Oleh Jon 666

9 Juli, Senin

Latihan Karinding Attack dan para seniman pendukung lainnya opera Kabayan Jadi Presiden. Latihan digelar dari sore hingga menjelang malam di Gedung Indonesia Menggugat.

10 Juli, Selasa

Latihan kedua Karinding Attack dan para seniman pendukung lainnya opera Kabayan Jadi Presiden. Kali ini latihan digelar sejak siang hingga menjelang malam di Gedung Indonesia Menggugat.

11 Juli, Rabu

Rombongan Karat bertolak ke Jakarta.

12 Juli, Kamis

Berikut adalah pengantar dari Butet Kertaredjasa selaku produser opera Kabayan Jadi Presiden. Narasi ini termuat di bulletin “Kabayan Jadi Presiden”, simaklah,

MERAWAT KABAYAN, MERAWAT KEWARASAN

Kabayan adalah keluguan, kearifan, kecerdasan, dan kejenakaan. Inilah local genius. Kita menemukan sifat dan watak seperti itu bukan hanya sebagai milik masyarakat budaya Sunda tapi juga pada tokoh-tokoh local di Jawa Matraman melalui peran abdi dalam ketoprak, ata punakawan di jagat pewayangan. Peran jongos dalam ludruk, wilayah-wilayah lain bisa menderetkan tokoh-tokohnyam siapa  pun namanya.

Agaknya tokoh laksana Kabayan memang representasi sifat dasar wong cilik Indonesia. Solusi pemikirannya kadang penuh kejutan dan serba tak terduga, tapi—setelah direnungkan—di sana kita menemukan kebenaran. Yang mendengar dan malihat hanya bisa manggut-manggut. Menyetujui. Membenarkan. Kita akur dengan segenap tingkah dan solusi yang ditawarkan manusia (ala) Kabayan, karena kita akhirnya menyadari bahwa hanya KEJUJURAN yang menjadi kebermulaan dari semuanya itu. Sebuah sikap yang snagat bernilai, terutama di antara gemuruh kebohongan para pemimpin dan politisi yang saban hari meneror kita. Sikap ala Kabayan tak ubahnya sebuah jeda di mana kita bisa menghirup kesegaran udara.

Berkaca pada Kabayan, yang mengartikulasikan sikap dan pikiran secara lugas dan sederhana, seharusnya kita melihat bagaimana sebuah kejujuran mampu menggerakkan nyali. Nyali wong cilik yang selalu terusik untuk bertanya, mempertanyakan setiap keganjilan yang menyergap hidup mereka. Berani karena benar. Terlebih jika kaum Kabayan sedang dipaksa sebagai korban Lapindo Sidoarjo. Ketika kelemahan dibinasakan oleh keserakahan, kelemahan itupun akan menjelma menjadi kekuatan, betapa pun sekedar untuk bertanya : di mana keadilan hendak memihak? Siapa sih yang rela terusir dari rumah tinggalnya lalu dipaksa berspekulasi menjalani hidup di tengah genangan lumpur panas? Anda mau? Maka sangatlah mengherankan jika ada oknum yang secara terselubung punya andil menyengsarakan rakyat Sidoarjo dengan menciptakan danau lumpur itu, kok berani-beraninya mencalonkandiri sebagai calon pemimpin masa depan. Edan yang bener-bener kelewatan!

Saya memahami keberanian yang bergelora di sana, bukanlah sebuah militansi lantaran provokasi. Bukan tindak politik jangka pendek. Melainkan sebuah keniscayaan ayng memang seharusnya terjadi. Dengan begitu, logika ala Kabayan hendaklah terus dirawat. Juga dijaga kewarasannya. Supaya orang tidak tergelincir dan terseret ke dalam kegilaan yang dari hari ke hari semakin menjauhkan diri dari budaya malu.

Hanya dengan begitu orang tetap mempunya stamina, minimal agar kuat bertahan dalam ketabahan yang menyengsarakan. Jika sikap-sikap ala Kabayan ambyar dan terkalahkan oleh keganasan naluri-naluri purba bernama kerakusan dan keserakahan itu, maka ambyar pula lah impian kita tentang sebuah Indonesia yang berkeadilan, menghormati kemajemkan, dan Indonesia yang menyejahterakan.  Sebab tanpa manusia cerdas nan kritis ala Kabayan, demokrasi pelan-pelan akan mati karena kehilangan bandul perimbangannya. Hidup pun bakalan jomplang.

Genosida Kebudayaan

Kabayan memang bukan monopolinya masyarakat budaya Sunda. Hari-hari terakhir ini, nun di kawasan pegunungan Kendeng, Pati Selatan, Jawa Tengah, kita bisa menjumpai bagaimana logika Kabayan ngebet ingin berjumpa dengan keadilan.

Mereka adalam manusia Samin, menyebut dirinya sebagai “Sedulur Sikep”. Leluhur mereka adalah petani, maka anak cucu mereka pun kelak akan meneruskan tradisi dan budaya pertanian. Hanya dengan menjadi petani mereka bisa menemukan kebahagiaannya. Cara pikirnya sederhana. Juga keinginannya. Yaitu hanya ingin sejahtera sebagai petani dan, karena itulah mereka hanya ingin menjaga dan merawat sumber-sumber air. Karena itulah ketika keserakahan manusia modern mengaratikan kebahagiaan dan kesejahteraan adalah menaguk uang sebanyak-banyaknya dengan mendirikan pabrik semen yang kelak mengganyang perbukitan Kendeng—dan itu berarti hilangnya ratusan mata air yang mengurat di tubuh perbukitan—manusia Samin lalu bertanya, “Apakah kami tidak boleh berbahagia dengan cara kami sendiri?”

Sedulur Sikep mengartikan bukit itu laksana spon berisi air. Gumpalan tanah beku yang di dalamnya penuh urat-urat sungai dan menyembulkan ratusan mata air. Seumpama bukit Kendeng digerus mesin-mesin modern dari waktu ke waktu—konon pabrik semen punya kontrak kerja seabad lamanya—maka bentangan bukit Kendeng akan terpangkas rata menjadi dataran. Musnahlah sumber air dan usnah pula tradisi dan kebudayaan mereka. Sebuah genosida kebudayaan berlangsung telanjang di depan mata. Maka jika samapi hari ini Sedulur Sikep tetap gigih dan berjanji mempertahankan air sampai titik air mata terkahir, hendaklah dipahami sebagai ikhtiar manusia ala Kabayan menjaga ranah kebudayaannya. Apakah kita yang selalu mengaku manusia budaya, manusia kerkeadaban, akan membiarkan Sedulur Sikep dan kebudayaannya sirna berkeping-keping dicacah mesin pabrik semen?

