>Lagu ini sangat bagus, seperti lazimnya lagu-lagu Peterpan. “Di Belakangku” ada di album <em>soundtrack</em> film <em>Alexandria</em> dan ini adalah lagu yang sangat kuat. Di lagu ini kita bisa mendengar totalitas teriakan Ariel. Musiknya sendiri sangat emosional dengan aransemen melodi yang indah. Beberapa kali mendengarkan, Karat masih bingung bagaimana menyusun aransemen yang baik untuk lagu ini. Hingga akhirnya Viki datang dengan membawa musik instrumental “Di Belakangku”, Karat masih juga bingungmembangun aransemen yang pas untuk lagu ini.</p>
<p>Di tengah latihan, Trah tiba kembali di Common Room setelah penampilan mereka di Singapura. Sambil beristirahat, Jimbot mencoba mengulik melodi “Di Belakangku” dengan permainan rebab. Tak kalah dengan instrument yang ada di lagu, aransemen rebab justru membuat nuansa lagu jadi semakin tajam dan jauh.</p>
<p>Di tengah latihan, datang Asep Nata membawa karinding towelnya yang segera dirubung oleh Karat. Dengan sabar Kang Asep menceritakan dan mengajarkan berbagai hal mengenai Karto—begitulah Karinding Towel kita singkat—dan kemungkinan-keungkinan <em>waditra</em> ini dimainkan bersama alat music lain. Karat terlihat sangat antusias belajar Karto, terutama Ki Amenk. Ia sangat bersemnagat karena dengan Karto banyak sekali teknik yang bisa dieksplorasi sehingga bisa meniru irama <em>riff-riff</em> gitar. “Carcass ge bisa dipaenkeun euy ku ieu mah hahaha,” ujar Ki Amenk sambil memainkan penggalan intro lagu “Necroticism Disgusting the Insalubrious.”</p>
<p>Hingga hari itu masih belum ada aransemen yang solid berkaitan dengan lagu “Di Belakangku.” Semoga hari Rabu aransemennya bisa terbentuk.</p>
<p><strong>15 November, Selasa, Paperback Session &amp; Kelas Celempung Pertama Sasa</strong></p>
<p>Paperback secara bergerilya terus menggarap “Jimina.” Great psychedelic song! Sore ini juga jadi hari pertama kelas celempung Sasa di rumah Kimung.</p>
<p><strong>16 November, Rabu, Double Talkin Jive : Berkarat Di Belakangku Part 2</strong></p>
<p>Hari ke dua perubahan latihan Karat. Kali ini latihan dimulai jam dua siang sampai jam enam sore karena ruang tengah Common Room akan dipakai latihan Trah, sementara ruang-ruang yang lain juga dipakai aktivitas lain seperti latihan Paperback di ruang depan, Kelas Pelog di ruang pameran, dan latihan Laras di Studio.</p>
<p>Di kesempatan latihan kali ini, aransemen “Di Belakangku” sudah lumayan terbentuk. Diawali dari susunan aransemen suling Jimbot yang menggunakan dua suling Sunda dan Padang serta saluang dan serunai, Karat yang lain bagai terpacu. Pelan namun pasti Okid dan Kimung, tiga orang yang pertama kali datang muali menemukan betuknya. Dari seberang sana, Wisnu SMS jika ia dan Ki Amenk sedang terus mengulik <em>pirigan-pirigan</em> karinding untk “Di Belakangku.” Ketika akhirnya para pemain karinding dan Papay datang, aransemen semakin lama semakin baik. Karat menyudahi latihan sore itu karena jadwal bergulir ke latihan Trah.</p>
<p>Berikut adalah aransemen Karat yang dituliskan oleh Kimung, OKid, dan Jimbot berdasarkan musik dasar yang diberi Peterpan. Konsepnya berjudul “Berkarat Di Belakangku”, simak,</p>
<p><em>1 bar intro, gong tiup, gong celempung, suling sunda</em></p>
<p><em>1 bar verse 1 guitar, Karat All Blend</em></p>
<p><em>1 bar berse 2 violin, Karat All Blend</em></p>
<p><em>Bridge, saluang</em></p>
<p><em>1 bar refrain, Karat All Blend</em></p>
<p><em>1 bar verse 3, violin, Karat All Blend</em></p>
<p><em>1 bar verse 4, violin, Karat All Blend</em></p>
<p><em>Bridge, Karat All Blend</em></p>
<p><em>1 bar refrain, Karat All Blend</em></p>
<p><em>Coda Middle East &amp; Europe Style : serunai, Karat All Blend</em></p>
<p><em>1 bar refrain, saluang</em></p>
<p><em>1 bar refrain ending, serunai, suling padang, Karat All Blend</em></p>
<p><strong>18 November, Jumat, Paperback on Biz Music Talkshow</strong></p>
<p>Hari ini Paperbak tampildi hadapan sekitar 30 aktivis music independen Bandung yang saling share mengenai bisnis musik. Penampilan yang tidak maksimal dari Paperback. Banyak yang harus diperbaiki ckckck…</p>
<p><strong>10 Playlist Jon 666 : </strong>Tarawangsa, The Beatles, The Doors, The Who, Janis Joplin, Peterpan,Keenan Nasution, Chrisye, Carcass, Entombed</p>
<p><strong>Books : </strong>Al Qur’an al Karim,</p>
<p><strong>Movies : </strong>Contagion</p>
<p><strong>Quotes :</strong></p>
<p>“<em>Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) ia berkata, “Inilah tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak member petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian ketika ia melihat matahari terbit dia berkata, “Inilah tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan</em>.” (Q.S Al-An’am, 6 : 76-78)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalkarat.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalkarat.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalkarat.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalkarat.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalkarat.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalkarat.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalkarat.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalkarat.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalkarat.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalkarat.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalkarat.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalkarat.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalkarat.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalkarat.wordpress.com/313/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=313&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/26/jurnal-karat-95-18-november-2011-berkarat-di-belakangku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/55a390890f4f949ec65a02a038a43bb4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalkarat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JURNAL KARAT # 94, 11.11.11, HARI INI SEHARUSNYA KONSER TUNGGAL KARAT DIGELAR : MIND GAME</title>
		<link>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/26/jurnal-karat-94-11-11-11-hari-ini-seharusnya-konser-tunggal-karat-digelar-mind-game/</link>
		<comments>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/26/jurnal-karat-94-11-11-11-hari-ini-seharusnya-konser-tunggal-karat-digelar-mind-game/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 04:05:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalkarat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[KARINDING ATTACK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalkarat.wordpress.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[JURNAL KARAT # 94, 11.11.11, HARI INI SEHARUSNYA KONSER TUNGGAL KARAT DIGELAR : MIND GAME Oleh Jon 666 5 November, Sabtu, Mind Games Sabtu sore, Karat, diwakili Kimung, Wisnu, dan Yuki, menemui Kang Noey sebagai produser Peterpan untuk membicarakan berbagai hal teknis yang berkaitan dengan rencana musik Karat di salah satu lagu di album Peterpan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=311&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JURNAL KARAT # 94, 11.11.11, HARI INI SEHARUSNYA KONSER TUNGGAL KARAT DIGELAR : MIND GAME</strong></p>
<p><strong>Oleh Jon 666</strong></p>
<p><strong>5 November, Sabtu, <em>Mind Games</em></strong></p>
<p>Sabtu sore, Karat, diwakili Kimung, Wisnu, dan Yuki, menemui Kang Noey sebagai produser Peterpan untuk membicarakan berbagai hal teknis yang berkaitan dengan rencana musik Karat di salah satu lagu di album Peterpan. Yang pertama adalah perkenalan Karat dan musik karinding karena Kang Noey sendiri ternyata tak tahu apa itu karinding. namun degan cepat Kang Noey bisa menangkap pola dan kecenderungan permainan karinding serta beberapa poin penting dalam musikalitas karinding. Kang Noey juga kembali menyampaikan bahwa lagu yang mungkin akan diisi oleh Karat adalah “BIntang Di Surga” atau “Di Belakangku” sesuai dengan keinginan Ariel. Pembicaraan kemudian bergulir ke masalah bajet. Namun karena Viki terlambat datang, maka kang Noey permisi ke dalam studio dulu untuk menggarap rekaman dram Reza untuk album terbaru ini.</p>
<p>Sambil menunggu Viki, Wisnu bercerita banyak tentang gejolak di Karat saat itu. ada kecemasan menyelip diam-diam di para personil Karat akibat <strong>PERASAAN</strong> perhatian berlebih publik kepada Karat yang dikhawatirkan semakin menggeserkan Karat dari tujuan murninya bermusik : hasrat. Penokohan publik yang begitu tiba-tiba kepada Karat memang disikapi berbeda-beda dan sebenarnya ini sah-sah saja jika memang bisa membangun kesadaran kualitas musikalitas dan bakti Karat kepada musik. Namun demikian, beberapa personil Karat menilai <em>over expossure</em> Karat—minimal untuk saat ini—berpotensi membahayakan jika tidak disikapi sama. Potensi orientasi Karat yang menjadi melenceng ke arena patronasi, penokohan,  selebritas, atau sosialita, atau yang jauh lebih kotor : uang dan komersialitas sedikit demi sedikit bisa menjadi racun dan sedikit demi sedikit akan menjelma menjadi kanker yang mematikan hasrat Karat pelan-pelan.</p>
<p>Untuk itu, Wisnu menilai harus ada komitmen yang sama dari pihak Karat mengenai kecemasan dari para personil ini. Beragam hal yang terlanjur dijadikan kebijakan Karat akan dievaluasi, mulai dari masalah keuangan, <em>riders</em>, juga masalah terminologi, ruang, dan waktu yang layak bagi para personil Karat jika akan diekspos atau mengekspos diri di publik.</p>
<p>Kimung yang selama ini melepaskan perhatiannya dari Karat dan masih konsentrasi  ke buku, tentu sangat terhenyak dengan penuturan Wisnu. Ia memang melihat benih-benih ini sudah ada dan sudah sering dibicarakan para personil Karat jauh sebelum hari ini, namun ia kira hal ini harus disikapi sesegera mungkin. Kimung menilai Karat harus bertemu dan saling mengungkapkan unek-unek yang selama ini tertahankan—demi kesehatan Karat sendiri. Di tengah curhat Viki tiba. Darinya, Kimung juga akhirnya menggali informasi mengenai manajerial dan <em>rider</em> teknis Karat.</p>
<p>Evaluasi sendiri akhirnya dilakukan saat itu juga. Berkaitan dengan rencana kerja sama dengan Peterpan, man memang sudah menentukan bajetnya sendiri. Namun bajet yang ia buat jauh dari logika dan akal sehat. Karenanya, Wisnu melihat ini harus segera dibenarkan. Ia meminta Kimung untuk bertanya kepada kawan-kawan yang selama ini berhubungan dengan musisi industri besar mengenai sistem dan teknis kerja sama yang sudah dilakukan. Pengajuan jumlah yang sangat besar tentu akan mempermalukan diri sendiri. Kimung segera menghubungi Eben, Syauqi, dan Ucok. Namun ketiganya tak diangkat. Kimung lalu menelpon Ketu yang memberikan satu harga yang ternyata jauh di bawah bajet yang ditentukan Man. Namun, Ketu berjanji akan mencari tahu kepada para musisi yang pernah melakukan hal yang sama dan segera mengabari Kimung. Kimung kemudian mengontak Otong yang lumayan memberikan wawasan mengenai kerja sama dengan artis industri besar.</p>
<p>Setelah rapat kilat di halaman depan Studio Masterplan, Kimung, Wisnu, Yuki, dan Viki kembali masuk menemui Kang Noey untuk melanjutkan pembicaraan masalah bajet. Pembicaraan berlangsung hangat. Kang Noey juga memberikan wawasan kepada karat mengenai kebiasaan kerja sama antara artis dengan musisi-musisi yang mengisi aransemen musik. Ada musisi yang mengonsep musiknya di studio dan bisa berubah kapan pun juga,. Namun ada pula musisi yang menuliskan karyanya dalam tablatur sehingga tak mungkin berubah walau siapa pun yang memainkannya. Ada perbedaan besar antata musisi ang menuliskan karyanya dengan musisi yang meraba-raba aransemen di studio. Masalah profesionalitas Karat yang masih begitu minus juga sangat terasa oleh Kimung ketika ia menyerahkan demo Karat yang masih di flasdisc (biasanya sih musisi prof mah membuat CD khusus untuk demo kalee), banyaknya <em>waditra</em> tiup yang sudah tidak bisa dimainkan ketika dilakukan demo di depan Kang Noey, hingga bahasa tubuh Viki sang manajer yang masih sangat kaku dan poksang, sehingga rentan menimbulkan salah persepsi dari orang yang berhubungan dengan Karat.</p>
<p>Sikap congkak memang dibutuhkan, namun sebatas pada hasrat mencapai kualitas terbaik—bukan dalam sikap tubuh dan hubungan social. Di terminologi pergaulan ini sepertinya sikap rendah hati yang harus diperlihatkan manajemen Karat.</p>
<p>Karat memang sangat butuh evaluasi : duduk bersama dan saling bicara.</p>
<p><strong>6</strong> <strong>November, Minggu </strong></p>
<p><em>Selamat Hari Raha Idul Qurban! </em>Semoga kita senantiasa menjadi mahluk yang iklas karena Allah SWT, amiin.</p>
<p><strong>7 November, Senin, Paperback Session with Bapak Karto Asep Nata</strong></p>
<p>Siang itu Paperback berkumpul di Common Room. Yang special hari itu, Asep Nata sang maestro karinding towel—kita singkat saja karto—hadir bersama atas undangan Paperback di Pabaru Sunda 1948 kemarin. Asep nata banyak memberikan wawasan permainan karinding yang memiliki skala tangga nada. Ini menjadi wawasan yang sangat baik untuk Paperback mengingat band ini bermain music dalam skala tangga nada tertentu dan ada dinamika perubahan nada-nada di dalamnya. Asep Nata bergabung dalam sesi latihan Paperback sepanjang sore hingga malam itu. Lengkapnya bisa dibaca di blog Paperback.</p>
<p><strong>8 November, Selasa</strong></p>
<p>Jam delapan malam Karat minus Man yang masih di Garut berkumpul. Agenda malam ini adalah evaluasi dan latihan. Ada tiga bahan pembicaraan malam itu, yang pertama mengenai kerja sama dengan Peterpan, yang ke dua mengenai fee Karat, dan yang ketiga mengenai konser tunggal.</p>
<p>Di pembahasan kerja sama dengan Karat, Kimugn menceritakan apa ayng terjadi hari Sabtu ketika pembicaraan dengan Kang Noey sudah bergulir.  Namun yang lalu jadi fokus kritik Kimung adalah profesionalitas Karat dalam mengemas satu sistem kerja sama yang eksklusif. Kimung menilai sistem ini masih tak tersentuh oleh Karat. Pembuatan demo pun masih mandeg padahal inilah senjata paling penting dalam menunjukkan profesionalitas—menuju eksklusivitas. Sistem komunikasi manajerial Karat yang masih serampangan juga masih jauh ke refleksi profesionalisme Karat. Jika sistem kerja Karat masih seperti ini maka akan sulit bagi Karat untuk maju.</p>
<p>Di sisi lain, pengalaman kerja sama Karat dengan Peterpan dinilai menjadi nilai plus bagi Karat dan juga ranah seni karinding secara umum. Patut diakui jika Peterpan hari ini masih merupakan band pop rock terdepan di tanah air. Karya-karyanya yang memang brilyan patut pula diakui sebagai pencapaian yang plus bagi kesehatan kualitas musik Indonesia. Dengan hadirnya karinding di salah satu lagu Peterpan tentu akan membantu penyebaran syiar karinding jauh hingga ke tahap nasional. Lagi pula dua lagu yang disorkan Ariel, antara “Bintang Di Surga” atau “Di Belakangku”, keduanya memiliki satu struktur musik yang sederhana namun sangat kuat dan memberikan ruang yang luas untuk eksplorasi karinding di dalamnya. Kerja sama ini patut dijajaki dan disukseskan dengan maksimal. Itulah keputusan dari Karat.</p>
<p>Pembahasan selanjutnya adalah maslaah fee Karat yang ditentukan Man. Saat ini fee Karat dinilai terlalu tinggi. Hanya Kimung yang menilai ini wajar, ditambah Kimung juga sudah mendengar apa yang dicurhatkan Man mengenai dinamika “kerendahdirian” para musisi yang menjebak mereka di satu tatanan berpikir yang kerdil. Kimung sendiri sangat setuju dengan Man dan cenderung sependapat dengannya. namun jika dilihat dari ketidaksiapan infrastruktur Karat, Kimung juga setuju jika hal ini harus dievaluasi—atau perbaikan kualitas Karat harus dilakukan. Rutinitas latihan harus kembali digeber, juga pengemasan Karat yang harus semakin menggemaskan harus dibuat.</p>
<p>Adalah hal yang sangat wajar memang jika Karat memasang tarif yang eksplusif karena band ini memang eksklusif. Tak ada band mana pun yang sepetrti Karat, baik di ranah music punk-metal mau pun di ranah musik karinding. Karat satu-satunya yang berdiri sendiri dengan konsep musiknya yang akurat, dinamis, dan eksploratif. Namun, jika masalah tarif ini jadi tak maslahat baik kepada Karat mau pun ranah music karinding secara umum, maka lebih baik memang dievaluasi lagi. Kimung secara pribadi menegaskan, kepada manajemen bahwa Karat harus punya daya tawar hingga jika ditawar oleh panitia, Karat menyetujui main dengan syarat bisa membawa dua sampai tiga band karinding manggung bersama Karat.</p>
<p>Politik ini secara turun temurun dilakukan Ujungberung Rebels dan berhasil mengangkat ranah music ini bertahan dua puluh tahun lebih bahkan menjadi komunitas metal terkuat di Indonesia hari ini. Tak musitahil, Karat akan mempelopori hal yang sama jika bisa menerapkan pola yang sama dalam hasratnya memajukan ranah music karinding.Masalah pola komunikasi manajerial dengan pihak luar juga disoroti sebagai hal yang harus dirobah. Karat berpesan kepada manajemen untuk menampilkan wajah yang “rendah hati” bukan wajah yang “congkak.”</p>
<p>Pembahasan selanjutnya adalah mengenai konser tunggal. Hingga hari ini, konser tunggal tak menunjukkan perkembangan yang berarti. Karenanya, Karat akan menangani produksi dan penetapan jadwal kerja konser sehingga semua bisa berdisiplin. “<em>Rek nepi ka iraha ge diundur-undur, ari teu digawean mah angger weh teu siap</em>,” cetus Okid. Untuk itu, Kimung sudah mempersiapkan time line jadwal kerja Karat. Untuk itu, ia membutuhkan jadwal dan tempat yang sudah tentu ditetapkan oleh event organizer. Pembahasan mengenai konser tunggal akan digelar Jumat Kramats.</p>
<p>Usai perbincangan, Karat lalu latihan lagu baru mereka, “Disko Pemberontakan.” Bagi musisi, kadang duduk dan bicara dengan pikiran terbuka jauh lebih bermakna dari puluhan teriakan yang digaungkan di panggung-panggung terbesar mereka…</p>
<p><strong>9 November, Rabu, </strong></p>
<p>Latihan Trah. Latihan Laras. Laras punya lagu baru, “If Someday” judulnya, ciptaan Timmy. Lagu yang sangat indah Timmy ^^ Tak sabar mendengarkan kalian memanikannya di panggung…</p>
<p><strong>10 November, Kamis, </strong><em></em></p>
<p>Latihan Flava Madrim. Kimung memberikan <em>pirigan</em> baru, untuk lagu “Koruptor” atau “Si Olo-olo”, namun sepertinya “Koruptor” yang lebih pas dimainkan di <em>pirigan</em> ini.</p>
<p><strong>11 November, Jumat, HARI INI SEHARUSNYA KONSER TUNGGAL KARAT DIGELAR</strong></p>
<p>Jumat yang sangat sibuk di Common Room. Karat harusnya berlatih mulai jam delapan malam itu, namun karena ruangan dipakai oleh intensif Bandung Death Fest V, pun Man dan Ki Amenk harus ikut rapat, maka Karat akhirnya duduk-duduk saja di pelataran Common Room, sambil menuggu rapat usai. Jam setengah sepuluh akhirnya rapat usai dan segera disusul rapat Karat. Agenda malam ini memang rapat evaluasi konser tunggal disambung latihan rutin.</p>
<p>Rapat malam ini menyepakati bahwa yang akan menjadi sutradara pertunjukan ini adalah Gustaff. Ia akan bekerja sama dengan Gustavo yang akan menggarap tata artistik bersama Yuki. Uwok juga memberikan beberapa masukan berkaitan dengan panggung dan tata suara. Dokumentasi akan ditangani Kimo di foto dan Kapten Jek Under Pic. di video. Ide menggelar pertunjukan di outdoor juga digulirkan.</p>
<p>Untuk melancarkan pekerjaan masing-masing, semua sepakat akan survey tempat pergelaran hari Selasa. Semoga lancar semua, amiin. Hajar!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>10 Playlist Jon 666 : </strong>Tarawangsa, The Beatles, Peterpan, Janis Joplin, Maxim, Fear Factory, Sepultura, Burgerkill, Sacred Reich</p>
<p><strong>Books : </strong>Al Qur’an al Karim</p>
<p><strong>Quotes :</strong></p>
<p>“Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” (Q.S. An-Nisaa, 4 : 11)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalkarat.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalkarat.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalkarat.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalkarat.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalkarat.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalkarat.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalkarat.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalkarat.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalkarat.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalkarat.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalkarat.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalkarat.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalkarat.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalkarat.wordpress.com/311/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=311&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/26/jurnal-karat-94-11-11-11-hari-ini-seharusnya-konser-tunggal-karat-digelar-mind-game/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/55a390890f4f949ec65a02a038a43bb4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalkarat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JURNAL KARAT # 93, 4 November 2011, PABARU SUNDA DAN RENCANA KOLABORASI PETERPAN</title>
		<link>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/18/jurnal-karat-93-4-november-2011-pabaru-sunda-dan-rencana-kolaborasi-peterpan/</link>
		<comments>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/18/jurnal-karat-93-4-november-2011-pabaru-sunda-dan-rencana-kolaborasi-peterpan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 04:19:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalkarat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[KARINDING ATTACK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalkarat.wordpress.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[JURNAL KARAT # 93, 4 November 2011, PABARU SUNDA DAN RENCANA KOLABORASI PETERPAN Oleh Jon 666 31 Oktober, Senin, Paperback with Bill Paperback menggarap lagu psikedelik, “Jimina.” Di tengah penggarapan lagu, Bill, mahasiswa dari Dtroit dan bergabung memainkan kobor denga tipe suara Hammond. Mantaps! Lengkapnya akan dirilis di www.paperback666.tumblr.com. 1 November, Selasa, wawancara Lusi Kompas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=308&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JURNAL KARAT # 93, 4 November 2011, PABARU SUNDA DAN RENCANA KOLABORASI PETERPAN<br />
</strong></p>
<p><strong>Oleh Jon 666</strong></p>
<p><strong>31 Oktober, Senin, Paperback with Bill</strong></p>
<p>Paperback menggarap lagu psikedelik, “Jimina.” Di tengah penggarapan lagu, Bill, mahasiswa dari Dtroit dan bergabung memainkan kobor denga tipe suara Hammond. Mantaps! Lengkapnya akan dirilis di www.paperback666.tumblr.com.</p>
<p><strong>1 November, Selasa, wawancara Lusi Kompas dan Utami Jurnal Nasional dan Jurnal Karat</strong></p>
<p>Ini cuplikan jurnal perjalanan Kimung hari ini,</p>
<p><em>“…kembali ke habitat intelektual sekaligus habitat buas saya : Jatinangor. Ada banyak  orang yang ingin saya temui. Yang pertama Anton batu Api. Ini senior saya, Sejarah ’88,mengelola perpustakaan legendaries di Jatinangor, Batu Api. Saya berjanji akan meyimpan buku Scumbag untuk perpustakaan Batu Api, namun hingga kini saya masih belum bisa mendapatkan buku ini. Scumbag memang sudah habis berbulan-bulan yang lalu dan saya masih belum punya waktu untuk merilisnya ulang. Dan tujuan pertama saya memang Batu Api. Saya singgah dulu ke bang Anton mengantarkan Jurnal karat untuk disimpan di Batu Api. Band Anton tak banyak berubah setelah sekitar 13 tahun kami tak berjumpa. Ia tetap baik dan rendah hati. Respect bang! </em></p>
<p><em>Sehabis mengunjungi bang Anton, saya langsung ke Sastra. Di sini saya ingin menemui mentor saya, pak Reiza. Sejak rilis Memoar Melawan Lupa, saya belum lagi sempat menemui beliau dan memberikan karya tulis saya setelah Scumbag. Kini setelah Jurnal Karat rilis saya harus menyisihkan waktu untuk menemuinya dan memberikan karya-karya saya ini sebagai penghormatan untuk beliau. Namun sebelum menemui Pak Reiza, saya ingin menemui Timmy dulu karena bersamanya saya akan meluangkan waktu hari ini. Saya kontak-kontak Timmy dan kita bertemu di Pakilun. Tepat, hari ini anak-anak Sastra Sunda ’96 ternyata sedang berkumpul di Pakilun. Ada Herry, Dirja, dan Bob Marno. </em></p>
<p><em>Sehabis Mie Ayam yang disantap kawan-kawan seangkatan, saya dan Timmy segera menuju Dekanat untuk menemui Pak Reiza. Sempat bertemu juga dengan dosen-dosen Prancis, mas Anto, dan mentor saya Bu Rina di pelataran Dekanat, saya segera menuju ke lantai dua. Sayang, Pak Reiza sibuk menerima tamu siang itu sehingga saya tak berkesempatan menemuinya. Buku </em>Memoar Melawan Lupa<em> dan </em>Jurnal Karat<em> untuk Pak Reiza saya titipkan di sekretarisnya.</em></p>
<p><em>Karena hari menjelang sore, saya mengajak Timmy untuk segera berangkat menuju Parakan Muncang, ke sanggar Bah Olot. Sehari sebelumnya, saya memang sudah kontak-kontakan sama Timmy jika hari ini saya akan mengantar Nick dan Bill menemui Bah Olot untuk melakukan syuting film dokumenter mereka. Sebelum ke Parakan Muncang, saya akan singgah di Jatinangor untuk menemui Bang Anton dan pak Reiza. Saya ajak Timmy untuk ikut serta ke Bah Olot jika Timmy sedang tidak sibuk. Ia ternyata menyambut baik, ingin ikut ke Bah Olot. Dan ke sanalah kami berdua sekarang. Melewati Jalan Sayang—Love Street by Jim Morrison—menuju Parakan Muncang. Sempat diguyur hujan besar, akhirnya sampai juga kami di sana jam tiga. Tampak Bah Olot sedang mengerjakan rautan bambu di meja kerjanya. Tampak juga anak-anak kecil binaan Abah bermain di lantai dua sanggar. Mereka kini bermain bersama Abah Olot di Giri Kerenceng. Kami segera bersalaman dan saya ceritakan mengenai rencana Nick dan Bill yang sekarang sedang di jalan menuju sanggar bersama Ayi.</em></p>
<p><em>Tak lama menunggu, Nick, Bill, dan Ayi akhirnya tiba. Setelah berkenalan dengan Bah Olot, syuting pun dimulai. Diawali dengan syut penampilan Giri Kerenceng fituring Timmy Laras, Bah Olotmenyanyikan lima buah lagu Giri Kerencang yang menasmpilkan permainan apik anak-anak didiknya. Kini Giri Kerencang memang terdiri dari anak-anak kecil saja. Paling muda duduk di kelas empat sekolah dasar dan paling tua di kelas tujuh sekolah menengah pertama. Kini dengan fituring Timmy, Giri Kerenceng bertambah jadi ada gadis kuliahannya hahaha…</em></p>
<p><em>Syuting beralih ke proses pembuatan karinding dari awalnya sepotong bambu, hingga kahirnya diraut dan jadilah karinding. Proses pengerjaannya cepat sekali untuk ukuran alat music buatan tangan. Hanya sekitar dua puluh menit dan semua didokumetasikan dengan lengkap oleh Nick dan Bill. Timmy dengan takjub mengamati proses pembuatan karinding. ia tak meyangka begitu cepat ternyata karinding dibuat oleh sang maestro. </em></p>
<p><em>Senang sekali melihat Timmy begitu antusias. Saya tahu bagaimana ia melalui masa rentan ABGnya dengan baik dan saya senang masih terus bisa melihatnya terus berada di jalur yang baik. Ia memiliki bakat yang sangat besar di bidang musik dan fotografi, saya kira ia bisa sukses jika ia terus konsisten dengan apa yang ia lakukan. Timmy memperdengarkan lagu ciptaannya yang terbaru kepada saya sore itu. “If Someday”, sebuah lagu yang manis untuk Laras. Saya tahu lagu ini akan semakin membentuk karakter music Laras—dan tentu saja karakter Timmy sendiri.</em></p>
<p><em>Usai proses pembuatan karinding, syuting masuk ke sesi terakhir, yaitu wawancara Bah Olot. Namun karena waktu menunjukkan pukul lima sore, sementara saya harus siap-siap berlatih dengan Karat, plus ada jadwal wawancara dengan Jurnal Nasional dan Kompas malam nanti, saya dan Timmy akhirnya berpamitan. Syuting wawancara Bah Olot oleh Nick dan Bill lalu dilakukan dengan bantuan Ayi. </em></p>
<p><em>Saya mengantar Timmy pulang ke kawasan Antapani dan menghabiskan sisa senja itu sendirian pulang dulu ke rumah.</em></p>
<p><em>Jam delapan malam saya sudah berada di Common Room. Rencananya kami akan berlatih malam itu, namun entah mengapa sepertinya tak ada yang tergerak untuk sekedar mengeset alat persiapan latihan. Menjelang jam setengah sepuluh malam wartawan Lusi dari Kompas—ia pernah meliput Ujungberung Rebels dalam satu liputan panjang di Kompas Minggu, liputannya ini bisa dibaca di buku </em>Memoar Melawan Lupa<em>—dan Utami dari Jurnal Nasional yang berencana meliput kembali Ujungberung Rebels. Wawancara dilakukan di ruangtengah Common Room. Kisah bergulir dari sejarah awal terbentuknya Ujungberung Rebels hingga berkembanganya karinding Ujungberungan yang membangkitkan hasrat seni karinding secara keseluruhan di Kota bandung dan Priangan. Saya kira liputan ini akan jadi jembatan yang bagus bagi masyarakat menuju rilisnya buku </em>Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels<em>. Semoga buku ini bisa rilis tepat waktunya, Desember 2011, amiin…”</em></p>
<p><strong>2 November, Rabu, Latihan dan Sesi Foto Karat oleh Kompas</strong></p>
<p>Karena tak jadi latihan malam sebelumnya, Karat akhirnya berlatih Rabu siang. Latihan ini juga difoto oleh Lusi Kompas dan Utami Jurnal Nasional. Karat menggeber hampir semua lagu di sesi ini. Usai latihan, Lusi dan Utami meneruskan wawancara.</p>
<p>Ucok siap menggarap tata perwajahan da artistik buku <em>Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels</em>. Mantaps!!!</p>
<p><strong>4 November, Jumat, Karat di Jatinangor dan Pabaru Sunda 1948<br />
</strong></p>
<p>Hari yang cerah di Jatinangor. Panggung yang lumayan besar sudah berdiri di kawasan taman sebelah Gor pakuan, sekitar kompleks student center Unpad Jatinangor, samping kolam Unpad—kolam yang di tahun 1997, 1998, 1999, sampai 2000an sering dijadikan tempat guying dan berenang Kimung dan kawan-kawan. Sore itu Karat dijadwalkan tampil di panggung tersebut, hingga sedari siang mereka sudah diap melakukan cek tata suara di sana.</p>
<p>Sehabis cek tata suara karat tak lantas pulang. Mereka memilih diam di Jatinangor sambil napak tilas kenangan kawan-kawan mengenai Jatinangor. Okid dan Jimbot terutama yang sangat erat terkait dengan Unpad Jatinangor—selain Kimung yang absen di cek tata suara siang itu.</p>
<p>Menjelang sore, Kimung akhirnya datang bersama Papay. Karat dan kru tampak sedang ngaso menunggu jadwal tampil. Tampak Manda dan Timmy Laras sebagai warga sastra juga hadir di arena. Jam setengah lima, akhirnya Karat tampil. Seperti biasa penampilan sore itu tuntas dihajar dengan lepas. Usai tampil, Karat segera siap-siap berangkat untuk tampil di acara Pabaru Sunda.</p>
<p>Sementara yang lain langsung ke arena pergelaran perinagtan tahun baru Sunda, Kimung yang berangkat boncengan dengan Timmy, singgah dulu di Common Room. Ternyata di sana Ayi dan David sudah bersiap-siap berangkat. Yang menjadi kejutan, ternyata sudah ada Asep Nata—sang maestro karinding bernada atau karinding towel—sedang mengobrol bersama Gustaff. Setelah mengobrol ngalor ngidul kahirnya rombongan berangkat ke Cikapundung. Asep Nata ikut serta berboncengan dengan David.</p>
<p>Ini liputan dari portal Indonesia Kreratif mengenai Pabaru Sunda 1948,</p>
<p>PABARU SUNDA, BENTUK PELESTARIAN NILAI KEARIFAN LOKAL</p>
<p>06 November 2011 | Views (411)</p>
<p>Teks dan Foto: Heru Muthahari</p>
<p>“Seharusnya pemerintah Lebih tergugah untuk melindungi warisan budaya Sunda yang keberadaanya terlantar. Banyak nilai-nilai budaya yang luput dari Dispemprov, dan jangan sampai ada berita lagi alat kesenian ini punah, alat musik ini hilang. Pemerintah seharusnya bisa memberikan bantuan dalam bentuk fasilitas dan aturan agar nilai-nilai budaya tidak hanya sekedar menjadi tontonan melainkan menjadi tuntunan dalam keseharian masyarakat Jawa Barat”.</p>
<p>Kalimat itu datang  langsung dari pecinta sekaligus perwakilan kabuyutan Sunda, Utun, yang merasa resah dengan kondisi budaya Sunda saat ini. Dalam gelaran keenam kali ini, rasanya antusias masyarakat Bandung  terhadap kegiatan bertemakan budaya lokal masih terasa minim.  Ini terbukti dari apresiasi warga yang hadir dalam acara peringatan tahun baru Sunda tersebut. Hanya beberapa komunitas tertentu saja yang menghadiri acara ini.</p>
<p>Malam itu, Jumat (4/11) di kawasan Cikapundung, beberapa komunitas budaya Sunda hadir merayakan hari Tahun baru Sunda ke 1948. Mereka berbaur dan bergotong royong mengadakan acara pengenalan kepada masyarakat luas mengenai nilai budaya Sunda, khususnya kebanggaan akan penggunaan kalender Sunda di tatar Parahyangan.</p>