Keganasan sebuah pabrik, juga keganasan politik yang kerap mengakali manusia wong cilik, akan selalu bertemu dengan kearifan dan kecerdasan ala Kabayan. Dan keganasan itu—alhamdulillah—akan menemui jalan buntu ketikayang hendak diterkam adalah sepotong KEJUJURAN, yang belakangan lebih sering ngumpet di kedalaman hati manusia-manusia Kabayan : di Sunda, Pati, Bima, Mesuji, Pontinak, Kutai, Sulawesi, Papua, dan wilayah-wilayah lain yang tengah dijarah secara tidak beradab. Oaaassssem tenan!!!

13, 14 Juli

Panggung hari pertama dan ke dua Karinding Attack di opera “Kabayan Jadi Presiden”. Sambutan audiens sangat antusias!

 

 

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Eddie Vedder,

Books : Al Qur’an al Karim,

Movies :

Quotes :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh Jon 666

3 Juli, Selasa

Karinding Attack kembali masuk sebagai salah satu isu musik yang diangkat dif Roots Magazine. Sedikit bangga karena di edisi ini Karinding Attack dibahas bersama Thurston Moore musisi favorit saya : ) Ini adalah kata pengantar dari Ian Anderson, simaklah,

 

fRoots Aug/Sept 2012 summer double issue

by Ian Anderson on Tuesday, July 3, 2012 at 5:37am ·

Photo: Judith Burrows

 

fR350/351 Aug/Sept 2012 summer double issue

Despatched to subscribers 10th July. Street date 19th July

http://www.frootsmag.com

 

Celebrating our 350th issue and concluding our special summer 2012 series revisiting icons of English folk, we have a major new interview with Nic Jones plus an extract from our first one with him, from our second issue published 33 years ago in 1979! Plus, in another packed double issue for your summer reading we’ve got other features on (deep breath . . .) Scotland’s Alasdair Roberts, our hot tips for Womad 2012, a Judith Burrows photospread on the music of Budapest, the amazing worldwide Ethno camps, North Africans In The UK (including Danto Aya, Amira Kheir, Hassan Erraji and El Andaluz), Imagined Village & AfroCelt Sound System man Simon Emmerson, the IOMMA festival in La Réunion, hot young Greek rembetika group Apsilies, the Homage To Sandy Denny tour, Dervish singer Cathy Jordan’s solo project, Quebecois group Nicolas Pellerin & Les Grands Hurleurs, the Real World Gold re-issue series, West country duo Phillip Henry & Hannah Martin, America’s Ryan McGiver, and Fairport’s Simon Nicol answering the Rocket Launcher questions. Plus lots of reviews, packed news pages, our new columns by Tim Chipping and Elizabeth Kinder, BIFF and all the rest.

And! Our latest exclusive, specially compiled free-to-download album fRoots 40 with tracks by Karinding Attack, Katie Rose, Anna Cinzia Villani, Emily Portman, Cafe Aman Istanbul, Loxandra featuring Theodora Athanasiou, Duffy Power, Jagwa Music, Ragnhild Furebotten, Jenny M Thomas, Els Berros De La Cort, Tom Paley, UFQ, Ben Zabo and Kan.

And in this issue’s up-front fRoots Playlist, our current favourite new albums on the fRoots player: V/A Weirdlore, V/A The New Young Fogies, Pelios Gourmet!, Krar Collective Ethiopia Super Krar, Rachel Newton The Shadow Side, Lo’Jo Cinema De Mundo, Tom Paley’s Old Time Moonshine Revue, Ry Cooder Election Special, A Moving Sound A Moving Sound and Oranitza Oranitza.

Tracks from all those Playlist albums above, plus more from this issue’s featured and reviewed artists including Nic Jones in Bandoggs, Apsilies, the Alaev Family, Konkoma, Dick & Mimi Farina, Thurston Moore and more can be heard on the August fRoots Radio available via Podomatic and Mondomix from 10th July – see www.podwireless.com.

 

http://www.facebook.com/notes/ian-anderson/froots-augsept-2012-summer-double-issue/10150934145982781

 

4, 5, 6, 7 Juli 2012, 17th Yogyakarta Gamelan Festival

Jurnal Viki Rascal Karinding Attack di 17th Yogyakarta Gamelan Festival, simaklah,

Day 1

04 Juli 2012

Akhirnya hari ini datang juga, tanggal 4 juli adalah tanggal yang cukup saya tunggu kedatangannya, kenapa? Karena untuk pertamakalinya saya akan menginjakan kaki di kota gudeg a.k.a Jogja a.k.a Yogyakarta.

Saat ini bukan sengaja saya berangkat ke kota ini, namun bersama Karinding Attack untuk ikut andil dalam ‘Fastival Gamelan Internasional’. Ini adalah keberangkatan paling complicated karena perjalanan diantara keharusan menyelesaikan sisa nilai yang belum dikeluarkan oleh dosen agar sidang Tugas Akhir yang sedang dikerjakan bisa cepat di sidangkan. Tapi ya biarlah Tugas Akhir toh rencananya setiap kekurangan materi akan dikerjakan di sela-sela perjalanan ini. (Semoga rencana berjalan seperti rencananya. Amin).

Mulai berangkat meninggal Common Room pada jam 18.01 padahal dijadwal sebelumnya adalah jam 15.00 harus segera berangkat meninggalkan Bandung.

Saya sampai di Common Room sekitar jam 14.30 sudah terasa seperti orang yang paling terlambat. Namun kenyataannya adalah baru ada Mang Hendra yang mungkin makan siang atau mungkin lebih tepatnya sedang sarapan haha. Ada mang okid yang akan berangkat mengirim paket barang, aris dan mang ismet yang baru selesai menurunkan peralatan Karat untuk manggung.

Menyusul Kimung sekeluarga datang, lalu Papay dan Yuki pun datang tidak bersamaan. Namun yang lain pun belum datang padahal jam menunjukan jam 15.00 dan kendaraan yang kami sewa pun belum datang. Saya sempat mengobrol dengan Om Don, Botak dan Mang Hendra mengenai Cimahi dan kimung sempat melakukan sesi wawancara dengan statsiun televisi lokal yang sudah ada dari sejak saya belum datang. Lama menunggu akhirnya Jawis pun datang dan jam 17.00 Man datang dan heran mengapa kendaraan yang kami sewa belum datang.