<p>Bila dilihat dalam perhitungan Kalender Sunda, saat ini Masyarakat Sunda tengah merayakan tahun barunya ke 1948 yang jatuh pada Jumat atau bertepatan dengan Sukra 1, Kartika 1948 Caka. Beberapa budayawan memberikan refleksi terhadap lingkungan dan kondisi sosial masyarakat Sunda Saat ini. Untuk memberikan kehidupan yang lebih baik di tahun barunya, budayawan asal Sumedang melakukan ritual &#8216;Ngalarung&#8217; di kawasan Sungai Cikapundung. Nyanyian dan doa pun terlantun sepanjang upacara simbolis tersebut. Ritual tersebut dilakukan untuk mengikis kotoran yang mengendap dalam jiwa dan lingkungan masyarakat Bandung.</p>
<p>Sesuai dengan tema perayaan tahun baru Sunda, berbagai komunitas budaya Sunda lain pun turut hadir memeriahkan acara ini. Diantaranya, pentas seni Tarawangsa, Kelompok musik Karinding Attack, Papperback, dan Gembyung asal Subang.</p>
<p>“Hitungan dalam menentukan tahun 1 Sunda memang cukup sulit. Namun sekarang sudah tersosialisasikan dengan perhitungan Astrologi yang disesuaikan dengan kondisi alam di sekitar tatar Sunda,” ucap Budi Dalton selaku penggagas kegiatan Pabaru Sunda.</p>
<p>Menurut Utun, keberadaan kalender Sunda saat ini sudah mendapatkan pengakuan dari negara lain, salah satunya dari Malaysia. Pengakuan keberadaan kalender Sunda tersebut disampaikan keturunan ketujuh dari Sri Ratu Putri Sadong, Raja Kelantan Malaysia, yakni Raja Tengku Putri Anis Raja Sazali, pada pertemuan Raja dan Sultan se-Nusantara.</p>
<p>“Saya sungguh menyayangkan pengakuan tersebut justru berasal jauh dari negeri sebrang, bukannya timbul dari lingkup masyarakat terdekat, khususnya warga Jawa Barat,” lanjut Utun</p>
<p>Bila dilihat dari komposisi penempatan jumlah hari, minggu dan bulan, perhitungan kalender Sunda hampir mirip dengan kalender Masehi, yang membedakannya hanya penamaan hari, minggu, dan bulan. Penghitungan jumlah hari dalam satu bulannya pun ternyata mirip dengan perhitungan kalender Masehi, ada yang berjumlah 29 hari dan 30 hari.</p>
<p>Nama lengkap 12 bulan dalam kalender Sunda yaitu, Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, dan Asuji. Sedangkan nama hari-hari dalam kalender sunda adalah Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buda (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jumat), Tumpek (Sabtu), dan Radite (Minggu).</p>
<p>http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/news/read/1126</p>
<p><em>Mugia rahayu salawasna, sawelas cahaya di salira!!!</em></p>
<p>Malam itu, usai penampilan Paperback, Kindi dari manajemen Peterpan menghubungi Kimung dan memberikan kabar jika Peterpan tertarik bekerja sama dengan Karinding Attack. Untuk itu Karat ditunggu di Studio Masterplan hari Sabtu besok untuk bertemu Kang Noey sang produser, membicarakan berbagai hal teknis berkaitan dengan proses kreatif dan proses produksi.</p>
<p>Bismillah…</p>
<p><strong>10 Playlist Jon 666 : </strong>Tarawangsa, The Beatles, Peterpan, Burgerkill, Carcass, Napalm Death, Fear Factory, Imaplled nazarenne,  nailbomb, The Exploited</p>
<p><strong>Books : </strong>Al Qur’an al Karim</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalkarat.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalkarat.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalkarat.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalkarat.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalkarat.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalkarat.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalkarat.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalkarat.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalkarat.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalkarat.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalkarat.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalkarat.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalkarat.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalkarat.wordpress.com/308/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=308&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/18/jurnal-karat-93-4-november-2011-pabaru-sunda-dan-rencana-kolaborasi-peterpan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/55a390890f4f949ec65a02a038a43bb4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalkarat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JURNAL KARAT # 92, 28 OKTOBER 2011, SARASVATI, KEENAN NASUTION, AYU LAKSMI, ARIEL PETERPAN, IDEOLOGI MUSIK, THE GREAT BEAST, DAN DISKO PEMBERONTAKAN!</title>
		<link>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/12/jurnal-karat-92-28-oktober-2011-keenan-nasution-ayu-laksmi-ariel-peterpan-ideologi-musik-the-great-beast-dan-disko-pemberontakan/</link>
		<comments>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/12/jurnal-karat-92-28-oktober-2011-keenan-nasution-ayu-laksmi-ariel-peterpan-ideologi-musik-the-great-beast-dan-disko-pemberontakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 19:17:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalkarat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[KARINDING ATTACK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalkarat.wordpress.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[JURNAL KARAT # 92, 28 OKTOBER 2011, SARASVATI, KEENAN NASUTION, AYU LAKSMI, ARIEL PETERPAN, IDEOLOGI MUSIK, THE GREAT BEAST, DAN DISKO PEMBERONTAKAN! Oleh Jon 666 22 Oktober, Sabtu, Karat di Kolaborasi Sarasvati dan Keenan Nasution, Djakarta Artmosphere Pagi yang cerah di hari Sabtu. Jam setengah enam, awak sarasvati dan karat tampak sudah bersiap-siap di Common [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=305&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JURNAL KARAT # 92, 28 OKTOBER 2011, SARASVATI, KEENAN NASUTION, AYU LAKSMI, ARIEL PETERPAN, IDEOLOGI MUSIK, THE GREAT BEAST, DAN DISKO PEMBERONTAKAN! </strong></p>
<p><strong>Oleh Jon 666</strong></p>
<p><strong>22 Oktober, Sabtu, Karat di Kolaborasi Sarasvati dan Keenan Nasution, Djakarta Artmosphere</strong></p>
<p>Pagi yang cerah di hari Sabtu. Jam setengah enam, awak sarasvati dan karat tampak sudah bersiap-siap di Common Room. Pun bus biru yang akan mengantar rombongan ke Jakarta sudah siap tersedia di halaman Common Room. Semua tampak bersemangat sekali pagi itu, termasuk Jimbot yang masih hangover akibat malamnya makan gelas dan keran air hehehe… Jam tujuh pagi, rombongan berangkat dari Common Room menuju Jakarta. Syananana…</p>
<p>Sampai di Jakarta jam sepuluh pagi, bus langsung parker di halaman belakang Gedung Tennis Indoor Senayan.crew dan personil bahu membahu langsng mengankut alat-alat music dan segera memersiapkannya untuk cek tata suara. Jadwalnya jam sepuluh, namun ternyata masih ada The Brandals yang melakukan cek tata suara di atas panggung. Sambil menunggu, beberapa sarapan dulu di kios sekitar Tennis Indoor. Jimbot sudah bangun dan dengan malas ia minum susu dan makan Pop Mie.</p>
<p>Akhirnya, jam setengah dua belas siang, cek tata suara dimulai. dengan cekatan Adun dan Innu bekerja menata suara, menyusun bukaan-bukaan monitor dan suara yang keluar di audiens. Kendala utama tetap berada di penataan sistem suara untuk karinding. penggunaan mikrofon sensitif menjadi serba salah. Di satu sisi, mikrofon sensitif tentu sangat membantu menangkap frekwensi karinding dan celempung yang rendah. Namun di sisi lain, penggunaan mikrofon sensitif, sangat rentan menciptakan <em>feedback</em>, terutama jika berdekatan dengan monitor. Karena itu Innu sedapat mungkin benar-benar membatasi bukaan monitor di sesi Karat agar suaranya tidak masuk mikrofon dan mengganggu dengan suara bising yang dihasilkan kemudian.</p>
<p>Namun demikian kecekatan Innu dan Adun terbukti selama cek tata suara dan semua bisa dilakukan dengan lancar. Cek tata suara akhirnya selsai jam dua siang. Rombongan laki-laki lalu beristirahat di salah satu ruangan di Tennis Indoor, sementara yang perempuan beristirahat dan bersiap di apartemen salah satu kawan mereka.</p>
<p>Sementara itu, di Bandung, Karat yang lain melakukan cek tata suara di Bumi Sangkuriang untuk penampilan esok harinya di acara terima kasih The Kotak kepada Bumi, sebuah acara yang penuh dengan edukasi. Karat sendiri akan tampil di Stage Bumi, salah satu dari enam panggung yang disediakan panitia di sekitar lapangan Bumi Sangkuriang. Walau tanpa alat-alat yang lengkap, cek tata suara dan <em>channel</em> yang dilakukan Karat di Bumi sangkuriang berlangsung dengan lancar. Selesai cek tata suara, Karats empat bertemu Ayu laksmi dan segera saja berkenalan dan saling bercerita mengenai musik masing-masing. Ayu bahkan berjanji akan melihat penampilan Karat nanti.</p>
<p>Kembali lagi ke Jakarta, jam empat sore, setelah puas beristirahat, Kimung, Okid, Wisnu, Papay, dan kapten Jek akhirnya ke luar ruang artis dan ternyata di panggung luar suasana sudah meriah. Salah stau band yang memainkan rock ‘n roll sedang tampil di sana ditonton sekitar seratusan audiens yang hadir sore itu. Nuansa psychedelic terpapar di panggung walau ternyata tak melulu nyambung dengan band-band yang tampil kebanyakan membawakan rock atau pop. Hmm harusnya Paperback dengan lagu “Jimina”nya yang tampil di panggung <em>psychedelic</em> itu ckckck… Di arena ini, Karat bertemu dengan kru Common Room yang menyempatkan hadir : Gustaff, Reina, Bine, Ghera; dan juga kru Omuniuum yang mengisi <em>booth</em> buku dan pernak-pernik di acara ini. Karat juga bertemu kawan-kawan yang biasa hadir di tiap acara musik di Bandung seperti Ui, Dian AQ, dan beberapa kawan lainnya. meriah sangat memang ini panggung. Favorit saya pada maen di sini. Ada White Shoes and Couples Company, Teenage Death Star juga. Walau tak psychedelic, lumayan lah.</p>
<p>Seturun Magrib, Karat segera kembali ke ruang istirahat untuk bersiap-siap. Jam setengah delapan, semua sudah rapi jail, dengan pakaian hitam-hitam semua, kontras dengan seragam para perempuan ayng semua mengenakan <em>dress</em> merah marun. Mantaps! Semua siap bertarung malam ini! Om Keenan pun ternyata sudah hadir malam itu dan juga siap bertarung bersama Sarasvati dan Karat.</p>
<p>Akhirnya, setelah penampilan yang sangat atraktif dari Endah n’ Rhesa yang berkolaborasi dengan Mario Segers dan Marcie Segers, giliran Sarasvati yang didaulat tampil di atas panggung. Semua lagu dihajar malam itu. Satu kendala yang sangat terasa dalam penampilan itu adalah tak terdengarnya monitor kibor Mang Gembong dan dram Papay yang selama menjadi pedoman permainan karindingan dan celempungan. Ini tentu sangat berpengaruh pada permaianan Karat. walau bisa dibilang pas, namun tabuhan-tabuhan yang dimainkan Karat menjadi kurang maksimal, kurang telak, dan terkesan gamang karena tak ada panduan suara apa-apa yang bisa membuat mereka bermain lepas. Namun demikian, semua lagu : “Fighting Club”, “Cut and Paste”, “Perjalanan”, dan “Bilur” bisa dimainkan dengan baik.</p>
<p>Masuk sesi ke dua, ketika Risa memanggil Om Keenan untuktampil bersam di panggung membawakan lagu-lagu “Chopin Larung”, “Zamrud Khatulistiwa”, “Sendu”, “Oh I Never Know”, dan “Story of Peter”, kendala monitor tak juga terselesaikan. Namun tak ada pilihan lain, show must go on. Walau kembali tampil dengan segala kegamangan dan tanpa panduan musik yang memadai, Karat kini bermain lebih lepas. Dan itu sebetulnya yang benar0benar diperlukan ketika tampil di atas sebuah panggung.</p>
<p>Kolaborasi ini memang kurang maksimal. Baik dalam aransemen lagu yang menurut saya terlalu ngepop dan terlalu nyaman main di ranah aman untuk ukuran musik Keenan Nasution, Guruh, atau Band Gypsy yang memang berbahaya dan sangat liar dalam bereksplorasi; mau pun dalam penataan sistem suara. Namun demikian, semua sudah melakukannya semaksimal mungkin dan itu patut diapresiasi. Lagi pula, walau kurang maksimal, kolaborasi ini bisa dinilai sebagai kolaborasi yang sukses dan paling berimbang jika dibandingkan dengan para artis lain yang tampil di panggung kolaborasi malam itu. Kimung mencatat, “<em>Endah n’ Rhesa terlalu jam session dengan Mario, Pure Saturday terlalu mengikuti Yockie, dan The Brandals terlalu sendiri-sendiri bersama Koes Plus.</em>” PR Sarasvati hanya satu jika mendapat kesempatanberkolaborasi lagi : mempersiapkan sesi <em>jam session</em> dengan kolaborator.</p>
<p>Usai konser, semua terlihat sangat lepas dan bahagia. Apalagi ketika Om Keenan datang ke ruang Sarasvati, keceriaan segera merebak. Semua foto-foto bersama Om Keenan, pun Kimung tak ketinggalan memberikan buku <em>Jurnal Karat</em> dan bercerita jika di sana ada kisah Om Keenan bersama Sarasvati dan Karat. Semua lalu menonton kolaborasi yang benar-benar spektakuler antara Pure Saturday dengan Yockie Suryoprayogo. Ketika The Brandals tampil, Sarasvati dan Karat memutuskan untuk pulang ke Bandung.</p>
<p><em>Ahh, there’s no place like home ^^</em></p>
<p><em>I luv you Sarasvati!!!</em></p>
<p><strong>23</strong> <strong>Oktober, Minggu, Karat di Bumi Sangkuriang</strong></p>
<p>Alam selalu memberikan berbagai manfaat untuk kemaslahatan kehidupan manusia, dengan berbagai unsurnya. Alam mengatur diri sesuai dengan kodrat dan kehendak-Nya, udara yang kita hirup, air yang kita minum, hasil dari tanah, hutan dan laut, mereka berjalan pada rel-nya. Namun saat ini ‘rel’ itu terlalu banyak penyumbatannya atau dengan kata lain: rusak. Sudah selayaknya manusia ‘bekerjasama’ dengan alam untuk mengembalikan atau memperbaiki ‘rel’ alam agar bergerak dengan lancar. Berbagai program pengembalian fungsi alam oleh berbagai kalangan telah dilakukan. Salah satunya adalah program Thanks To Nature yang diinisiasi oleh Teh Kotak yang digelar di Bumi Sangkuriang Bandung tanggal 23 Oktober 2011.</p>
<p>Acara Thanks to Nature ini dimulai pada pukul 09.00 wib. Di sini sangat terlihat nuansa yang sangat berbeda dengan konsep gelaran lain yang serupa. Unik, edukatif, kreatif dan entertaining. Tidak seperti acara ditempat lainnya yang hanya mementingkan unsur hiburan dan bisnisnya saja. Disini kita dihibur dengan cara yang unik, edukatif dan kreatif. Dari hal yang kecil; seperti tidak membuang sampah sembarangan dan tidak merokok di lokasi acara, itu semua terlaksana dengan baik. Sehingga semua pengunjung, peserta dan panitia bisa bekerjasama untuk menjaga kedua hal tersebut sampai akhir acara. Ini sebuah prestasi tersendiri untuk sebuah gelaran besar.</p>
<p>Berbagai gelaran acara pun membuat para pengunjung mendapat pencerah hati dan pengalaman baru. Dengan konsep empat panggung: Main Stage, Stage Angin dan Air, Stage Bumi dan Stage Api, serta Cinema Alam, pengunjung mendapatkan berbagai variasi tontonan yang edukatif. Di Stage Bumi Karat hadir, tampil menghibur audiens yang menyemut seketika MC mengumumkan penampilan Karat siang itu. Tujuh lagu Karat, “Bubuka” bersama Abah Gopal, “Dadangos Bagong”, “Burial Buncelik” (versi yang sangat panjang karena Abah Gopal dan beberapa penonton ikut tampil menari di lagu ini), “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Lapar Ma!”, dan Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” digeber habis mengundang antusiasme audiens. Usai tampil, Karat bertemu Chris, reporter National Geographic yang juga sedang melakukan pemetaan komunitas kreatif di Bandung.</p>
<p>Karena Ayu Laksmi serta Abah Iwan Abdurrahman, dua musisi yang sangat ingin dilihat Karat tampil malam, maka Karat sepakat ke Common Room dulu dan akan kembali jam tujuhan ke arena. Berkumpul mengobrol bersama dan saling canda mewarnai sore itu, sebelum akhirnya maam itu rombongan kembali ke Bumi Sangkuriang.</p>
<p>Bertemu dengan Ayu Laksmi, ia segera menodong man untuk ikut tampil bersamanya di panggung bermain karinding mengiringi salah satu lagu Ayu. Ini tentu saja pengalaman yang tak akan terlupakan ketika seorang maestro yang sangat kita kagumi tiba-tiba meminta kita untuk tampil bersamanya. Ayu bahkan kembali mengundang Man bermain karinding sekali lagi di lagu Ayu yang lain. Usai tampil, Ayu mengajak Karat kembali tampil di acara Bandung World Jazz 2011 tanggal 20 November nanti di Sabuga.  Sebuah ajakan yang sangat menantang dan tentu saja diiyakan Karat.</p>
<p>Ayu Laksmi pertama kali merilis album rock <em>Istana Yang Hilang</em>, tahun 1991. Namun setelah itu ia kembali ke Bali dan justru semakin dekat dengan seni-seni tradisi yang begitu kental. Selama beberapa tahun, Ayu memilih berkarya di ruang-ruang yang sunyi. Baru tahun 2006, Ayu ambil bagian tampil di acara Bali for the World. Dari sini, babak baru Ayu mulai hadir. Beragam komposisi tercipta. Tak cuma menjelah pangung-panggung musik bersama Tropical Transit Band, tapi juga membuat ilustrasi musik untuk film, dan menghasilkan <em>Svara Semesta</em>, album keduanya. &#8220;Dulu waktu jadi penyanyi rock, saya pakai celana bergambar tengkorak. Sekarang saya memilih untuk tampil sebagai perempuan Indonesia. Kalau sekang banyak perempuan yang ingin tampil sebagai model, saya justru kebalikannya. Saya memilih untuk kembali ke tradisi,&#8221; ujar Ayu. Cok Savitri, seniman asal Bali yang juga mentornya, mengibaratkan musik Ayu adalah <em>healing music</em> (musik yang menyembuhkan).  &#8220;Hampir semua gerakan napas adalah sebuah meditasi yang menuju satu titik,&#8221; katanya.</p>
<p>Musik-musik  Ayu juga  syarat dengan spiritualisme.  <em>Svara Semesta</em> berisi 11 lagu.  Sembilan di antaranya diciptakannya sendiri. Ia membagi karyanya dalam dua ruang yang berbeda, yakni ruang Budaya-Teknologi, serta Manusia.  Empat karya tersaji lewat konsep Budaya-Teknologi, yakni “Tri Karya Parisudha” (Thinking Good, Saying Good, Doing Good), “Wirama Totaka”, “Duh Hyang Ratih” (The Moon), dan “Tat Twam Asi” (I Am You). Dalam karya-karya ini, Ayu mencoba berusaha mengutarakan tentang keagungan Tuhan. Lirik pun disajikan lewat tembang yang kontemporer dalam bahasa sansekerta, Jawa kuno dan Bali.  Sementara lewat ruang Manusia, Ayu menghadirkan siklus kehidupan manusia dari lahir hingga mati lewat “Brothers &amp; Sisters”, “Maha Asa” (Big Dream), “Here, Now, and Forever More” (Om Mani Padme Hum), “Ibu”, “Reinkarnasi”, “Breathing”, dan “I Am Talking to Myself.”</p>
<p>Pada akhirnya, lewat lagu-lagu itu, Ayu mencoba merefleksikan hidup dan kehidupan dengan muara akhir menyerahkan diri kepada Tuhan. Dibantu musisi-musisi kawakan, seperti Eko Wicaksono, Balawan, Dewa Budjana, Bang Saat, Riwin, serta dua arajer asing, Peter Brambi dan Robert Webber juga mencoba memindahkan nilai spiritualitas ke ruang panggung pertunjukan.</p>
<p>http://oase.kompas.com/read/2010/11/26/0852026/Svara.Semesta..Penjelajahan.Ayu.Laksmi</p>
<p><strong>24 Oktober, Senin</strong></p>
<p>Psychedelic “Jimina” usai terumuskan Paperback dalam tiga susun aransemen berbeda.</p>
<p><strong>25 Oktiber, Selasa</strong></p>
<p>Kabar dari Feby kepada Kimung bahwa Ariel ingin menjajaki kemungkinan karinding bermain di salah satu lagu di album Peterpan terbaru. Malamnya, Kimung bertemu dengan The Illuminators untuk merumuskan konsep artwork untuk buku <em>Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels</em>. Setidaknya dibutuhkan minimal 31 artwork untuk menunjang 800 halaman buku <em>Panceg</em>, 6 Babad, dan 25 Bab buku sejarah komunitas metal tertua dan terkuat di Indonesia ini.</p>
<p><strong>26 Oktober, Rabu, Ariel dan Celempung, The Great Beast</strong></p>
<p>Kimung, Okid, Bine, dan Feby mengunjungi Ariel di Kebon Waru. Setelah pertemuan pertama Kimung dan Ariel, ini adlaah pertemuan ke dua mereka. Di pertemuan ini Kimung memberikan buku <em>Jurnal Karat, Karinding Attacks Ujungberung Rebels</em> dan celempung Giri Kerenceng yang dibawakan Okid khusus unutk Ariel. Ariel tampak sangat sehat. berada di ruang kerjanya di salah satu sudut kantor administrasi Rutan Kebon Waru, ia menyambut rombongan dan segera menceritakan rencana-rencananya.</p>
<p>Peterpan berencana merilis album instrumental bulan November itu. awalnya, Peterpan berencana hanya akan merilis Peterpan on Piano saja, di mana Peterpan mengaransemen music dan sesi vokalnya akan diisi lima pianis Indonesia. Namun Ariel mengisahkan, ide dengan liar berkembang. Peterpan mulai menambahkan sesi orchestra, sesi alat musik tiup, dan gesek. Ariel menilai ini merupakan komposisi yang sangat kuat, Cuma ia merasa aransemen-aransemen lagu ini terlalu Eropa dan ia ingin menambahkan rasa etnik ke dalam salah satu lagunya. Untuk itulah ia berkonsultasi dengan Feby yang kemudian merekomendasikan karinding. ariel sendiri merespon dengan baik dan meita bantuan Feby untuk segera mengontak musisi karinding yang bisa diajak bekerja sama—dalam hal ini Karat.</p>
<p>Ariel juga memperdengarkan tiga belas lagu terbaru Peterpan—menurutnya, lagu yang akan dimasukkan ke dalam album mungkin hanya sepuluh lagu saja. Dalam bayangan Ariel, awalnya, alat musik etnik yang dimainkan adalah saluang saja. Namun ketika ia mendengar demo Karat, ia menilai bahwa semua alat yang dimainakn di msuik Karat adalah satu kesatuan utuh ayng jika dipisahkan salah satunya maka akan mempengaruhi kekuatan sesi musik yang lain. karena itu, ia membayangkan semua <em>waditra</em> itu akan dimainkan namun dalam tatanan aransemen yang apik. Ariel membayangkan kalau tak di lagu “Di Belakangku”, di lagu “Bintang di Surga” Karat dan Peterpan akan berkolaborasi.</p>
<p>Tak lama, Ariel segera mengontak kawan-kawannya di Peterpan melalui handphone Kindi dan meminta mereka segera datang untuk mempertimbangkan garapan musik bersama Karat. ariel bilang siang itu Reza Peterpan memang berencana datang ke Kebon waru untuk membicarakan penggarapan musik mereka.</p>
<p>Obrolan lalu mulai mencair dan membahas berbagai hal hingga kahirnya tibalah jam 12, waktu di mana jam besuk sudah berakhir. Oks Mang Ariel, be good inside, kami akan berjuang di sini semampunya. Hajar!!!</p>
<p>Malamnya, Kimung menulis lirik lagu “The Great Beast” untuk Karat.</p>
<p><strong>27 Oktober, Kamis, Diskusi Musik dan Ideologi</strong></p>
<p>Sore ini digelar “Diskusi Musik dan Ideologi” dengan pembivara Kimung, Acep Iwan Saidi, dan Marine Ramdhani. Sebuah diskusi yang sangat mencerahkan di mana Karat dan fenomena karinding ini dibahas sebagai sebuah gejala yang positif bagi pendidikan musik dan ideologi anak muda Bandung. Uraiannya secara khusus akan dimuat di buku <em>Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels</em>. Malamnya, Kimun diwawancara oleh Mega Tribun Jabar mengenai Ujungberung Rebels, termasuk di dalamnya membahas geliat karinding.</p>
<p>Ini SMS-SMS dari Popup yang keberatan dengan ahrga jual buku Jurnal Karat yang cuma Rp. 75.000,-</p>
<p>Teras dinu 500 buku tea jigana mah rada over budget, eta harga 75rb mah mirah pisan lur, can diskon toko. Sekedar masukan 500 eks mah menurut pandangan gramedia masih print on demand,  batasanna 700 buku. MINIMAL 90rb, nuhun 07.41.45</p>
<p>Belum royalty penulis, artwork, desain, eta produksi tiasa ajeg 30 rb, mizan, gramedia, biasana jarang 4x tina hpp, biasana dugi ka 5x harga hpp, komo ngan 500eks, rahayu minor rahayu harga mayor, hehe apeu urs nya, tp da minor mah geus ngangkat budaya baca dgn fakta nyata, hellyeah! 07.50.05</p>
<p>Sip slam,at P’Kims mudah2an kelehan anda dalam menulis terbayar secara nyata di depan oks.08.08.46</p>
<p><strong>28 Oktober, Jumat, DISKO PEMBERONTAKAN!</strong></p>
<p>Hari ini rencananya Nick dan Bill akan pergi ke Bah Olot dan melakukan pengambilan gambar sang maestro karinding. Namun semalam sebelumnya Nick mengabarkan jika Bill merasa tidak sehat dan karenanya masih belum jelas apakah pengambilan gambar akan jadi atau tidak. Namun demikian, karena sudah janjian, Kimung dan Zia berangkat berdua ke Parakan Muncang. Berikut cuplikan jurnal perjalanan Kimung,</p>
<p>“…Kami berangkat dari Cilengkrang II. Tempat ini sangat bersejarah buat saya. Beberapa ingatan masa kecil sempat berkelebatan dalam pikiran saya selama menunggu Zia, ingatan-ingatan indah ketika saya masih bocah <em>jarambah</em> yang senangnya <em>ngarit</em>, bermain perang-perangan, bermain air di selokan besar seberang warung besar Haji Otong, melakukan hal-hal konyol lazimnya anak-anak kecil beribu imaji. Ingatan-ingatan ini terus menari-nari dan seketika menjelma ketika Zia tiba. Berjaket biru, putriku tampak segar hari ini. Dan <em>here we go!</em></p>
<p>Persinggahan pertama adalah kampus Sastra Unpad. Ke sini saya berencana mengunjungi mentor saya, Pak Reiza untuk memberikan buku <em>Jurnal Karat</em>. Namun sayang, Pak Reiza tak ada di tempat, jadi kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Sempat menemui Atep Market, Blue Hikers, Negeri Di Awan, dan kawan-kawan Pakilun, kami segera menuju Parakan Muncang. lewat Jalan Sayang—<em>Love Street</em> di mana kenangan-kenangan kembali membayang—kami sempat bertemu Kang Alan dan bapak.</p>
<p>Akhirnya, jam sebelas, kami sampai di sanggang Mang Dedi, di mana Zia mereparasi karindingnya yang rusak. Untunglah Mang Dedi bisa memperbaiki karindingnya dan bisa dimainkan lagi. Di sanggar, kami juga dibikin takjub dengan renteng sebelas nada plus dua kohkol buatan Mang Dedi. Papay tentu saja akan sangat senang dengan <em>waditra</em> ini karena akan menyedikan ruang eksplorasi baru yang lebih luas untuk ia jelajahi. Ketakjuban tak berhenti di situ. Dua gong tiup bengkok pesanan Okid ternyata sudah jadi juga dengan dua figur menghiasi bagian kepala gong tiup. Figur pertama Okid banget dengan pewajahan yang digambarkan sebagai buta ijo, sementara figur ke dua menggambarkan monster landak yang tak kalah garang. Mantaps! Tiga <em>waditra</em> ini tentu akan melengkapi Karat di termin ke dua penggarapan lagu-lagu barunya.</p>
<p>Tak lama di Mang Dedi, kami segera menuju sanggar Bah Olot. Wah, sudah lama sekali tak bertemu Bah Olot, kami dibuat takjub juga dengan sanggar Bah Olot. Ia kini sedang melakukan membangun saung-saung baru yang melengkapi sanggarnya, juga merancang panggung kecil di belakang sanggar di mana pettunjukan-pertunjukan kecil bisa digelar di sana. Saya memberikan buku <em>Jurnal Karat</em> kepada Bah Olot dan disambut hangat olehnya. Di tengah percakapan yang menghangat datang kabar dari Kang Acep Iwan Saidi bahwa perbincangan kami di diskusi “Musik dan Ideologi” ia tuliskan dan dimuat di Koran Kompas hari ini. Menjelang siang, kami pamit dulu ke Bah Olot karena saya ingin menunjukkan Rumah Pohon kepada Zia. Kami berjanji, pulangnya akan kembali lagi ke Bah Olot untuk menikmati liwet abah yang legendaris.</p>
<p>Tiba di Kawe, hijau serta merta menyambut kami dan membebaskan semua penat. Selamat datang di Gerbang Kerajaan Serigala…</p>
<p>Kami segera berjalan menuju Rumah Pohon. Tak banyak yang berubah di sepanjang jalan setapak ini. Yang berubah adalah Rumah Pohon yang kini dibangun satu panggung pergelaran dan satu tribun menonton. Rumahnya pun yang asalnya ada enam jadi hanya lima saja. Rumah yang sempat dijadikan tempat bernaung mikser Pa Andry selama <em>live recording</em> Karat di Rumah Pohon sudah tak ada. Senang sekali melihat Zia menikmati tempat ini. Ia bilang sangat suka sinar matahari yang turun dari sela-sela pepohonan sehabis hujan. Saya bilang saya suka bau tanahnya. Kami mengobrol banyak, saling bertukar cerita.</p>
<p>Jam setengah tiga, kami memutuskan kembali ke Parakan Muncang karena takut kesorean dan kehujanan. Dan benar saja, sepanjang perjalanan menuju sanggar Bah Olot kami diguyur hujan yang deras. Basah kuyup pakaian kami berdua. Sampai sanggar saya minta Zia menukar pakaiannya yang kuyup dengan kemeja saya, sementara saya menukar celana pendek yang basah dengan celana panjang. Saya lalu menukar kaos basah dengan kaos baru Bah Olot yang diproduksi anak-anak karinding Rancaekek. Saya belikan juga Zia satu biar seragam ayah dan putri. Saya juga memesan sebuah karinding ke Abah. Beberapa karinding saya pilih dan jatuhke satu karnding berraut kujang yang vibranya sangat panjang. Di tengah persiapan liwet, Okid menelpon dan mengabari jika ia sedang ada di Mang Dedi.</p>
<p>Sehabis bersantap bersama liwet Abah yang sangat menghangatkan, jam lima sore kami pamit ke Abah karena malamnya, Laras dan Karat harus latihan. Kami singgah dulu ke sanggar Mang Dedi untuk menemui Okid dan pamit ke Mang Dedi. Jam setengah enam kami sudah ada di jalanan, kembali berkendara menuju Common Room.</p>
<p>Ini <em>refreshing</em> saya yang pertama semenjak begitu kuat tekanan buku <em>Jurnal Karat</em> serta kolaborasi bersama Sarasvati dan Keenan Nasution sebulan yang lalu. Saya senang merefresh diri saya dengan meluangkan waktu dengan putri saya—biasanya saya selalu sendiri melakukan ini. Semoga alam terus berpihak kepada kita semua. Ahung…”</p>
<p>Malam ini Laras lebih dulu latihan walau Neng, Shifra, Mitha, dan Manda tak hadir. Namun Laras juga sepertinya tak fokus latihan malam ini. Kabar dari Zia, Laras sedang berencana melakukan perombakan perombakan personil bertukar posisi, dan mencari-cari posisi yang pas untuk masing-masing permainan <em>waditra</em>. Posisi pertama yang akan ditentukan adalah vokalis, dan karenanya malam itu semua sepakat karokean, mencari vokal siapa yang paling pas bernyanyi untuk Laras.</p>
<p>Karat pun tak banyak yang hadir malam itu, hanya Okid, Kimung, Hendra, Yuki, dan Papay yang ada. Man kabarnya sedang di Soreang berpidato di acara partai atau apa, Ki Amenk dan Jawis sedang menyambut tamu dari Pontianak yang akan manggung di Gor Gedebage esok hari. Jadi, yang awalnya Karat akan berlatih lagu-lagu persiapan konser bersama Ayu Laksmi dan konser tunggal, akhirnya sepakat menggarap lagu baru. Ditambah dengan renteng sebelas nada <em>waditra</em> baru yang harus dijajal oleh Papay malam itu. sementara itu Nick dan Bill yang sedari sore menanti-nanti, sudah siap dengan kamera rekamnya.</p>
<p>“Disko Pemberontakan” akhirnya digarap bersama malam itu. Lagu ini kental sekali diwarnai hentakan-hentakan disko, sesuai dengan judul lagunya. Ada sedikit kesulitan menentukan hitungan <em>roffle</em> celempung ketika masuk vokal. Kesulitan yang sama juga terjadi ketika masuk sesi refrain yang berubah menjadi lima hitungan. Namun, intensitas <em>sharing</em> Papay dan Hendra selama penggarapan lagu membuat bagan lagu ini untuk sementara bisa terumuskan.</p>
<p>Di tengah latihan Man datang. Laras juga kembali setelah karokean dan katanya belum juga terumuskan siapa vokalis utama Laras. Bersama Man, Karat meneruskan menggodok bagan yang sudah terumuskan dan kahirnya menjelang jam sebelas malam, usai sudah aransemen awal “Disko Pemberontakan” tersusun, termasuk <em>battle</em> renteng sebelas nada versus kendang penca, karki versus karjaw, suling vs maracas vs toleat, yang ditutup dengan <em>verse</em> vokal ke tiga dan dua kali refrain sebelum akhirnya lagu berakhir, semua selesai terumuskan untuk sementara.</p>
<p>Ini akan menjadi lagu yang sangat kuat!</p>
<p><em>In my life, I love you more…</em></p>
<p><strong>10 Playlist Jon 666 : </strong>Tarawangsa, The Beatles, Peterpan, Iwan Fals, Koil,<strong> </strong>Ayu Laksmi,<strong> </strong>Nine Inch Nails,<strong> </strong></p>
<p><strong>Books : </strong>Al Qur’an al Karim,<strong> </strong>Umar bin Ibn Khatab The Conqueror, naskah Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels</p>
<p><strong>Movies : </strong>Race the Sun,<strong> </strong></p>
<p><strong>Quotes : </strong></p>