Setelah dihubungi ternyata kendaraan yang kami sewa telah lama menunggu tapi jauh dari Common Room. To the point sopirnya segera diberitahu agar merapat ke Common Room. Alat segera dinaikan beserta semua tas rombongan dinaikan. Sip, tinggal satu orang lagi yang belum datang, yaitu meity yang semalam mengatakan takan ikut namun kali ini memutuskan ikut. Semua sedah lengkap. Dengan formasi Man duduk disamping supir sebaggai pemasok musik-musik ketelinga penumpang lain. Pada barisan kedua ada Okid, Meity, Zia, Avatar, dan bu Hana. Di barisan ketiga ada saya, Aris, dan Zimbot. Dibelakangnya ada Kimung, Dokumentasi dan Yuki. Dan paling belakang ada Papay, Mang Ismet, Hendra, Jawis. Terahir alat-alat dan semua tas d bagasi belakang.

Tepat Jam 19,00 kami keluar dari gerbang tol Cileunyi dan mencari Ki Amenk yang menunggu disekitar Cileunyi dan benar saja Ki Amenk menunggu lebih sari satu jam. Dan diparakan muncang, anak-anak mampir untuk mengambil karinding dan tas bambu untuk workshop dan dijual di Jogja besok. Setelah beberapa puluh tahu sumedang tandar, perjalanan pun dilanjutkan. 19.30 dengan soundtrack + hearing season Disinfected album paling baru “Anjing-Anjing Nusantara”.

Sepanjang jalan setelah Disinfected disambung appocaliptica dengan cover lagu Metalicanya dan pada jam 21.30 setelah tandas tujuh lagu dari Iron Maiden sampailah dipemberhentian selanjutnya yaitu Rumah Makan Gentong.

Ketika sampai, dimeja telah tersedia nasi timbel, ayam goreng, lalaban, jambal roti dan ikan bakar. Hhhmm yummy beud cs ku dan ditutup dengan Milk shake, bandrek, susu soda, jus dan es jeruk. Terima kasih Rumah Makan Gentong, perjalanan kami lanjutkan pukul 22.15. Let’s Go

#NP Bob Marlay

Tepat jam 00.00 rombongan melewati perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah. Dengan masih saja Bob Marley asik bernyanyi menyertai orang-orang yang sebagian sudah tertidur.

 

Day 2

05 Juli 2012

Masuk wilayah Jogja sekita pukul 04.30 namun kendaraan benar-benar berhenti dikota Jogja sekitap pukul 05.30 dan menunggu panitia untuk menjemput menuju hotel, setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya kami sampai dihotel sekitar pukul 06.00 di wilayah Jln. Surokarsan tepatnya di hotel Raspati Kasih. Ada tiga kamar yang baru bisa terisi, kamar no. 19 di isi para wanita, kamar no. 21 dan no. 21 di isi para pria termasuk supir, crew, dan personil. Dan menurut perencanaan, pukul 13.00 nanti adalah jadwal sound check untuk Karinding Attack.

Jam 9.15 pagi, Vindy datang mengunjungi kami karena memang dia sedang ada di Jogja jadi dia mengunjungi kami pagi ini. Saya pun memninya dia untuk mengantar saya berkeliling Jogja untuk melihat-lihat kota dan mengunjungi beberapa tempat yang penasaran ingin saya datangi. Pada pukul 09.30, saya dan Vindy mulai berkeliling sambil menejelaskan teman-temannya dia di Jogja. Kota yang menyenangkan menurut saya, dan melihat mural-mural yang hampir selalu ada di setiap sudut kota. Tak lama kami berputar-putar dan memutuskan untuk pulang saja karena memang suasana kota masih sepi.

Jam 12.10 siang ini, anak-anak personil Karinding Attack mulai bangun dan satu persatu mulai mandi karena jam 01.00 adalah jadwal sound check. Kami pun kedatangan Giar, kawan dari Bandung yang sedang kuliah di UGM dan membuat skripsi tentang Karinding Attack. Perjalanan dari tempat menginap menuju venue menghabiskan waktu kurang lebih 30 Menit dengan kecepatan sedang.

Sound check selesai dan membubarkan diri. Amenk, Papay, Jawis, Jimbot, dan Yuki kembali ke penginapan. Mey, Okid dan beberapa teman berangkat ke Merapa, sementara saya, Kimung, Bu Hana, Zia, dan Avatar memutuskan untuk ke Malioboro, dan Man pergi nyekar ke makam teman-temannya.

Sampai dipenginapan ketika sudah lewat magrib dan sedikit mist komunikasi dengan sopir taksi. Terlihat Ki Amenk dan hendra sedang mendengarkan lagu di halaman depan kamar dan Jawis sedang melinting daun kawung untuk rokok. Tak begitu lama, Man pun datang membawa oleh-oleh berupa replika penis untuk oleh-oleh di Bandung nanti.

Sedikit keributan terjadi ketika waktu menunjukan pukul 20.00 karena bebertapa persionil Karat belum besriap-siap untuk berangkat menuju venue.

Sampai venue pukul 21.00 dan suasana diluar venue tampak tak terlalu ramai, namun d depan panggung tampak banyak sekali yang menonton, tertib dan duduk rapih. Karinding Attack naik panggung pukul 21.40 dan menyanyikan sekitar enam lagu. Bubuka, Burial buncelik, Lapar Ema, Gerbang kerajaan serigala, maaf kami tidak tertarik pada politik kekuasaan, dan Kawih Pati.

Selesai acara di UGM, semua memutuskan untuk segera ke penginapan dan tidak berencana untuk pergi kemana-mana, hanya mengobrol santai hingga semua tertidur pulas. Rencana simpang siur dan akhirnya tak jadi untuk mengunjungi Candi Borobudur.

 

Day 3

06 Juli 2012

Bangun tidur pukul 07.40 dengan mata masih aga berat, dan diluar Kimung sedang asik mendengarkan The S.I.G.I.T sambil mengobrol dengan bu Hana, saya ikut bergabung mengobrol sambil mengobrol rencana hari ini. Hari ini akan ke Candi Prambanan yang jaraknya lebih dekat dibanding ke Borobudur. Setelah sepakat kama dilanjutkan dengan sarapan yang disediakan oleh penginapan.

Seusai sarapan, Kimung akan berkunjung ke rumah Jendral Sudirman yang lokasinya tak jauh dari penginapan. Berjalan pagi menikmati jalanan kota Jogja yang tak terlalu ramai dan bersih memberi suasana baru bagi saya. Tak sengaja mampir ke roda yang menjual koran dengan harapan ada liputan tadi malam yang dimuat oleh media partner acara Yogya Gamelan Festival semalam.