<p><em>“(Ingatlah), ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman,’Apakah tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)? ‘Ya’ (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa katika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan  lima ribu malaikat yang memakai tanda.</em>” (Q.S. Ali Imran, 3 : 124-125)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalkarat.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalkarat.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalkarat.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalkarat.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalkarat.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalkarat.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalkarat.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalkarat.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalkarat.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalkarat.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalkarat.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalkarat.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalkarat.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalkarat.wordpress.com/305/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=305&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/12/jurnal-karat-92-28-oktober-2011-keenan-nasution-ayu-laksmi-ariel-peterpan-ideologi-musik-the-great-beast-dan-disko-pemberontakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/55a390890f4f949ec65a02a038a43bb4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalkarat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JURNAL KARAT # 91, 21 OKTOBER 2011, “JURNAL KARAT, KARINDING ATTACKS UJUNGBERUNG REBELS” RELEASES!!!</title>
		<link>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/12/jurnal-karat-91-21-oktober-2011-%e2%80%9cjurnal-karat-karinding-attacks-ujungberung-rebels%e2%80%9d-releases/</link>
		<comments>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/12/jurnal-karat-91-21-oktober-2011-%e2%80%9cjurnal-karat-karinding-attacks-ujungberung-rebels%e2%80%9d-releases/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 17:16:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalkarat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[KARINDING ATTACK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalkarat.wordpress.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[JURNAL KARAT # 91, 21 OKTOBER 2011, “JURNAL KARAT, KARINDING ATTACKS UJUNGBERUNG REBELS” RELEASES!!! Oleh Jon 666 15 Oktober, Sabtu Yuki berinisiatif untuk belanja bambu yang akan digunakan sebagai artwork sekitar arena Gedung Kebudayaan di mana peluncuran buku akan digelar. Bambu sebanyak dua mobil Colt buntung dipesan dan sepertinya ini masih akan kurang. Rencananya bambu-bambu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=301&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JURNAL KARAT # 91, 21 OKTOBER 2011, “JURNAL KARAT, KARINDING ATTACKS UJUNGBERUNG REBELS” RELEASES!!! </strong></p>
<p><strong>Oleh Jon 666</strong></p>
<p><strong>15 Oktober, Sabtu</strong></p>
<p>Yuki berinisiatif untuk belanja bambu yang akan digunakan sebagai <em>artwork</em> sekitar arena Gedung Kebudayaan di mana peluncuran buku akan digelar. Bambu sebanyak dua mobil Colt buntung dipesan dan sepertinya ini masih akan kurang. Rencananya bambu-bambu itu akan dibentuk menjadi kepala serigala sebagai gerbang arena, kujang besar, bebegig, dan  berbagai karya instalasi bambu lainnya si dalam dan sekitar arena.</p>
<p><strong>16</strong> <strong>Oktober, Minggu</strong></p>
<p>Kimung, Hana, dan Atar melihat Gedung Kebudayaan, atau Gedung Amphiteater, tempat di mana rencananya peluncuran buku Jurnal Karat akan digelar. Tak dinyana ternayta di halaman Himsra UPI persiapan penggarapan artwork sudah mulai dilakukan. Yuki bahkan ada di sana langsung mengawasi kerja adik-adik angkatannya di seni rupa. Kiki dan Tonyo turut serta mendampingi Yuki di sana.</p>
<p>Sms-sms dari Popup :</p>
<p><em>Hatur nuhun undanganna lur, oks. Aya di ims jam sbrh lur? Kaver senen naek ctk, mantaps bahan isi sadayana Paper One 70gr, 06.22.21</em></p>
<p><em>Anu ieu mah saya taekeun kana mesin GTO Heidelberg Jermsn, sami sareng kaver Scumbag, 06.25.50</em></p>
<p><em>Ok n finishing di MQ press, was ningali platna sadaya alumunium, hell pokona </em><em>J, 06.40.08</em></p>
<p><strong>17 Oktober, Senin</strong></p>
<p>Cover buku Jurnal Karat, Karinding Attack Ujungberung Rebels naik cetak! Bismillah…</p>
<p><strong>18 Oktiber, Selasa</strong></p>
<p>Ngumpul di Common Room. Kembali tak latihan, hanya mengobrol persiapan peluncuran buku <em>Jurnal Karat</em> dan konser tunggal Karat.</p>
<p><strong>19 Oktober, Rabu, Latihan Karat, Sarasvati, dan Keenan Nasution di Jakarta</strong></p>
<p>Hari ini Sarasvati dan Keenan Nasution berlatih di Jakarta. Sejak jam dua belas siang semua sudah berkumpul di Common Room, dan akhirnya, menggunakan bus Pemerintah Kabupaten Karawang, rombongan berangkat jam satu siang. Sampai Jakarta jam empat sore dan langsung menuju studio milik Zeke and the Popo di kawasan Panglima Polim. Studionya luar biasa dengan alat-alat yang berkualitas. Ruangannya sangat luas dan walau dingin oleh pendingan ruangan, memancarkan aura hangat. Mungkin karena lantai studio dibuat dari bahan berornamen kayu dan lampu-lampu ruangan yang klasik.</p>
<p>Jam lima sore Om Keenan tiba dan langsung bergabung latihan. Semua lagu yang dimainkan bersama Om Keenan dilatihkan. Ada beberapa perubahan nada dasar, namun semua berlangsung dengan lancar dan akrab. “Chopin Larung”, “Zamrud Khatulistiwa”, “Sendu” yang disambung “Oh I Knever Know” dilatihkan. Om Keenan juga sempat melakukan <em>session</em> bermain dram bersama Gembong, Akew, dan Dimas memainkan beberapa nomor klasik sebelum akhirnya berlatih dram “Story of Peter” di mana ia berencana berduel dram bersama Papay. Setelah melatih satu putaran lagu-lagu Sarasvati dan lima lagu yang akan dimainkan bersama Om Keenan, jam sembilan malam latihan akhirnya selesai.</p>
<p>Rombongan segera membereskan alat dan memasukkan ke dalam mobil. Jam sepuluh malam, bus sudah melesat kembali di jalanan menuju Bandung.</p>
<p>Besok hari yang penting : peluncuran buku <em>JURNAL KARAT, KARINDING ATTACKS UJUNGBERUNG REBELS!</em></p>
<p><strong>20 Oktober, Kamis, JURNAL KARAT KARINDING ATTACKS UJUNGBERUNG REBELS ON YER FACE!!!</strong></p>
<p>Sejak jam satu siang Karat sudah berkumpul di Gedung Kebudayaan UPI. Suasana tampak semarak siang itu. acara peluncuran buku <em>Jurnal Karat</em> kebetulan bersamaan dengan dies natalis UPI. Walau digelar di kawasan yang berbeda, tak urung UPI ramai sekali hari itu. di Gedung Kebudayaan, persiapan dilakukan terus dilakukan. Karya- karya instalasi bambu sudah ditata berdasarkan rencana. Masuk arena gedung kita akan disambut instalasi bambu kepala serigala, kemudian kujang bersar dari anyaman bambu, disambut satu wall 6 x 3 meter berisi memorabilia “Roots, Rocks, Rebels Homeless Crew Ujungberung Rebels” karya Kimung dan artefak-artefak geliat literasi yang dibangun mengenai ranah musik bawahtanah : buku <em>Tiga Angka Enam</em>, <em>Salamatahari</em>, <em>Sejarah Lokal Cianjur</em>, <em>Konsep dan Metode Sejarah Lisan</em>, <em>Myself Scumbag Beyond Life and Death</em>, <em>Narkomika</em>, dan <em>Memoar Melawan Lupa</em>.</p>
<p>Memanjang ke pojok gedung ada stand rokok Pro Mild Djarum sebagai sponsor, meja pers conference, stand Kacimprinx Attack dan buku <em>Jurnal Karat Karinding Attacks Ujungberung Rebels</em>, stand kopi dan gorengan gratis, hingga stand minuman Mang Dadan Unpas yang lejat itu.</p>
<p>Di dalam gedung, suasana juga sudah terbagun. Panggung sudah selesai di tata dengan nuansa hitan dan gambar cetak desain buku <em>Myself Scumbag Beyond Life and Death</em> serta <em>Memoar Melawan Lupa</em> di sisi kiri dan kanan. Tinggal tulisan Jurnal karat yang sedang dipasang. Bebegig-bebegig juga sudah ada. Sementara tata karya instalasi terus disusun, Jimbot melakukan cek tata suara bersama para penari yang melakukan latihan menari mengiringi musik yang dibangun Jimbot. Gigi, Indra, Uwox, Mang tahu, Zemo, Viki tampak sibuk membantu mengatur segala hal berkaitan dengan tata panggung. Sementara itu, Ghera diminta Kimung untuk menjemput kedua orang tua Kimung di Ujungberung.</p>
<p>Jam setengah tiga, giliran Karat yang cek tata suara. Ada kendala dengan tata suara, mungkin di penataan letak monitor sehingga tak semua suara bisa terkontrol. Sementara itu, waktu sudah semakin sore, dan cek tata suara akhirnya dicukupkan. Acara siap digelar dan audiens sudah mulai berdatangan memenuhi arena dan pelataran gedung, termasuk papih dan mamih, ke dua orang tua Kimung, wakil wali kota Bandung Ayi Vivananda serta para protokolernya yang tampak duduk-duduk di kursi stand Pro Mild bersama Gio dan Ardi. Karat yang baru usai cek tata suara segera menemui Pak Ayi di halaman. Pak Herman dan Eben yang baru datang, segera menggabungkan diri.</p>
<p>Jam setengah empat, para audiens dipersilahkan untuk menempati arena Gedung Kebudayaan. Tak disangka, audiens yang datang begitu banyak hingga Gedung   Kebudayaan yang besar itu penuh ditempati. Dibuka oleh MC Sony Bebek, akhirnya acara dimulai dengan sepatah dua patah kata dari Ketua Himpunan mahasiswa Seni Rupa UPI, dan kemudian dari wakil walikota Bandung, Ayi Vivananda. Acara segera berlanjut ke “Bubuka” dari Syeh Jimbot dan Empat Penari serta pembacaan narasi yang impresif dari Man mengenai Kimung. benar-benar sebuah narasi eksprsif yang mengungkapkan sejarah hidup Kimung di titik-titik detil yang tak terduga hahaha…. Haturnuhun Mang Man!</p>
<p>Setelah itu, Presiden Republik Gaban didaulat untuk membacakan pidato kenegaraan Republik Gaban menyambut peluncuran buku Jurnal Karat, dilanjut dengan talkshow Eben Burgerkill dan El Presidente Bikers Brotherhood Budi Dalton yang dipandu moderator Gustaff H. Iskandar. Ini sebetulnya diluar skenario karena kesepakatan awal, pidato kenegaraan Presiden Republik Gaban dan Imam Besar The Panas Dalam serikat digelar setelah talkshow Budi Dalton dan Eben Burgerkill.</p>
<p>Namun acara tetap semarak! Karat tampil kemudian membawakan lagu “Lapar Ma!” dan “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan”, lalu diteruskan oleh pidato kenegaraan Imam Besar The Republik Panas Dalam Pidi Baiq Serikat, yang kemudian melakukan dialognya bersama Presiden Republik Gaban,El Presidente Budi Dalton, dan Pak Ayi Vivananda. Dialog ini merupakan pengantar menuju puncak acara, yaitu peluncuran buku <em>Jurnal Karat</em>.</p>
<p>Peluncuran diawali oleh naiknya sampul buku <em>Jurnal Karat</em> dari “bawah tanah” (bawah panggung) hingga <em>panceg</em> utuh, disusul oleh hadirnya Kimung yang dijemput oleh dua penari ke atas panggung menyerahkan buku kepada semua kepada Ayi Vivananda, Budi Dalton, Pidi baiq, Man Jasad, Eben, hingga akhirnya kepada Hana sang istri dan Mamih Papih, ayah dan ibunda Kimung. Saking gugup, Kimung lupa memanggil semua personil Karat, Himasra UPI, dan Abah Andris untuk ikut serta naik ke panggung. Setelah ucapan terima kasih, Kimung akhirnya menutup rangkaian peluncuran buku dengan, “Saya minta kepada kawan-kawan yang mendokumentasikan acara ini untuk memasang berbagai dokumentasinya yang bebas akses di internet. Dengan begitu banyak informasi mengenai karinding, maka karindign akan terus hidup di dalam masyarakat kita.”</p>
<p>Jam setengah enam, acara akhirnya ditutup oleh MC Sony Bebek dan audiens bubar dengan tertib. Beberapa membeli buku dan ikut bersantai sambil menyaksikan penandatanganan buku oleh Kimung.</p>
<p>Sehabis acara semua berkumpul di Common Room. Tahap ini sudah selesai, tinggal <em>Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels</em> kini yang harus dihajar.</p>
<p><em>Terima kasih semua…</em></p>
<p><strong>21 Oktober, Jumat</strong></p>
<p><em>Ang sukses kamari acarana edan pisan euy.. Bangga  ang. Sorry urang kamari beres acara ngobrol jeung barudak keudeung trus balik. Sukses terus tong eureun tutulisan..</em></p>
<p>Abah Andris, 15.56.25</p>
<p><strong>10 Playlist Jon 666 : </strong>Tarawangsa, The Beatles, Euis Komariah, Darso, John Lennon, The Band of Gypsy, Chrisye, Keenan Nasution, Sarasvati, Eddie Vedder</p>
<p><strong>Books : </strong>Al Qur’an al Karim,</p>
<p><strong>Movies : </strong>Pink Floyd The Wall</p>
<p><strong>Quotes : </strong></p>
<p><em>“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus semua kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam surge-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan  orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata,’Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” </em>(Q.S. At-Tahrim, 66 : <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>“<em>Sawelas, cahaya di salira.</em>” (Bah Adung)</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalkarat.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalkarat.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalkarat.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalkarat.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalkarat.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalkarat.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalkarat.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalkarat.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalkarat.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalkarat.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalkarat.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalkarat.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalkarat.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalkarat.wordpress.com/301/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=301&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/12/jurnal-karat-91-21-oktober-2011-%e2%80%9cjurnal-karat-karinding-attacks-ujungberung-rebels%e2%80%9d-releases/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/55a390890f4f949ec65a02a038a43bb4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalkarat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JURNAL KARAT # 90, 14 Oktober 2011, CHOPIN KARAT</title>
		<link>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/12/jurnal-karat-90-14-oktober-2011-chopin-karat/</link>
		<comments>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/12/jurnal-karat-90-14-oktober-2011-chopin-karat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 17:13:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalkarat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalkarat.wordpress.com/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[JURNAL KARAT # 90, 14 Oktober 2011, CHOPIN KARAT Oleh Jon 666 12 Oktober, Rabu Sesi latihan Sarasvati bersama Karat di studio Aru. Di sesi ini, lagu “Zamrud Khatulistiwa” dan “Sendu” semakin dimantapkan. Solo kacapi Jimbot di “Chopin Larung” juga semakin berpadu dengan aransemen musik sarasvati, bahkan jadi bagian penting yang menandai kesinambungan pola satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=299&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JURNAL KARAT # 90, 14 Oktober 2011, CHOPIN KARAT </strong></p>
<p><strong>Oleh Jon 666</strong></p>
<p><strong>12 Oktober, Rabu</strong></p>
<p>Sesi latihan Sarasvati bersama Karat di studio Aru. Di sesi ini, lagu “Zamrud Khatulistiwa” dan “Sendu” semakin dimantapkan. Solo kacapi Jimbot di “Chopin Larung” juga semakin berpadu dengan aransemen musik sarasvati, bahkan jadi bagian penting yang menandai kesinambungan pola satu ke pola selanjutnya walau dalam hentakan yang berbeda. Lagu Sarasvati juga latih di sesi ini.</p>
<p>Papay bercerita, sebenarnya ia ingin membawa musiknya lebih ke rock progresif. Ini juga dikuatkan dengan kecenderungan Jimbot yang sangat eksploratif dalam membangun rincik nada kacapi serta doyan bermain-main di perpindahan pola-pola dramatis, terutama  di lagu “Chopin Larung.” Arah ini tentu saja disambut oleh Kimung dan Okid yang memang lebih banyak berdiri di ranah musik progresif metal. Namun, Papay sendiri masih gamang mengemukakan idenya kepada Sarasvati walau ia sendiri menilai kecenderungan permainan kibor Gembong di Sarasvati yang selalu eksploratif dan progresif.</p>
<p><strong>13</strong> <strong>Oktober, Kamis </strong></p>
<p>Sesi latihan Sarasvati bersama Karat di Common Room. Latihan di Common Room membuat celempung dan karinding bisa ulai terkontrol polanya. Di Studio Aru, karena keterbatasan mikrofon, arena latihan Karat terbatasi. Dengan latihan di Common Room yang menyediakan begitu banyak <em>channel</em> dan mikrofon, kontrol pola permainan karindingan bisa semakin tertata.</p>
<p><strong> 14 Oktober, Jumat</strong></p>
<p><em>Hajar mangs!</em></p>
<p><strong>10 Playlist Jon 666 : </strong>Tarawangsa, The Beatles, The Doors, Sarasvati, Keenan Nasution, Chrisye, Peterpan, Dream Theater, Pink Floyd, Queen</p>
<p><strong>Books : </strong>Al Qur’an al Karim, Five Against One</p>
<p><strong>Movies : </strong>The Doors Movies</p>
<p><strong>Quotes :</strong></p>
<p><em>Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang</em> (QS Al Qamar, 54 : 45)</p>
<p><em>Sesungguhnya, kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata</em> (QS Al Fath, 48 : 1)</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalkarat.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalkarat.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalkarat.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalkarat.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalkarat.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalkarat.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalkarat.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalkarat.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalkarat.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalkarat.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalkarat.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalkarat.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalkarat.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalkarat.wordpress.com/299/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=299&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/11/12/jurnal-karat-90-14-oktober-2011-chopin-karat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/55a390890f4f949ec65a02a038a43bb4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalkarat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JURNAL KARAT # 89.5 SELAMAT DATANG DI GERBANG KERAJAAN SERIGALA!</title>
		<link>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/10/12/jurnal-karat-89-5-selamat-datang-di-gerbang-kerajaan-serigala/</link>
		<comments>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/10/12/jurnal-karat-89-5-selamat-datang-di-gerbang-kerajaan-serigala/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 10:34:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalkarat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalkarat.wordpress.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[JURNAL KARAT # 89.5 SELAMAT DATANG DI GERBANG KERAJAAN SERIGALA! Oleh Jon 666 8 Oktober, Sabtu, Latihan Pertama Karat dan Sarasvati untuk Djakarta Artmosphere Djakarta Artmosphere adalah sebuah cita-cita mengenalkan dan menyelaraskan musik Indonesia lama dengan yang baru, berusaha mengingatkan kembali bahwa banyak hal belum terangkat yang kiranya dapat menginspirasi generasi sekarang demi berkembangnya musik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=296&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JURNAL KARAT # 89.5 SELAMAT DATANG DI GERBANG KERAJAAN SERIGALA!</strong></p>
<p><strong>Oleh Jon 666</strong></p>
<p><strong>8 Oktober, Sabtu, Latihan Pertama Karat dan Sarasvati untuk Djakarta Artmosphere</strong></p>
<p>Djakarta Artmosphere adalah sebuah cita-cita mengenalkan dan menyelaraskan musik Indonesia lama dengan yang baru, berusaha mengingatkan kembali bahwa banyak hal belum terangkat yang kiranya dapat menginspirasi generasi sekarang demi berkembangnya musik Indonesia. Cita-cita ini dilaksanakan dalam bentuk pagelaran musik kolaborasi antara musisi Indonesia lintas generasi yang akan digelar tanggal 22 Oktober 2011. Panggung utama terletak di Tennis Indoor Senayan, menampilkan kolaborasi Koes Plus dengan The Brandals, Yockie Suryoprayogo dengan Pure Saturday,  Margie Segers dengan Endah n’ Rhesa, serta Keenan Nasution dengan Sarasvati. Karat di acara ini mendukung Sarasvati memainkan lagu-lagu Sarasvati dan Keenan Nasution. Tiga lagu baru yang akan dimainkan adalah karya Guruh Soekarnoputra, “Zamrud Khatulistiwa”, “Sendu”, dan lagu berbahasa Bali, “Chopin Larung”.</p>
<p>Selain panggung utama, ada juga panggung “Joyland”, di pelataran area luar depan gedung Tennis Indoor yang menampilkan beberapa band yang sesuai dengan tema yang diangkat tahun ini, <em>psychedelic</em>. Beberapa band yang tampil di sini adalah, Dialog Dini Hari, White Shoes &amp; The Couples Company, Sir Dandy, Luky Annash, dan The Experience Brothers.</p>
<p>Latihan pertama digelar di Studio Aru, Jalan Riau Bandung, semua fokus ke lagu “Chopin Larung” lagu yang memiliki bagan musik yang kaya dan sangat teatrikal. Tak cuma keahlian musik yang harus dimainkan di lagu ini, namun juga alur yang dikisahkan. Solo piano di tengah lagu akan digubah menjadi solo kacapi yang dimainkan Jimbot bersahutan dengan karinding, celempungan, dan kacapi awi. Ini menjadi salah satu elemen yang penting dalam membangun nyawa “<em>die hard</em>” lagu ini. Dua lagu lain, “Zamrud Khatulistiwa” dan “Sendu” juga dimainkan di sesi latihan ini.</p>
<p><strong>9</strong> <strong>Oktober, Minggu, Karat, Sarasvati, dan Keenan Nasution </strong></p>
<p>Jam setengah sebelas, Okid dan Wisnu mewakili Karat berangkat ke Jakarta bersama Sarasvati menemui Keenan Nasution untuk sharing kolaborasi mereka di Djakarta Artmosphere. Bersama Syauqi, Risa, Gembong, Akew, Egi, rombongan sampai di Jakarta jam setengah tiga, dan Dimas bergabung di sana. Semua langsung menuju rumah Keenan dan sesampainya di sana sudah ada panitia Djakarta Artmosphere menyambut juga.</p>
<p>Awalnya canggung berhadapan dengan salah satu legenda musik Indonesia ini. Namun keterbukaan Keenan dan istrinya, Ida Royani, mencairkan segalanya. Keramahan mereka menyambut tamu-tamunya membuat suasana hangat terasa. Ida Royani menyuguhkan teh buatannya sendiri yang begitu lezat.  Ketika ia menawarkan siapa yang mau nambah, semua angkat tangah. Tehnya memang benar-benar lezat.</p>
<p>Perbincangan pun dimulai, dari membahas penggantian nada dasar lagu, pesan Keenan agar jembatan piano di lagu “Chopin Larung” jangan dirobah karena itu butan Guruh Soekarnoputra. Keenan sempat berkisah mengenai proses Guruh menciptakan jembatan di “Chopin Larung”, ketika ia ada di Bali dan membayangkan dan dilarung di sana. Lagu ini pada dasarnya adalah kritik Guruh terhadap Bali yang terlalu tebuka dalam menerima pengaruh asing karena ini berpotensi mereduksi nilai-nilai kehidupan Bali itu sendiri. Keenan juga menjajaki kemungkinan duet dram bersama Papay, namun kemungkinan Papay akan bermain celempung renteng diiringi karinding celempung oleh Karat. <em>Sharing</em> diteruskan membahas hal-hal teknis dan akhirnya semua sepakat untuk latihan bersama hari Sabtu atau Minggu di studio Zeke and the Popo.</p>
<p>Keramahtamahan tuan rumah terus berlanjut. Ketika rombongan akan pamit, Tante Ida melarang Sarasvati dan Karat agar jangan dulu pulang. “Kalian harus ngerasain martabak paling enak di Jakarta!” katanya. Maka obrolan diteruskan semakin hangat dan larut. Tante Ida bercerita tentang kehidupan artis pada masa beliau, sang legenda Benyamin S., sosok yang menjadi pasangan duetnya dulu. Begitu banyak kenangan bersama Bang Ben yang diceritakan Ida. Tante Ida juga bercerita tentang band favoritnya, The Rollies. “Gito Rollies itu keren kalo udah bergaya dengan rambut kribonya, tapi kalo udah ngomong bahasa Sunda, hilang sudah semua hahaha,”</p>
<p>Di tengah obrolan, Okid sempat memperkenalkan <em>waditra</em> karinding kepada panitia. Panitia menyatakan tak salah mengundang Sarasvati karena mereka kini punya wawasan baru mengenai music karinding dan Karat sendiri. Silaturahmi akhirnya selesai jam setengah tujuh malam. Setelah berfoto bersama, jam setengah tujuh ombongan pulang kembali ke Bandung.</p>
<p>Kimung sebetulnya sangat ingin ikut menemui Keenan. Tapi ia harus tampil bersama Sonic Torment di gelaran Kickfest 2011 di Gasibu, Bandung. Sebuah penampilan yang spektakuler, dengan penonton yang spektakuler juga.  Kita ceritakan ini lebih seru di buku ke tiga <em>Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels </em>oks. Usai tampil, Kimung bertemu Angkuy Bottle Smoker di arena penonton Kickfest. Angkuy mengabarkan akan ada dua mahasiswa asal Detroit, Amerika Serikat, akan datang ke Bandung untuk membuat film dokumenter mengenai musik tradisional. Untuk itu Angkuy akan menyambungkan Kimung dengan dua mahasiswa ini dalam pembuatan film tersebut. <em>Hajar mangs!</em></p>
<p><strong>10 Oktober, Senin, Koreksi Terakhir &amp; Karat vs Malaikat dan Singa</strong></p>
<p>Koreksi terakhir, menulis Jurnal Karat 89.5 yang isinya hingga hari ini, Senin. Jurnal akan ditutup hari Selasa besok.</p>
<p>Koreksi naskah terakhir, melengkapi Daftar Isi, mengecek link ketersambungan foto degan naskah, dan membuat dalam format PDF. Pekerjaan ini dilakukan Kimung dan Popup di kamar kerja Popup.</p>
<p>11 <strong>Oktober, Selasa, SELAMAT DATANG DI GERBANG KERAJAAN SERIGALA!!!</strong></p>
<p>Maka demikianlah saya harus menutup buku ini. Ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada awal ada akhir, dan koin tak akan bermakna jika hanya punya satu sisi mata uang saja. Namun ini bukan akhir. Ini adalah awal. Gerbang pemahaman kita akan sesuatu yang lama namun terus kita perbaharui seiring tarikan napas dalam gejolak hasrat kita yang terus bergelora.</p>
<p>Perjalanan Karat masih sangatlah panjang. Tanggal 22 Oktober 2011, Karat akan mendukung kolaborasi Sarasvati dengan Keenan Nasution di acara Djakarta Artmosphere, Tennis Indoor Senayan, tanggal 23 Oktober 2011 akan tampil di Bumi Sangkuriang bersama Abah Iwan Abdurrahman, Ayu Laksmi, Glenn Fredly, dan musisi-musisi lain, dan tentu saja gelaran konser tunggal sekaligus peluncuran album perdana Karat tanggal 16 Desember 2011 di Hotel Hilton Bandung. Setelah itu banyak sekali para penyelenggara acara yang sudah mendekati Karat. Setidaknya tawaran tampil bagi Karat sudah sampai hingga Februari 2012. Lagu-lagu baru juga sedang menanti untuk digarap. Setidaknya Kimung sudah memiliki tujuh lagu baru yang siap digarap untuk Karat, “Disko Pemberontakan”, “We’re Different Cos We Play Free!”, “KDWL”, “Ti Isuk Jedu Nepi ka Sore Jeder”, “Jalanan Ujungberung”, “Kagok Borontok Kapalang Carambang”, dan “Madya Gantang”; ditambah tiga lagu terbaru karya Man, “Anak Monyet”, “Usaha”, dan “Kaki Industri”. Kimung juga sehat wal afiat dan terus menuliskan jurnal-jurnal Karat setiap harinya. <em>Amiin</em>.</p>
<p>Hari-hari selalu berganti dan karenanya saya tahu saya dan kamu juga terus berubah. Ke arah yang semakin baik, selalu, tentunya.</p>
<p><em>I luv you</em>. <em>Godbless always</em>. <em>Alhamdulillah</em>.</p>
<p><em>Ahung Rahayu</em>.</p>
<p><em>Selamat datang di Gerbang Kerajaan Serigala!</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalkarat.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalkarat.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalkarat.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalkarat.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalkarat.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalkarat.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalkarat.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalkarat.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalkarat.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalkarat.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalkarat.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalkarat.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalkarat.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalkarat.wordpress.com/296/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=296&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/10/12/jurnal-karat-89-5-selamat-datang-di-gerbang-kerajaan-serigala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/55a390890f4f949ec65a02a038a43bb4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalkarat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JURNAL KARAT # 89, 7 Oktober 2011, Holiday in the Sun!</title>
		<link>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/10/12/jurnal-karat-89-7-oktober-2011-holiday-in-the-sun/</link>
		<comments>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/10/12/jurnal-karat-89-7-oktober-2011-holiday-in-the-sun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 10:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalkarat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalkarat.wordpress.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[JURNAL KARAT # 89, 7 Oktober 2011, Holiday in the Sun! Oleh Jon 666 1 Oktober, Sabtu, Kimung masih terus konsentrasi penuh kepada buku Jurnal Karat. Koreksi redakasi ia lakukan di dummy Jurnal Karat. Hingga penutupan hari ini, Kimung sudah masuk ke halaman 190. Sambil iseng, ia juga mulai menggarap tata letak buku Panceg Dina [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=293&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JURNAL KARAT # 89, 7 Oktober 2011, Holiday in the Sun!</strong></p>
<p><strong>Oleh Jon 666</strong></p>
<p><strong>1 Oktober, Sabtu,</strong></p>
<p>Kimung masih terus konsentrasi penuh kepada buku <em>Jurnal Karat</em>. Koreksi redakasi ia lakukan di <em>dummy Jurnal Karat</em>. Hingga penutupan hari ini, Kimung sudah masuk ke halaman 190. Sambil iseng, ia juga mulai menggarap tata letak buku <em>Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels</em> yang merupakan seri terakhir sejarah komunitas dan ranah musik metal tertua dan terkuat di Indonesia, Ujungberung Rebels. <em>Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels</em> semoga bisa dirilis Desember 2011.</p>
<p>Malam harinya, Okid bergabung dengan jimbot dan Trah, tampil di Festival Bambu Nusantara. Karat juga sebetulnya ditawari tampil di acara ini, namun Karat berhalangan karena Man harus tampil bersama Jasad.</p>
<p><strong>2</strong> <strong>Oktober, Minggu,</strong></p>
<p>Kimung menyelesaikan koreksi <em>Jurnal Karat</em> di <em>dummy</em> dan siap editing ulang data lunak di Adobe Pagemaker. Ia juga mengumpulkan beberapa foto untuk melengkapi kisah-kisah di dalam buku <em>Jurnal Karat</em>.  Kimung juga menyelesaikan <em>outline</em> buku <em>Sejarah Karinding Priangan</em>. Bahasan buku ini adalah sejarah karinding di Tatar Priangan, yaitu kawasan Bogor sampai Ciamis. Akan dibahas juga karinding di luar Priangan sebagai pembanding pembahasan. Beberapa daerah yang rencananya akan dieksplorasi adalah Banten (krinding), Yogyakarta (genggong), Kalimantan (karindang), Sulawesi (dunga), Bali (genggong), Nepal (jawharp), dan Cina (chang). Rencananya buku ini adalah kajian ilmiah yang mengasyikkan. Akan didukung oleh berbagai ahli keilmuan seperti filolog dan antropolog. Tebal buku sekitar 400 halaman. Buku ini akan digarap bersamaan dengan penulisan buku seri sejarah musik bawahtanah Bandung 1990 – 2015.</p>
<p><strong>3 Oktober, Senin, Man, Ki Amenk dan Wisnu di syuting Kelas Aksara Kuno di Kick Andy</strong></p>
<p>Ki Amenk dan Wisnu menghadiri syuting kelas Aksara Kuno di Kick Andy. Bisa dikatakan, Kelas Aksara Kuno yang kini dikelola filolog Sinta Ridwan di Gedung Indonesia Menggugat sangat erat hubungan dengan Ujungberung Rebels, Bandung Death Metal Syndicate, dan tentunya Karat. Hubungan ini akan dibahas secara mendalam di buku <em>Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels</em>.</p>
<p>4 <strong>Oktober, Selasa, Rapat Buku <em>Jurnal Karat</em>, Karat dan Atap Promotion</strong></p>
<p>Jam empat sore, Yuki dan Kimung di Common Room untuk membicarakan rencana peluncuran buku <em>Jurnal Karat</em>. Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan peluncuran buku akan digelar di Gedung Ampli. Gedung ini representatif, dengan satu bangunan tambahan yang bisa digunakan sebagai galeri dokumentasi, tempat penjualan pernak-pernik, konferensi pers, dan pembubuhan tanda tangan. <em>Artwork</em> dan berbagai <em>gimmick</em> yang dibuat untuk membangun nuansa “Gerbang Kerajaan Serigala” di jalan sekitar gedung. Awalnya <em>artwork</em> akan menggunakan manekin-manekin berwajah Kimung. Namun Kimung tak setuju. Ia meminta <em>bebegig-bebegig</em> berwajah serigala.</p>
<p>Penggarapan acara peluncuran buku juga bekerja sama dengan mahasiswa, sejauh ini Karat bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Seni Rupa UPI (HIMASRA UPI). Kerja sama ini bisa memanjangkan tali silaturahmi, mengingat akan banyak proyek musik yang bisa digarap bersama-sama.</p>