Melanjutkan jaman kaki menuju rumah Jendral Sudirman yang ternyata sedang direnovasi. Rumah yang besar yang kini menjadi musium tak banyak dapat saya nikmati karena memang barang-barang yang dipamerkan sedang dipindahkan. Dengan rasa yang biasa saja akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan.

Kurang lebih pukul 10.00, saya, Kimung, Bu Hana, Avatar, dan Zia memutuskan untuk berangkat ke Candi Prambanan. Karena harus segera check Out dari penginapan maka semua barang-barang di simpan dikendaraan jadi kami berangkat tanpa membawa beban.

Mencari transportasi umum di Jogja lumayan susah bila menurut saya. Terbukti mencari taksi yang lewat dan kosong itu lumayan susah. Selain itu ya hanya ada becak dan trans Jogja. Setelah menunggu sekitar 15 menit baru lah ada taksi yang kosong.

Perjalanan dari penginapan sampai Candi Prambanan memakan waktu kurang lebih 30 menit dan dengan membayar 60.000,- saja untuk taksi dan tiket masuk 30.000,- kita sudah dapat menikmati maha karya peninggalan nenek moyang kita. Banyak hal yang menjadi pertantaan antara legenda tentang Candi Prambanan dan bangunan nyata yang ada. Banyak hal yang memacu rasa penasaran mengenai bangunan Candi yang megah ini. Banyak relief yang mengundang hasrat untuk mencari tahu mengenai sejarah dan rasa bangga yang tiada tara ternyata leluhur kita pun memiliki cita rasa dan daya cipta yang luar biasa.

Cukup melelahkan berjalan-jalan disana dengan keadaan cuaca yang panas. Setelah satu setengah jam disana akhirnya pukul 12.45 kami meninggalkan Candi Prambanan. Sekarang tujuan kami terpisah. Kimung, Avatar dan saya menuju UGM mengejar workshop karinding yang kami yakin pasti akan sangat terlambat, sementara Bu Hana dan Zia menuju Malioboro melanjutkan belanja yang tertunda.

Kendaraan yang harus kita gunakan dari Prambanan adalah Trans Jogja. Dari pintu keluar komplek Candi Prambanan menuju satle bus Trans Jogja pun tak dekat, sekitar 1 km jarak dari pintu keluar menuju satle bus.

Setelah sampai, kami menaiki bus dengan kode 1A dan turun setelah melewati tiga satle, dilanjutkan dengan menaikin bus dengan kode 2A dan hanya beberapa menit harus kembali berganti bus dengan kode 3B di depan rumah sakit mata. Ketika menunggu bus 3B memakan waktu yang cukup lama, akhirnya kami menaiki bus hingga satle berikutnya di samping kopma UGM. Setlah menerka-nerka jalan akhirnya kami menemukan jalan yang cepat menuju venue. Ketika sampai di venue, workshop pembuatan karinding oleh Ki Amenk sebagai praktikan dan Man Jasad sebagai pembicara.

Acara workshop selasai dan rombongan Karinding meninggalkan UGM kembali menuju Bandung pukul 16.32 dan mampir ke pabrik Bapia untuk sekedar membeli oleh-oleh.

Pukul 21.13 rombongan Karat mampir ke sebuah rumah makan untuk mengisi perut dan beristirahat di daerah Kebumen. Pukul 22.00 perjalanan kembali dilanjutkan. Sedikit tebak-tebakan dan cerita lucu dibahas selama perjalanan hingga akhirnya semua orang tertidur.

 

Day 4

07 Juli 2012

Pukul 00.20 rombongan sudah memasuki wilayah administratif Jawa Barat dan satu persatu orang bangun dan setelah sekitar satu jam  akhirnya rombongan karat memutuskan untuk kembali beristirahat karena banyak yang ingin buang air dan sekedar meluruskan persendian di pom bensin didaerah Ciamis.

Kendaraan kembali sepi karena semua tertidur. Ketika didaerah Gentong, jalanan macet hingga wilayah Nagreg yang menyebabkan waktu tempuh menjadi lebih lama.

Pukul 04.00 rombongan sampai di Cileunyi dan yang lebih dahulu turun adalah Ki Amenk karena sudah dekat dengan rumahnya. Pukul 04.30 rombongan Karat sampai di Common Room dengan selamat.

 

 

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Eddie Vedder, The S.I.G.I.T, Bob Marley, Time Bomb Blues, Entombed, Napalm Death, Gojira, Burgerkill

Books : Al Qur’an al Karim

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh Jon 666

Terusan rumusan lima lagu Karinding Attack yang akan dimainkan di Festival Gamelan Yogyakarta,

GERBANG KERAJAAN SERIGALA

“Gerbang Kerajaan Serigala” adalah salah satu lagu yang pertama kali diciptakan Karat namun menjadi lagu yang terkahir selesai digarap. Musiknya diciptakan Man, liriknya ditulis Kimung. Secara musikal, lagu ini mempresentasikan sebuah komposisi karinding yang solid dan brpotensi menjadi pakem baru di ranah musik karinding. Duet permainan Wisnu dan Ki Amenk sangat pas dan membuat lagu ini begitu berwarna dalam aura kelamnya.

Lirik lagu ini ditulis Kimung dalam waktu sepuluh menit dengan begitu banyak pengaruh. Yang paling nyata adalah pengaruh grup musik metal Swedia, Entombed, yang juga memiliki lagu bertema serigala, “Wolverine Blues” dan sejak rilis tahun 1993 segera menjadi influens utama para pionir Ujungberung Rebels.

Ini lagu yang penuh dengan absurdits. Tentang kerajaan serigala dengan langit sekelam tembaga dan darah yang membusuk di ufuk barat, wadam-wadam telanjang yang melolong-lolong memuja kabut , anjing dan setan yang menghirup nanah dalam ritual yang mengorbankan kita yang terikat dengan lidah terjulur, kaki dan tangan terpasak di tanah basah, pemujaan terhadap raja serigala, tumbuhnya rasa liar melalui taring, liur, wajah masai berjumbai, belati tajam, tombak, dan parang yang hitam meradang, khusus dipersembahkan bagi raja serigala.

Di panggung, lagu ini sering dikonotasikan ganda. Kadang merujuk pada kondisi kacau negeri ini karena ulah aparat dan pemimpinya yang gila puja dan penuh syahwat. Kadang merujuk pada kondisi semangat yang ditunjukkan oleh komunitas karinidng dan Karinding Attack sendiri dalam membangun lagu. Imej serigala—binatang favorit Kimung—lalu dijadikan imej album Karinidng Attack.