<p>Sepanjang berbincangan Kimung dengan Yuki, Jimbot mengeksplorasi kacapi dengan suling yang ia mainkan sendiri. <em>What a great experience</em> <em>Man Jims</em>!</p>
<p>Tak lama kemudian Gio, Ardi, dan … bertemu Yuki dan Kimung. Segera saja Yuki dan Kimung membicarkan kemungkinan menggelar peluncuran buku di Gedung Ampli dengan berbagai pertimbangannya. Gedung Ampli menjadi tempat utama yang akan diajukan ke pihak sponsor besok.</p>
<p>Perbincangan bergulir ke artis pendukung acara. Terinspirasi dari permaianan solo kacapi suling Jimbot barusan, Kimung secara spontan mengajukan format tarian teatrikal pembuka acara yang diajukan Jimbot beberapa hari sebelumnya, dalam bentuk solo kacapi suling Jimbot yang mengiringi tarian empat penari yang mengelilinginya. Ini tentu akan menjadi sebuah aksi yang sangat menarik! Jimbot sendiri segera menyanggupi permintaan Kimung. Ia berjanji akan segera mempersiapkan semuanya. Pembahasan lalu bergulir ke anggaran acara. Beberapa difiks hari ini untuk diajukan besok ke sponsor. <em>Bismillah…</em></p>
<p>Kimung pamit duluan sementara Yuki, Gio, Ardi, …, dan Jimbot meneruskan menggodok format acara peluncuran buku nanti.</p>
<p><strong>5 Oktober, Rabu, Jurnal Karat Book On Yer Face!</strong></p>
<p>Jam setengah empat semua yang terkait rencana penerbitan buku Jurnal Karat, Kimung, Gio, Ardi, …, dan Pak Herman berkumpul di kantor Djarum. Agenda hari ini adalah membicarakan rencana peluncuran buku dan teknis penerbitan buku <em>Jurnal Karat</em>. Gio membuka pertemuan dengan cerita mengenai Gedung Ampli dan format acara yang akan digelar. Gio juga mengemukakan kemungkinan kerja sama dengan mahasiswa dan berbagai hal yang bida digarap bersama para mahasiswa ini di kesemparan ke depannya. UPI juga relatif dekat dengan ranah karinding Lembang, Cimahi, dan Batujajar, walau relatif jauh dari ranah musik karinding Cicalengka. Namun, Kimung dan Yuki yakin, militansi dan perasaan kekeluargaan yang telah terjalin selama ini niscaya akan memupus jarak. Kawan-kawan Cicalengka pasti akan hadir di acara ini. Begitu pula dengan kawan-kawan lain dari seluruh kawasan di mana karinding tumbuh dan berkembang yang akan diundang di acara ini. Kimung bahkan mengabari dan mengajak Eddie Vedder untuk datang, melalui alamatnya di website Pearl jam.</p>
<p>Pak Herman memiliki pandangan lain mengenai hal ini. Ia lebih memilih alternatif tempat peluncuran di ruang terbuka. Ia memberikan beberapa opsi di Plaza UPI, Balaikota Bandung, atau beberapa tempat terbuka lainnya. Ardi malah memberikan opsi di Pendopo Bandung. Beberapa opsi ini akan terus digodok, walau cenderung yang akan dijajaki adalah Plaza UPI. Rangkaian acara sendiri cenderung disetujui, hanya Pak Herman mengajukan Rony Urban sebagai MC nanti. Ia juga kembali menegaskan bahwa Djarum akan mendukung penerbitan buku <em>Jurnal Karat</em> minimal untuk lima ratus eksemplar, selain juga gelaran acara peluncurannya. Man datang tak lama setelah pembahasan peluncuran buku <em>Jurnal Karat</em>.</p>
<p>Perbincangan bergulir ke rencana konser tunggal Karat. dalam hal ini, Pak Herman menegaskan bahwa konser harus digelar bulan Desember sebelum akhir minggu agar tidak bias dengan natal dan tahun baru. Untuk itu, ia mengajukan tanggal 9 atau 16 Desember, namun cenderung akan dikejar di tanggal 9 Desember. Dalam kesempatan itu, Man juga menceritakan hasil rembukan bersama Karat yang mengajukan dua opsi artis kolaborator, antara Mulan Jameela atau Iwan Fals. Ke dua artis ini masih sangat tentatif. Yang jelas, Pak Herman menegaskan bahwa dalam konser ini harus ada narasi yang dibuat sehingga pemilihan kolaborator bisa sesuai dengan kisah Karat. Pilihan menghadirkan Risa Sarasvati dan Agung Burgerkill sepertinya bisa dijadikan alternatif artis kolaborator. Yang jelas Pak Herman juga menghimbau Karat untuk menghadirkan satu narasi cerita tentang Karat di mana Karat bebas mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan selama ini.</p>
<p><strong>6 Oktober, Kamis,</strong></p>
<p>Edit naskah buku <em>Jurnal Karat</em> di data lunak Adobe Pagemaker. Koreksi berdasarkan atas pembacaan <em>dummy</em> naskan buku <em>Jurnal Karat</em>.</p>
<p><strong>7 Oktober, Jumat Kramits</strong></p>
<p>Kimung mengoreksi naskah dan melengkapi foto-foto pendukung buku <em>Jurnal Karat</em>. Ada enam belas koreksi lagi, kebanyakan di pelengkapan foto-foto.</p>
<p>Malamnya, Karat latihan di Common Room. Ini adalah latihan pertama sejak terakhir satu bulan lebih Karat tidak latihan. Semua lagu lagu dihajar namun yang menarik, lagu-lagu Karat yang klasik menjadi perhatian utama. “Hampura Ma” dan “Hampura Ma II” secara serius digarap dan diaransemen ulang. Ada banyak penambahan <em>waditra</em> sejak lagu ini ditulis sehingga dibutuhkan aransemen ulang untuk membawakan lagu-lagu ini.</p>
<p>Usai latihan, Karat membicarakan urutan lagu di konser tunggal. Rencananya konser akan digelar dalam tiga sesi. Sesi pertama akan dimainkan lagu “Bubuka”, “Hampura Ma I”, “Dadangos Bagong”, Wasit Kehed”, dan ditutup “Burial Buncelik” yang rencananya akan berkolaborasi dengan Sony Akbar.</p>
<p>Sesi ke dua akan diawali pemutaran film dokumenter atau klip, dilanjut “Hampura Ma II” dan klip, “Ririwa di Mana-mana”, “Sia Sia Asa Aing”, “Gerbang Kerajaan Serigala”, “We Are The World”, dan ditutup kolaborasi dengan Bah Iwan Abdurrahman. Sesi ke tga akan dibuka dengan video dokumenter, penyerahan penghargaan kepada enam tokoh yang sangat berjasa kepada Karat selama ini, dilanjut lagu “Yaro”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Lapar Ma!” disambung dengan “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan” yang rencananya akan berkolaborasi dengan Iwan Fals, untuk sementara ini lagu yang dimainkan bersama lagu ini adalah lagu “Surat Buat Wakil Rakyat”. Konser akan ditutup oleh <em>encore</em> “Lagu Perang” dan “Kawih Pati.”</p>
<p>Dibicarakan juga para kolaborator lain, para musisi, tarian-tarian yang mengiringi konser Karat, konsep <em>artwork</em>, hingga bentuk penghargaan yang akan diberikan kepada para tokoh. Obrolan bergulir terus penuh hasrat, hingga tak terasa jam tiga pagi menjelang.</p>
<p><em>It’s time to take a rest baby…</em></p>
<p><strong>10 PLAYLISTS JON 666 : </strong>Tarawangsa,<strong> </strong>The Beatles, Iwan Fals, Eddie Vedder, Guns n’ Roses, Black Sabbath, Led Zeppelin, Motorhead, Slayer, Napalm Death</p>
<p><strong>BOOKS : </strong><em>Jurnal Karat, Karinding Attacks Ujungberung Rebels</em></p>
<p><strong>MOVIES : </strong>Shutter Island</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalkarat.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalkarat.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalkarat.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalkarat.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalkarat.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalkarat.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalkarat.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalkarat.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalkarat.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalkarat.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalkarat.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalkarat.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalkarat.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalkarat.wordpress.com/293/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=293&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/10/12/jurnal-karat-89-7-oktober-2011-holiday-in-the-sun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/55a390890f4f949ec65a02a038a43bb4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalkarat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JURNAL KARAT # 88, 30 September 2011, G30S/KARAT vs KICIMPRING ATTACK!</title>
		<link>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/10/12/jurnal-karat-88-30-september-2011-g30skarat-vs-kicimpring-attack/</link>
		<comments>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/10/12/jurnal-karat-88-30-september-2011-g30skarat-vs-kicimpring-attack/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 10:33:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalkarat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalkarat.wordpress.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[JURNAL KARAT # 88, 30 September 2011, G30S/KARAT vs KICIMPRING ATTACK! Oleh Jon 666 24 September, Sabtu, Kekar di Braga Fest 2011 Simak penuturan Viki Rascal mengenai panggung Kekar di Braga Festival 2011, Kali ini tiga band karinding yang selalu berlatih di Common Room kembali beraksi diatas satu panggung yang sama yaitu di Arena Sawah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=291&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JURNAL KARAT # 88, 30 September 2011, G30S/KARAT vs KICIMPRING ATTACK!</strong></p>
<p><strong>Oleh Jon 666</strong></p>
<p><strong>24 September, Sabtu, Kekar di Braga Fest 2011</strong></p>
<p>Simak penuturan Viki Rascal mengenai panggung Kekar di Braga Festival 2011,</p>
<p>Kali ini tiga band karinding yang selalu berlatih di Common Room kembali beraksi diatas satu panggung yang sama yaitu di Arena Sawah Braga Festival tanggal 24 September. Karinding Riot, Flava Madrim, Laras, Paperback, dan Karinding Attack mulai main jam tiga sore. Selain itu tampil Karinding Militan dan Awi Buhun dari Jatinangor.</p>
<p> Jam setengah tiga sore Paperback sudah standby di venue yang sudah banyak orang yang tampaknya sudah ramai sejak pagi. Lokasi panggung Sawah ini berada di jalan Braga gedung Sarinah. Suasana yang disiapkan panitia sangat cocok dengan panggung yang dibuat persis saung bambu yang berada di tengah-tengah sawah. Tanaman padi yang ada dalam pot diatur pada sisi kiri dan kanan panggung dan bila kita melihat dari kejauhan maka akan tampak ada saung bambu di tengah sawah. Suasana yang dibangun sangat baik dan penonton duduk diatas kursi yang terbuat dari bambu pula.</p>
<p>Sayang suasana ini kurang ditunjang oleh kesigapan panitia. Namun tak ambil pusing kru Paperback langsung menata alat dan suara.  </p>
<p>Panggung pertama dipanaskan oleh Paperback dengan dibuka oleh intro lalu membawakan “Piquette”, “Till There Was You”, “Kelas Rakyat”, dan ditutup “Klab Dangdut Ciromed”.. Suasana pun panas meriah. Berdasarkan rundown setelah Paperback adalah Laras, namun penampilannya diseling Awi Buhun dari Jatinangor. Kelompok anak muda yang sangat bersemangat!</p>
<p>Seusai Karinding Awi Buhun, penonton semakin ramai. Berikutnya Laras tampil. Setelah sempat berkendala di biola, Laras segera tampil membawakan “Linger”, “With or Without You”, dan lagu sendiri “How Could it Be Girl” dan sukses memukau penonton. Berikutnya tampil adik-adik mereka yaitu Flava Madrim. Band karinding gadis-gadis cilik yang sangat berbakat. Man tampil menjadi MC sebelum penampilan Flava. Keberadaan Man disambut antusias audiens yang semakin ramai. Flava tampil membawakan tiga lagu “Sakola”, “Bulantok”, dan lagu barunya “Pekik”.</p>
<p>Berikutnya tampil Karinding Attackmembawakan “Burial Buncelik”, “Dadangos Bagong”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Lapar Ma!”, dan ditutup oleh “Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan.” Sayangnya Karinding Attack sore itu tidak diperkuat Kimung karena ia harus hadir diacara konser tunggal Burgerkill di Stadion Siliwangi. Kimung di panggung itu digantikan Hadi Karinding Riot.</p>
<p>Berikutnya tampil Karinding Riot sementara antusiasme penonton terus naik. Karinding Riot berhasil memberi warna baru di acara sore itu dengan karinding punk rock growling itu. “Nu Gelo” adalah lagu yang pertama dibawakan, dilanjut “Nu Gelo Part 2”, “Terroris Generasi”, dan “W.A.N.I.”</p>
<p>Sebagai penampilan terakhir adalah Karinding Militan yang baru saja tampil di  ulang tahun Dahsyat RCTI minggu lalu. Sore ini Karinding Militan mengawali aksinya dengan “Bubukan” yang dilanjut oleh “Manunggaling Kawula Gusti”, “Nyunda Nepi Modar”, “Babatok Batu”, lalu satu lau baru yang ditujukan untuk insiden penghancuran patung-patung beberapa waktu lalu dan ditutup oleh lagu “Persib Militan.”</p>
<p>Sesi karinding di Braga Festival pun berakhir sore itu, terlihat banyak penonton terpuaskan dan banyak penonton yang mendapat pengalaman baru setelah melihat serangkaian pertunjukan karinding dengan konsep dan gaya yang berbeda-beda. Masukan untuk panitia Braga Festival adalah pengisi acara lebih diperhatikan, baik dari segi kenyamanan maupun dari segi konsumsi. Seharusnya panitia memikirkan keadaan pengisis acara dengan memberikan lokasi loading peralatan yang dekat dan mudah menuju venue jangan sampai pengisi acara harus meloading peralatannya jauh dari venue. Secara logis venue yang berada di depan gedung Sarinah lebih mudah dan cepat bila meloading peralatan di sekitar area jalan Naripan namun panitia tidak menyediakan lahan parkir yang khusus bagi pengisi acara sehingga merepotkan pengisi acara. Selain itu keberadaan panitia untuk membantu memenuhi kebutuhan pengisi acara seharusnya diperhatikan juga, ketiadaan LO dan panitia di venue membei kesan ketidak siapan panitia dalam mengolah suatu acara.</p>
<p>Sementara itu, di Stadion Siliwangi, Man berbincang dengan Fadly mengajaknya tampil bersama Karat di konser tunggal. Ajakan ini disambut baik oleh Fadly. Ketika bertemu Kimung di belakang panggung konser Burgerkill sesaat sebelum tampil bersama Burgerkill di “Tiga Titik Hitam”, Fadly juga mengutarakan hal yang sama. Ia bilang, jika ia juga sedang memesan ukulele Ayi, sama sepemesanan dengan Kimung. Ini tentu saja menggembirakan mengingat gairah pada ukulele juga ternyata sedang dirasakan Fadly. Kimung juga bilang jika ia dan Ayi sedang mengerjakan proyek musik bersama Paperback. Fadly menyimak penuh antusias. Ia bahkan menandaskan jika sekali-sekali ingin diajak untuk menggarap musik bersama jika memungkinkan. Ini tentu saja disambut baik oleh Kimung. Merupakan sebuah kebanggaan bisa bermain bersama vokalis terbaik di Indonesia ini. Dan akhirnya Fadly tampil. Benar-benar sebuah penampilan yang membuat bulu kuduk merinding.</p>
<p>Usai tampil, Fadly berkata jika sepanjang penampilan ia yang ia lihat semua hanyalah kelebatan-kelebatan keangangannya bersama Ivan Scumbag selama mereka bersama menggarap lagu “Tiga Titik Hitam”.</p>
<p><strong>25 September, Minggu, Karat Mendukung Sarasvati di Jakarta</strong></p>
<p>Kabar Karat mendukung Sarasvati di konser Jakarta mulai menyebar. Syauqi menelpon Papay meminta tiga atau empat musisi karinding bergabung. Untuk sementara ini Okid, Wisnu, Jimbot, dan Kimung akan mewakili Karat mendukung Sarasvati.</p>
<p><strong>26 September, Senin,</strong></p>
<p>Kimung, Papay, Wisnu, dan Ki Amek berkumpul di rumah Gustav In Suffer untuk menggarap ulang sampul buku <em>Jurnal Karat</em>. Sampul sebelumnya dinilai terlalu ramai. Konsep sampul yang digarap sekarang akan lebih minimalis. Awalnya beberapa alternatif imej yang akan dipasang di depan adalah foto panggung Karat di Plaza Dago, foto panggung Karat di Nu Substance 2011, dan foto panggung Karat di Bandung Death Fest III.</p>
<p><strong>27 September, Karat di Majalaya</strong></p>
<p>Hari ini, Karat diundang tvOne untuk tampil dalam acara kesenian penyambutan Mentri Perindustrian Republik Indonesia, M.S. Hidayat ke Sentra Industri Tekstil Majalaya, sebagai rangkaian kunjungan kerja revitalitasi permesinan bagi industri di Indonesia. Dalam kesempatan itu, Menteri M.S. Hidayat menyoroti kurangnya perhatian stakeholder daerah sampai pusat terhadap infrastruktur jalan di Sentra Industri Tekstil Majalaya, Kabupaten Bandung. Menurutnya, dengan nilai historis sebagai cikal bakal berdirinya industri tekstil di Jabar dan Indonesia, infrastruktur Majalaya harus lebih diperhatikan. Dulu Majalaya penuh dengan pelaku industri kecil dan besar di bidang tekstil yang berkembang ke daerah lain di Jabar dan di Indonesia secara umum. Namun, sekarang kita bisa lihat dukungan infrastruktur kurang diperhatikan dan dibenahi. Untuk itu ia juga menyampaikan dana bantuan subsidi 10% untuk pengusaha besar  untuk mesin impor, 17,5% untuk mesin buatan dalam negeri, dan 30% untuk industri kecil menengah (IKM). Dalam kesempatan itu hadir pula Direktur Jenderal IKM Kemenperin Euis Saedah yang berjanji akan membina IKM Tekstil di Majalaya untuk menjadi basis industri fashion Indonesia.</p>