 

LAPAR MA!

Lagu ini liriknya ditulis Man dan musiknya tercatat di jurnal diselesai di Common Room tanggal 21 Januari 2010. Mengisahkan mengenai rakyat kecil yang terbiasa hidup susah, bisa makan pagi, tak bisa makan sorenya, bisa makan malam, baru bisa makan siang hari keesokan harinya. Ini adalah rintihan rakyat kecil yang terbiasa dalam kemiskinan namun terus berdendang menghibur diri karena hidup bagi mereka adalah bekerja dan berkarya.

Melalui “Lapar Ma!” Karat kembali menegaskan penghormatan paling tingi kepada sosok Ibu karena mereka lah yang semenjak awal memberikan hidup dan kehdupan bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Ibu lah yang kita tuju ketika kita sedang lapar dan haus akan makanan, perhatian, kasih saying; dan sampai kapan pun oleh kapan pun ia tak akan tergantikan. Karenanya Karat terus menghimbau kepada para audiens untuk senantiasa menghormati ibu—dan tentu saja juga ayah—sepanjang hayat, sejauh tarikan napas.

Yang menarik, diakhir lagu, man memotret berbagai makanan jajanan khas rakyat kecil yang sering mereka nikmati sehari-hari. Beberapa makanan yang disebutkan adalah nasi timbel, gepuk, emping, sambel tomat, tahu, goreng asin, colenak, kiripik lada, gehu, combro, misro, cilok, cireng , dan di akhir lagu Karat sengaja seperti menampar pendengar : bahwa bagi mereka yang tak punya uang itu semua Cuma hayalan dan yang bisa dilakukan hanyalah cingogo sambil berak buang kotoran—yang tak ada karena memang tidak makan apa-apa.

 

YARO – MAAF !

Lagu ini ditulis Kimung ketika dinamika karinding semakin menunjukkan grafik naik dan komunitas ini mulai diperhitungkan oleh beberapa kelompok masyarakat, termasuk yang berasal dari ranah politik. Sebetulnya, tahun 2009 atau 2010, secara jumlah massa, ranah musik karinidng bisa dibilang masih jauh sekali dari angka yang signifikan. Mungkin bisa dikatakan hanya berjumlah 500an orang saja yang bergelut secara serius mengembangkan musik karinding. Namun citra karinding sebagai seni buhun yang hampir punah—sebuah citra yang terus dibangun aktivis budaya Bandung mengenai karinding—berhasil menggiring perhatian orang untuk melirik ranah sosial karinding. tentu akan menjadi sebuah kabar yang seksi jika kemudian kelompok-kelompok masyarakat itu terkesan ikut serta ‘peduli’ melestarikan seni Sunda buhun yang hampir punah, mendukung berbagai upaya yang dilakukan para aktivis karinding betulan dalam melestarikan dan mengembangkan seni karinidng. Ini akan menambah citra yang bagus bagi mereka—para kelompok itu—yang pada gilirannya akan berimbas baik untuk mereka. Mereka akan dianggaps ebagai pahlawan. Mereka akan mendapat banyak pujian dari masyarakat. Mereka akan mudah mendapat uang dari pemeritah atau LSM asing. Mereka akan mudah menggalang simpati massa—khususnya untuk kelompok politik—yang pada gilirannya memuluskan jalan mereka meraih kekuasaan.

Lagu ini menceritakan hubungan Karat dengan beberapa kelompok masyarakat di ranah politik yang merapat ke markas Karat. Mereka menghitung kekuatan, menimbang, memilah, dan memilih, meriset dan memetakan jaringan kekuatan di ranah seni karinding, dan menyimpulkan jika simpul terkuat dan terdepan jika kita bicara mengenai pelestarian dan pengembangan seni karinding tahun 2009 dan 2010 tentu saja adalah Karat. Agresivitas Karat dalam mengembangkan teknik permainan dan musikalitas seni karinding, latar belakang para personil Karat yang mayoritas sudah berkecimpung di ranah musik independen lebih dari 20 tahun, serta massa yang berada di belakang mereka—baik massa death metal, hardcore, punk, sampai massa kelompok kampung adat dan kasundaan, tentu saja menjadi perhitungan mereka.

Lagu ini diciptakan sebagai pagar untuk para personil Karat agar senantiasa terjaga dan tidak tergoda dengan bujuk rayu para politisi itu. Personil Karat—terutama mereka yang kental dengan nuansa penokohan oleh massa yang selama ini selalu mendukung aktivitasnya atau yang memiliki banyak penggemar—memang patut diakui sempat gamang dan tergoda. Dan untuk itulah lagu ini diciptakan. Agar semua sadar diri, kembali ke khitah musisi sebagai pencipta musik, bukan aktivis atau penggerak massa. Tujuan utama musisi adalah menciptakan musik sebagus mungkin karena jika kita sudah menciptakan musik yang bagus, di sanalah nila pergerakan sosial yang sebenarnya. Apresiasi, inspirasi, hingga komitmen menyelamtkan wajah insdustri musik yang buruk di tanah air harus menjadi proorotas utama. Masyarakat sudah sedemikian lama dininabobokan oleh musik-musik yang buruk, stereotip, dan iti-itu saja di televisi. Masyarakat dibodohi industry dan diberikan kesan, ‘ini loh musik yang bagus’, ‘ini loh musik yang kamu banget’ ketika mereka sudah kehilangan jati diri sendiri—sudah hidup sebagai idol—bukan sebagai individu. Tentu saja mengisi botol yang kosong lebih mudah dari pada mengisi botol yang isi. Dan yang terpenting di sini adlaah apa lalu yang akan kita isikan ke dalam ‘botol kosong’ adik-adik kita? Apakah racun, sirup, wiski, tahi, kencing kuda, air kopi, atau apa? Mari musisi membuat karya yang sebagus mungkin karena ketika kita memberikan yang terbaik untuk adik-adik, saat itulah kita secara aktif sedang membangun suatu generasi yang lebih bermutu dan berkepribadian.

Karat tidak membenci aktivisme dan justru melebur di dalamnya. Mayoritas kawan-kawan kami, baik di kampus mau pun di jalanan, adalah aktivis, bahkan tahun 1998 saya terpaksa terseret ikut ke dalam pusaran aktivisme ketika melihat kawan perempuan saya babak belur bedarah-darah digebuki polisi di jalan Jatinangor dalam demo penggulingan kekuasaan Orde Baru. Kami juga kenal beberapa aktivis top 1998 yang kini setelah menjadi anggota dewan, tanggal semua cakar dan taringnya menjadi sebentuk macan yang ompong. Mereka yang dulu beringas, tak kenal ampun, dan tak kenal kompromi, melembek dan menahi ketika berhadapan dengan segelintir sistem politik nyata yang kotor dan kental dengan nuansa permainan uang, kuasa, dan berahi. Sekali lagi kami tak benci aktivisme. Kami hanya benci musisi yang lupa akan tugasnya menciptakan musik yang bagus hanya karena mereka terlalu aktif mengurusi hal di luar musik. Lagi pua, berbeda dengan pemandangan pergaulan anggota dewan dan politisi yang mirip badut koplo di Indonesia, kami melihat pergaulan musisi yang menjaga kualitas musiknya, sebanding dan sejalan dengan komitmen massanya untuk terus bergerak dan melakukan perubahan.

Dengan begitu banyak hal yang ingin saya sampaikan di lagu ini, kami sebetulnya hanya menekankan satu baris lirik yang lugas dan jelas : MAAP KAMI TIDAK TERTARIK PADA POLITIK KEKUASAAN!

 

NU NGORA NU NYEKEL KONTROL

Lagu ini saya dedikasikan kepada Bandung Death Metal Syndicate, salah satu sayap pergerakan Ujungberung Rebels yang paling baru. Berdiri tahun 2005, sindikat ini sudah sukses menggelar empat kali festival musik death metal paling bergengsi, Bandung Death Fest, dan kini menaungi dan menghubungkan lebih dari 160 band death metal yang tersebar di Bandung dan sekitarnya. Bandung Death Metal Syndicate juga yang pertama kali menyebarkan kesadaran akan lokalitas Kasundaan dan salah satunya mengkristal pada berdirinya Karinding Attack. Yang paling penting, walau tetap digawangi para senior seperti Man, Ki Amenk, dan Okid, Bandung Death Metal Syndicate diwarnai sekaligus mewarnai wajah-wajah muda ranah musik death metal. Kepada wajah-wajah inilah “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol” dipersembahkan.

Lagu ini saya singkat jadi N4C, atau sering dilafalkan menjadi Enforce—kekuatan. Sejak awal dibuat, seperti wajah judul, lagu ini harus memiliki totalitas dan kekuatan. Tak ada pilihan bagi saya selain membuat aransemen musik yang geber buat lagu ini. Ini lagu anak muda dan sejauh ingatan saya, anak muda memainkan musik sekencang dan sebising mungkin.

Lirik lagu ini sengaja saya mulai dari refrain untuk menghimpun energi bersama yang seterusnya akan melatari semangat lagu. Teriakan, “Nu ngora nu nyekel, kontrol!” merupakan penggugah kepada semua anak muda di seluruh dunia untuk bangun dan sadar jika kini waktunya sudah dekat untuk berada di depan membuat karya bagi orang banyak. Ini kemudian diperkuat dengan dua baris verse pertama, “Hayu maju dulur-dulur, nu ngora nu nyekel kontrol!” Ini mengacu pada ajakan kepada anak-anak muda yang berderap ini untuk terus di depan. Dunia, Indonesia, dan Bandung hari ini sedang krisis figur manusia yang berhasrat dan berkehendak untuk kuasa. Kuasa atas diri mereka sendiri, kuasa untuk kemajuan bersama.

Figur-figur pemimpin yang ada ketika lagu ini saya tulis adalah figur para penguasa yang korup, pemimpin yang tidak gamang dan tegas, para aktivis yang setengah-setengah, penegak hukum yang mandul, politikus dan wakil rakyat yang moralitasnya rendah, terlibat skandal seks, korupsi, permainan  hukum, pemimpin yang mengijinkan penghancuran tempat-tempat bersejarah di kota, pengusaha yang membabat ribuan hektar hutan; sementara para budayawannya asyik sendiri dalam kebagawanannya, para sejarawan gagal menentukan siapa itu pahlawan, siapa itu penjilat, para pemikirnya hanya menghasilkan retorika di atas kerta, tak pernah nyata di lapangan.

tulah kenapa saya menulis, “Nu lila beuki paciweuh, tuur paketrok ngomong balelol!” Awalnya saya mau menuliskan “Nu kolot” tapi sejauh pergaulan saya, ‘kolot-kolot- yang berada di antara saya bukanlah kolot-kolot yang saya maksud di baris terakhir verse awal lagu ini. Mereka adalah kolot-kolot yang tetap berani, mangprang, dan terus secara cepat dan simultan melakukan berbagai inovasi dalam hidup mereka yang juga merubah wajah masyarakat. Saya sangat menghormati mereka, sehingga kata ‘kolot’ saya ganti menjadi ‘lila’. Yang saya benci bukan umurnya, tapi daya juang mereka yang mengendor. Saya kira orang tua yang tetap memiliki semangat juang kencang, ribuan kali lebih baik dari pada anak muda ngoyo dan ngowo. Ini saya perkuat dengan refrain, “Nu ngora nu nyekel kontrol!”

Lirik “Pageuh panceg jadi paseuk, keupeul rapet tujuk ka langit” adalah bahasa simbolis harapan saya kepada anak-anak muda. Sebagai mahluk-mahluk berhati baja dengan daging-daging yang meliat, sudah sewajarnya jika anak muda juga kuat secara intelektualitas, matang secara pikiran, perkataan, dan perbuatan sehingga bisa menguatkan segenap keyakinan ketika semua ada di jalanan. Frasa “pageuh panceg jadi paseuk” terinspirasi dari salah satu peribahasa, ‘hidup bagaikan roda. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah.’ Tentu saya juga menghargai peribahasa ini. Namun saya kira adalah hal yang bodoh jika kita lagi dan lagi ada di bawah. Seharusnya kita bisa belajar sesuatu ketika kita sedang ada di bawah sehingga kita tak akan kembali mengulang sesuatu yang kan menyebabkan kita kembali ke bawah. Hanya keledai yang mengulangi kesalahan yang sama dua kali dan pengibaratan ‘hidup adalah roda’ tentu saja menegaskan keluguan manusia. Manusia yang berhasrat tak akan mau terus menerus mengulang hal yang sama, apa lagi ratusan, ribuan kali. Ia akan belajar untuk lepas dari lingkaran setan dan mengambil alih peran menjadi porosnya. Poros akan diam stabil di tempatnya. Dengan memahami posisi poros, kita akan yakin bahwa yang penting di sini bukanlah di mana posisi kita berada, tapi sejauh apa hal terbaik yang kita lakukan untuk berada di posisi tersebut. Bagaimanakah membangun keyakinan  terbaik kita agar yakin dan sadar untuk melepaskan diri dari peran sebagai roda dan beralih menjadi poros sebuah roda : adalah dengan mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke langit. Lalu hajarlah jalanan!