<p>Segala bahasa retoris yang disampaikan oleh para pejabat itu dijawab dalam bahasa yang sangat realis oleh Karat, yang saat itu diwakili oleh Man, Hendra, Wisnu, dan Jimbot melalui sebuah lagu berjudul ”Kaki Industri.” Simaklah, “Gaji sebulan terasa pengap &#8211; Utang diwarung tak juga lenyap &#8211; Tidur kamipun tak pernah lelap &#8211; Di pabrik ini aku mengabdi &#8211; Teteskan keringat demi anak istri &#8211; Pasrahkan semua pada Illahi &#8211; Ini baktiku untukmu negri &#8211; Kami kaki industri!”</p>
<p>Man bilang lirik ini keprihatinannya atas nasib buruh di Indonesia yang sangat dimarjinalkan penguasa. Ia menilai penghargaan pemerintah atas nasib buruh di negeri ini masih jauh dan kepentingan pemerintah dinilai lebih berpihak kepada kaum kapitalis dan pengusaha ketimbang rakyat kecil kebanyakan. Kaum buruh yang hadir di acara itu bersorak ketika Karat memainkan lagu ini.</p>
<p>Sementara itu, sore hari, Kimung betemu Gio di markas Atap Promotion untuk membicarakan rencana peluncuran buku Jurnal Karat. Gio memperlihatkan presentasinya yang akan ia bawa ke pihak sponsor, dalam hal ini Djarum. Gio juga berbagi wawasan dengan Kimung mengenai format-format pengemasan acara peluncuran buku yang menarik melalui album foto di Facebook Pak Herman. Peluncuran buku Fully Booked di Bumi sangkuriang menjadi model pengemasan yang baik sebagai referensi.</p>
<p><strong>28 September, Rabu, Draft Digital Pertama Buku <em>Jurnal Karat</em> Selesai!</strong></p>
<p>Hari ini koreksi total penataan letak buku <em>Jurnal Karat</em> di rumah Popup. Terjadi kendala ketika buku akan dibukletkan. Entah kenapa program menolak perintah dan selau diakhiri dengan error. Popup mengira ini karena ukuran foto yang terlalu besar dan dikompres paksa ke dalam bidang tata letak. Pun dikonversi ke format pdf pun program terus menolak. Akhirnya setelah diperbaiki beberap foto yang keluar bidang tata letak, proses konversi data ke bentuk pdf bisa dilakukan, namun tidak dalam bentuk buklet. Ini tentu saja menyesakkan mengingat untuk mencetak naskah dengan format print seperti ini menghabiskan dana dua kali lipat ckckck…</p>
<p>Namun akhirnya pdf Jurnal karat dibawa ke Tirta Anugerah untuk dicetak. Jam tiga sore, dalam waktu singkat proses cetak naskah selesai, tinggal mengambil data sampul. Kimung lalu bergegas ke Common Room untuk mengajak siapa pun di sana mengatarnya mengambil data sampul di Gustav. Untunglah Yuki hadir di sana. Sebenarnya ia sedang menugngu Presiden Gaban untuk survey hotel. Namun karena tak kunjung tiba kabar dari Pak Presiden akhirnya ia mau mengantar Kimung ke Gustav. Di kediaman Gustav, hadir juga Zemo.</p>
<p>Disain sampul yang ini jauh lebih baik dibandingkan dengan disain sebelumnya. Gustavo menata dengan minimalis namun pas! Agak terlalu gelap, namun ini bisa diperbaiki. <em>Great great artwork bro!</em> Jam setengah lima sore rombongan kembali ke Common Room. Karena Kimung secepatnya harus rapat dengan Common Room, pembuatan dummy lalu dipercayakan kepada Zemo. Zemo bilang dummy akan jadi besok pagi.</p>
<p><strong>29 September, Kamis, Dummy <em>Jurnal Karat</em> Selesai, Survey Hilton / Panghegar, dan Kicimpring Attack!</strong></p>
<p>Akhirnya dummy pertama buku <em>Jurnal Karat</em> jadi! Terima kasih kepada Zemo yang sudah membantu proses pembuatan dummy ini. Saya kira buku setebal 446 halaman ini akan menjadi buku Ujungberung Rebels lainnya yang sangat berharga bagi siapa pun, amiin ^^ Antusiasme yang saya rasakan sepertinya dirasakan juga oleh kawan-kawan yang hadir sore itu di Commmon Room. Semoga ini menajdi awal yang baik bagi <em>Jurnal Karat</em>, amiin.</p>
<p>Hari ini Flava berencana syuting untuk salah satu tivi internet. Sayang Kimung tidak bisa mendampingi Flava karena harus mendampingi Gio dan Ardi dari Atap untuk survey hotel untuk pergelaran konser tunggal Karat.</p>
<p>Sebelum survey, rombongan singgah pertama kali di SMA 9 Bandung di mana terdapat komunitas karinding juga di sana, serta band mereka, Karinding Sembilan. Tentu saja sangat membanggakan bisa berada di sana bersama adik-adik yang sangat bersemangat dalam mengeksplorasi karinding. teknik permainan mereka juga sudah baik. Karinding sudah dimainkan dalam nada dan frekwensi yang bagus. Yang paling menonjol adalah pemain celempung yang bisa memainkan <em>waditra</em> ini dengan sangat baik. Salut untuk adik-adik di SMA 9 Bandung! Terus berkarya!</p>
<p>Perjalanan lalu diteruskan ke hotel pertama : Hilton. Hotel ini memiliki penataan yang sangat baik. Ballroomnya ada tiga dan bisa disewa semua. Disain interiornya yang terbuat dari akrilik dan membentuk figur pohon-pohon sudah sangat pas dengan konsep Karat. beberapa hal teknis juga dibicarakan Gio dengan pihak manajemen Hilton sebagai referensi untuk penggunaan ruang nantinya. Di tengah jalan, ada inspirasi dari tukang kicimpring untuk membuat bisnis makanan berlabel “Kicimpring Attack.” Ide spontan yang dilontarkan Ardi ini disambut antusias Kimung, Man, dan Gio. Sebagai tahap awal,  “Kicimpring Attack” diusahakan akan hadir di peluncuran buku <em>Jurnal Karat</em>.</p>
<p>Setelah mengantar Kimung kembali ke Common Room, rombongan Man, Gio, dan Ardi kembali meneruskan perjalana  ke Hotel Panghegar. Hotel ini memiliki lobby yang sangat bagus, namun untuk ruang, masih kalah tipis dengan Hilton. Namun demikian banyak sekali minus dan plus dari dua hotel ini yang bisa menjadi pegangan.</p>
<p>Usai survey, semua berkumpul di Common Room, kini plus Yuki yang diundang untuk bersama menggarap disain gimmick peluncuran buku <em>Jurnal Karat</em>. Beberapa konsep peluncuran buku dibicarakan, namun intinya ini harus mengerucut ke Kimung dan <em>Jurnal Karat</em>—jangan sampai terjebak di ranah Karinding Attack. Beberapa ide bergulir sambil <em>ngadu bako</em>. salah satunya adalah membuat instalasi manekin berwajah Kimung semua di sekitar tempat peluncuran buku. Untuk menunjang konsep, maka besok Yuki dan Ardi berencana akan survey tempat-tempat untuk peluncuran buku.</p>
<p><strong>30 September, Jumat, Riot on TV &amp; G30S/Karat : Rapat Pergerakan</strong></p>
<p>Sepanjang siang ini, Yuki dan Ardi berkeliling survey tempat untuk peluncuran buku <em>Jurnal Karat</em>. dua tempat yang diproyeksikan di awal : Unpasd an Unpar, tereliminasi. Unpar karena tak bisa ada sponsor rokok masuk, sementara Unpas karena kurang bisa mendukung konsep yang dibuat. Dua tempat yang kemudiandikerucutkan adalah UPI dan STSI.</p>
<p>Common Room hari ini semenjak sore hingga malam terus menerus penuh. Pukul lima sore Karinding Riot dan Kelas Karinding hadir di Common Room untuk syuting salah satu tivi internet. Syuting ini awalnya juga akan dilakukan kemarin dengan artis Flava Madrim. Namun karena reporternya terlambat, makahanya sesi hari ini yang terekam. Lancar semua!</p>
<p>Malamnya, jam tujuh malam Papay—kini menjadi penabuh dram Sarasvati selama Sherry di Jerman—mewakili Karat untuk menggarap aransemen lagu-lagu yang nanti akan dimainkan tanggal 22 Oktober di Istora Senayan. Tiga lagu yang akan dimainkan adalah “Zamrud Khatulistiwa”, “Chopin Larung”, dan “Sendu.” Sayang Karat yang akan tergabung dalam proyek ini masih belum bisa berkumpul bersama. Namun Risa berjanji akan merekamkan tata lagu untuk dipelajari Karat.s emoga sesi berkutnya Karat sodah akan bisa bergabung.</p>
<p>Sementara itu, di Common Room, setidaknya ada tiga gelombang kawanan Ujungberung Rebels yang hadir malam ini. Gelombang yang ke satu adalah kawanan Gugat yang malam itu akan manggung di Rogers Café bersama Godless Symptons. Gelombang ke dua dari Bandung Death Metal Syndicate yang malam itu berkumpul akan melakukan rapat koordinasi acara Bandung Death Fest V, dan yang ke tiga dan paling sedikit adalah para personil Karat, minus Papay yang harus brifing bersama Sarasvati, serta Okid yang harus manggung bersama Gugat. Setelah membuka rapat Bandung Death Fest V di ruang bawah Common Room, Man segera menyusul Karat yang lain ke lantai atas untuk pertemuan internal Karat. Agenda malam ini tiga hal yang dibahas berkaitan dengan perilisan buku <em>Jurnal Karat</em>, penyelesaian album, dan konser tunggal.</p>
<p>Antusiasme kepada buku terlihat sejak pertama kali <em>dummy</em> ini jadi dan diperlihatkan kepada Karat dan kawan-kawan. Antusiasme juga terus dirasakan ketika rapat. Yuki yang menjadi penanggung jawab acara ini memberikan laporan jika dari empat kampus yang rencananya akan menjadi tempat peluncuran buku, dua di antaranya tereliminasi. Unpar dipastikan tak bisa karena sponsor rokok tidak boleh masuk. Unpas tidak memungkinkan karena untuk konsep yang sudah dibuat, kondisinya kurang memadai. Yang paling memungkinkan adalah Gedung Ampli UPI dan Gedung Sunan Ambu STSI.</p>
<p>Waktu juga akan kembali diundur, tidak bisa dilakukan tanggal 8 Oktober karena persiapan yang sangat mepet. Rencananya sekitar tanggal 17 sampai 24 Oktober adalah waktu yang paling mungkin. Sementara itu untuk gimmick, Man memberikan ide untuk membuat Kim’s Dolls 100% ukuran tubuh Kimung dengan berbagai pose sepanjang masuk dari gerbang menuju arena gedung—termasuk juga boneka Kimung yang akan memegang tiga buku pertama Kimung. Jimbot juga memberi ide untuk membuat sebuah prosesi tarian yang merefleksikan buku <em>Jurnal Karat</em>. Tarian ini dikondisikan di pembukaan atau jeda antar sesi.</p>
<p>Pembahasan selanjutnya adalah album. Untuk album Karat menganggarkan proses miksing dan mastering akan kembali dilakukan di Studio Massive oleh engineer Innu Regawa dengan dana sekitar tujuh juta rupiah. Sementara itu, untuk duplicating dank aver, Karat menganggarkan sembilan juta rupiah. Untuk artwork, Karat akan digarap oleh Gustav, sementara layout oleh Man Jasad. Setidaknya, karat butuh dana sekitar 16 juta untuk sampai ke tahap penyelesaian album. Beberapa hal yang diproyeksikan untuk membantu pendanaan penggarapan album adalah penjualan pernak-pernik Karat  dan bantuan dari Common Room. Selain itu sumber dana dari panggung dan rencana jingle iklan juga terus digodok Karat. Untuk rekaman yang tersisa, “Rajah” dan jingle akan dilakukan di Studio Extend. Hmmm…</p>
<p>Pembahasan terakhir adalah mengenai konser tunggal, sepertinya tak akan terealisasi tanggal 11 November 2011 karena persiapan yang belum matang. Namun tempat sudah disepakati untuk diajukan, yaitu Hotel Hilton. Beberapa hal lain yang disoroti malam ini adalah mengenai makanan dan pengemasan ketika konser tunggal, rencana press release di Jakarta, dan mengenai kolaborator. Di sesi ini Karat ternyata mengkristalkan keinginan mereka untuk berkolaborasi dengan Ambu Ida, Waljinah, Sujiwo Tejo, dan Slamet Gundono yang dikerucukan ke dalam satu sosok muda yaitu Dewi Gita. Ini bagi saya keputusan yang membingungkan, mengingat fokus awal kolaborasi hanyalah dengan Ambu Ida saja. Ini pun tujuannya untuk mengangkat lagu-lagu akar musik Sunda kini, atau kidung-kidung Sunda klasik. Namun Dewi Gita akhirnya disetujui. Sementara itu kolaborator Abah Iwan dan Sony Akbar tetap bertahan.</p>
<p>Pembahasan kolaboratos dari artis arus utama juga membingungkan. Tiba-tiba muncul dua nama Syahrini atau Mulan Jameela yang akan menjadi dua kolaborator Karat. saya pribadi sangat tidak setuju dengan dua sosok ini. Syahrini jelas bukan satu sosok yang bagus buat Karat. ia besar karena kontrversi, ia bahkan belum punya album. Sosok ini bukan mencerminkan musisi yang serius dalam berkarya. Sementara itu, saya sangat menggemari Mulan Jameela. Ia mungkin bisa menjadi sosok yang pas dan Man juga bilang jika ia sudah memiliki kontak pribadi dengan manajemen Mulan. Kimung juga dulunya tetanggaan ketia Mulan masih tinggal bersama suami pertamanya di Cijerah. Putri Mulan bahkan sering main bareng di lapangan bersama Atar, putranya Kimung. Mulan adalah penyanyi yang sangat ekspresif dan ia barang kali bisa menjadi sosok yang pas dengan Karat. Namun Mulan belum mencapai taraf sebuah <em>pride</em> yang sama dengan Karat. Masih banyak musisi lain yang memiliki satu <em>pride</em> yang sama atau setidaknya sejalan dengan Karat dalam gelombang musik dan berbagai hasratnya.</p>
<p>Kimung lalu mengusulkan Iwan Fals yang disambut bimbang oleh Karat. Iwan Fals memang musisi yang mahal. Namun <em>pride</em> beliau tentu tak diragukan. Iwan Fals tampil begitu nyata kesederhanaannya dan judtru di sanalah ia membangun kekuatan karakternya yang membumi. Kesederhanaan, kekuatan, dan hal yang membumi ini juga terpancar dari Karat. bedanya hanya maslaah usia saja. Jika dua musisi ini berjodoh, saya sangat yakin mereka akan menghasilkan satu konsep musik yang sangat kuat! Hingga rapat usai, kebimbangan Iwan Fals atau Mulan masih menggantung. Sebuah kesepakatan terjadi di MC. Ketika man mengajukan nama Tina Talisa, Yuki nyeletuk, “<em>Meriam Bellina juara mah hehehe…</em>” Celetukan ini lalu disampaikan oleh Kimung dan segera saja disambut oleh Ki Amenk dan karat yang lain. Karat juga mengusulkan Advent Bangun untuk mendampingi Meriam Bellina.</p>
<p>Pembahasan lalu bergulir ke masalah produksi yang sifatnya teknis, seperti fee, kostum, penari untuk “Kawih Pati” dan pendukung penampil konser tunggal, undangan, cinderamata berupa karinding dan piala penghargaan untuk beberapa pihak yang akan menerimanya, publikasi media massa, dan penggarapan lagu “We Are The World.”</p>
<p>Usai rapat Karat, Kimung dan Yuki berbincang mengenai konsep peluncuran <em>Jurnal Karat</em>. dalam perbincangan itu, sepertinya UPI akan menajdi tempat peluncuran buku. Gedung Ampli yang luas dan dilengkapi berbagai prasarana sepertinya akan bisa menampung konsep Yuki. Dalam perbincangan itu disepakati beberapa poin, yaitu kaos panitia, mengganti Kim’s Dolls dengan bebegig-bebegig raksasa, zine sebagai press release, LCD di luar arena, gerbang bamboo dengana rtwork tengkorak serigala, jajanan lembur untuk konsumsi. Yuki juga memproyeksikan acara di Gedung Ampli, sementara itu ruang sebelah gedung diproyeksikan untuk pameran foto, display buku, spot Ujungberung Rebels, dan spot media.</p>
<p>Bismillah, semoga semua lancar, amiin…</p>
<p><strong>10 PLAYLISTS JON 666 : </strong>Tarawangsa,<strong> </strong>The Beatles, Iwan Fals, Mulan Jameela, Syahrini, Burgerkill, Iwan Abdurrahman, Michael Jackson, Padi, Peterpan<strong> </strong></p>
<p><strong>BOOKS : </strong><em>Jurnal Karat, Karinding Attacks Ujungberung Rebels</em></p>
<p><strong>MOVIES : </strong>Resident Evil</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalkarat.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalkarat.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalkarat.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalkarat.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalkarat.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalkarat.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalkarat.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalkarat.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalkarat.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalkarat.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalkarat.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalkarat.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalkarat.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalkarat.wordpress.com/291/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalkarat.wordpress.com&amp;blog=12152378&amp;post=291&amp;subd=jurnalkarat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalkarat.wordpress.com/2011/10/12/jurnal-karat-88-30-september-2011-g30skarat-vs-kicimpring-attack/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/55a390890f4f949ec65a02a038a43bb4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalkarat</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