Frasa lirik “Wani raheut hajar jalanan” adalah karya nyata yang dibagun dari semangat di atas. Saya dan kawan-kawan Ujungberung Rebels lahir dan tumbuh di jalanan. Semangat inilah yang terus membuat kita hidup dan memiliki hasrat hidup yang terus menggebu. Di jalanan, nothing to lose. Ini membuka visi dan persepsi kita ke dimensi yang luas dalam memandang hidup : “Dada lapang, ucap lantang” Dalam keluasan, kejernihan pikiran akan tercipta. Dari kerja yang iklas, akan membangun suara yakin yang akan membangunkan para anak muda : “Nu ngora nu nyekel kontrol!”

Di refrain ke dua ini saya kembali ingin menegaskan bahwa selama ini, yang memperngaruhi perjalanan kehidupan masyarakat Kota Bandung dan Indonesia adalah para anak mudanya. Di Bandung, misalnya, industri kreatif yang kini berkembang dan semakin bersinergi digawangi oleh anak muda. Tokoh-tokoh muda muncul dan wajah-wajah baru mendominasi di hampir semua lini intelektualitas dan lingkar pragmatis kota, dari seniman, budayawan, pemerintah, politikus, polisi dan tentara, sosialita, awak media, hingga rakyat kebanyakan yang terserak : semua wajah-wajah muda. Wajah dunia kini semakin segar.

Repertoar melodi untuk lagu ini saya kira butuh sesuatu yang bising dan bertenaga. Toleat dengan cara tiup terompet di nada-nada provokatif berpola pendek dan yang repetitif saya kira merupakan aransemen yang pas untuk mendukung chaos semangat muda yang telah terbangun. Empat kali putaran lead toleat, saya kita bisa bernyanyi bersama dalam frasa yang mudah diikuti audiens, “Hidup budak ngora!!!”

 

Semua rumusan ini tersedia dalam narasi yang lebih panjang, kompleks, memuat proses kreatif penciptaannya yang lebih lengkap. Tunggu rilisannya oleh Kimung!

27 Juni, Rabu,

Kimung bertemu Ariel untuk mengambil komentarnya atas buku Ujungberung Rebels, Panceg Dina Galur. Karena kesibukan, Ariel mengutarakan komentarnya secara lisan, disertai beberapa pertanyaan lainnya berkaitan tentang sejarah Indonesia, sejarah Ujungberung Rebels, dan karinding. Berikut adalah wawancara Ariel, dilakukan di Jalan Belimbing 1 Bandung, simaklah,

 

Tetang ketertarikan Ariel kepada sejarah,

Sangat tertarik sama sejarah. Dari mulai SMP, SMA kalau pas lagi pelajaran sejarah lebih banyak mendengarkan dari pada pelajaran lainnya. Menyenangkan mengetahui apa yang terjadi sebelum kita. Dari kita lahir, kita tahu tentang kita, kaluarga, negara. Kita juga tau kenapa negara itu terbentuk, kenapa kita lahir, manusia-manusia sebelum kita, itu menarik. Ditambah lagi kalau ada peradaban-peradaban yang udah ngga ada. Memang tidak semisterius masa depan, tapi masa lalu, sejarah, sama menariknya dengan masa depan. Yang paling menarik adalah sejarah manusia itu panjang, apa yang mereka lakukan pertama kali, sampai sejarah penyebaran manusia, saya kira itu sangat menarik.

 

Karya sejarah yang dibaca dari dulu sampai sekarang,

Dari dulu saya belajar pelajaran sejarah Indonesia, saya tertarik peperangan jaman Medieval, mundur lagi ke masa-masa sebelumnya. Dari poin satu pengen tau poin dua, poin tiga, dan seterusnya. Tapi kadang-kadang saya mulai dari perang dunia, lalu saya penasaran dan mencari buku-buku yang saya baca tentang bangsa-bangsa. Misalnya kalau saya baca tentang Hitler yang sangat mengagungkan bangsa Aria, saya lalu nyari lagi buku-buku tentang bangsa Aria.

 

Buku-buku yang menggugah,

Sekarang ini yang menggugah justru sejarah bangsa sendiri. Kalau dulu sering baca sejarah Eropa, Yunani, dan sebagainya, tapi mulai kemarin-kemarin saya mulai baca Seokarno, sejarah bangsa Indonesia pertama kali, pahlawan-pahlawan yang ikut memperjuangkan kemerdekaan. Buku-buku itu sangat berkesan.

Saya ga teralu banyak baca buku sejarah musisi. Kalau musisi karena eranya sudah ke sini, mereka punya catatan sejarah yang beda, bukan cuma di buku, kebanyakan di video dan lain-lain. Paling sejarah Kurt Cobain yang memang saya minati dan ingin saya tahu lebih mendalam saja. Pola penulisan sangat ragam, tapi tetap tujuannya sama, menceritakan tentang orang itu.

 

Pentingkah penulisan sejarah,

Penting! Walau katanya sejarah itu banyak yang nggak bener isinya, banyak yang ditulis dengan tujuan-tujuan tertentu, tapi minimal ada pegangan. Orang dulu bilang pengalaman itu adalah pelajaran yang paling berharga. Nah sejarah itu isinya pengalaman, walau bukan pengalaman kita sendiri, tapi kita bisa belajar dari pengalaman orang lain yang ditulis. Apa lagi pengalaman yang ratusan tahun yang lalu. Jadi tak ada alas an untuk mengulangi kesalahan yang sama.

Itu cuma satu faktor, faktor lain menghargai apa yang sudah dilakukan orang-orang sebelum kita. Kaya belajar sejarah bangsa Indonesia, kita lihat apa yang dilakin sama pahlawan-pahlawan dulu dan akhrnya kita bisa menghargai apa yang mereka lakukan, dan akhirna kita bisa mengharga mereka telah melakukan ini dan kita membangun bangsa ini meneruskan perjuangan mereka. Kalau kita ngga tahu, kita juga ngga bakalan tahu mau ngapain di Indonesia ini. Kalau kita tahu apa yang sudah terjadi tentang bagaimana terbentuknya negara ini, kiita pasti bisa lebih menghargai bangsa ini.

 

Tentang Ujungberung Rebels,

Saya malah lebih tahu Burgerkillnya hahahaha sejauh ini saya baca dari buku, sejarahnya, legendanya. Yang terjadi di Ujungberung Rebels adalah fenomena yang terjadi di Bandung secara keseluruhan. Dari dulu Bandung makmur akan karya, pemikirannya maju, iklimnya bagus, banyak sekolah. Yang terjadi dalam pergerakan Ujungberung Rebels, walau tradisional namun pemikirannya maju. Bandung yang tergambar di Indonesia mungkin bisa terikoni melalui pergerakan musik yang ada di Ujungberung.

 

Pentingkah penulisan sejarah Ujungberung Rebels?

Ngga ada yang ngga penting. Apa pun yang bisa ditulis pasti penting. Penulisannya sendiri sudah sangat penting tapi yang lebh penting lagi adalah bagaimana semua orang bisa membaca itu. Itu bisa jadi motivasi buat yang lain-lain. Kalau menurut saya satu kota ini perlu tahu bahwa pemikiran orang-orang yang ada di Bandung ini sudah maju. Jangan sampai kaya orang pada umumnya, atau kelas A, B yang melihat komuntas ini adalah para berandalan, segala macam. Kalau mereka sudah melihat melalui buku, mereka bisa tahu bahwa musisi di Bandung itu pinter-pinter. Ini bisa merubah beberapa persepsi bahwa nggak selamanya rebel itu tak terarah. Ini bukan rebel tanpa alasan, ini rebel dengan alasan”.

 

Bagaimana dengan karinding,

Ini takdir hahaha begitu mulai membaca buku sejarah Indonesia, jiwa nasionalisme saya jadi tumbuh. Yang tadinya saya selalu mengacu pada “Barat”, termasuk dalam musik, tapi dengan masuknya rasa nasionalisme dalam diri setelah membaca buku-buku ini jadi ke sana arah pikirnya. Kebetulan waktu itu dibawain karinidng, alat musik budaya bangsa kita yang belum banyak orang tahu. Menurut saya lebih keren karinding dari apa yang di Eropa. Dari sanalah ketertarikan ini muncul. Membangun rasa nasioalisme melalui buku-buku sejarah,.di saat yang sama ada alat musik yang sudah tua sekali di sini yang dekat dengan saya. Ini harus di budidayakan.

 

Cara pengembangan karinding,

Ada banyak cara. Salah satunya mungkin yang kemarin dilakukan Peterpan sama Karinding Attack. Bisa disebutkan, Peterpan sudah di zona mainstream, banyak didengar kebanyakan orang, ada di jalur pop. Sedangkan karinding sendiri, alat musik tradisional dan jarang sekali didengar. Salah satu caranya dengan mengawinkan itu.

Cara lain, kalau kita bisa promosikan itu keluar, itu lebih bagus. Kalau di Indonesia mungkin Peterpan yang kuat memperkenalkan itu ke masyarakat luas, tapi kalau ke luar, karinding sendiri pasti yang akan lebih kuat. Tetangga saya di Jakarta, dia punya restoran di London. Pada saat rilis album “Suara Lainnya” keluar dia memperkenalkan itu di sana. Bule-bule itu pada suka. Mereka tidak butuh another Coldplay di Eropa, sudah sehari-hari musik kaya gitu, sudah bosen. Tapi mereka suka album itu. Setiap hari lagu-lagunya diputar. Dan yang mereka paling suka adalah lagu “Sahabat” which is yang Karinding Attack featuring Peterpan, yang ke dua “Di Belakangku” yang which is ada saluang di dalamnya. Mereka bilang memang lebih suka yang eksotis kaya gini. Suara bambu segala macem. Cara-caranya harus terus dicari. Yang pasti ini sangat dihargai oleh orang-orang di luar.

 

Harapan buat karinding dan penulisan sejarah di Indonesia dan komunitas,

Buat karinding mudah-mudahan ada yang bisa kita lakuin lagi, kalau bisa sama Peterpan hayu, atau mudah-mudahan ada yang lain-lain uga yang tertarik untuk mengembangkan itu lagi.

Buat sejarah, sudah saatnya buku-buku sejarah dirapikan. Mulai banyak fakta yang lebih diungkap dalam buku-buku sejarah. Begitu sudah dirapikan tinggal programnya bagaimana agar orang baca, gimana caranya. Penting ini. Mundah-mudahan mereka baca, tumbuh nasionalisme,d an membangun bangsa ini bukan mengeruk bangsa ini. Peterpan juga lagi bikin buku. Tujuannya sama memberikan pelajara dan dokumentasi dan berbagi pengalaman terutama buat yang mau bikin band baru. 

 

Malam harinya Man mengabarkan jika Karinding Attack terlibat dalam opera “Si Kabayan Jadi Presiden” garapan Didi Petet dan Butet Kertarejasa di Taman Ismail Marzuki bersama Hari Pochank, Rumah Musik Harry Roesli, dan lain-lain. Hari Jum’at, Man akan rapat bersama para pendukung opera “Si Kabayan Jadi Presiden”.

 

28 Juni, Kamis,

Bersiap untu bermian musik bersama Slamet Gundono dan Wayang Suketnya. Sebelumnya Karat mencari ragam informasi mengenai Slamet Gundono dari internet. Berikut adalah profil seniman kita ini, didapat dari website Taman ismail Marzuki,

Slamet Gundono (lahir di Slawi, Tegal, 19 Juni 1966; umur 46 tahun) adalah dalang wayang suket (wayang rumput) dan seniman Indonesia. Ia lahir dari keluarga dalang ini bernama asli Gundono; nama Slamet ditambahkan oleh guru sekolah dasarnya. Awalnya ia tidak mau meneruskan jejak ayahnya, karena citra negatif dalang yang lekat dengan minuman keras dan main perempuan. Akan tetapi, selama mondok di sebuah pesantren di Lebaksiu, rasa tertariknya pada wayang semakin menguat.

Setamat pesantren, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Teater di Institut Kesenian Jakarta. Namun, kemudian ia pindah ke Jurusan Pedalangan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (kini Institut Seni Indonesia Surakarta). Dan pada tahun 1997, ia menyelenggarakan pertunjukan pertamanya di Riau, di mana pada saat itu ia menyuguhkan pertunjukan wayang dari rumput (bahasa Jawa: wayang suket) untuk pertama kalinya.

Slamet Gundono lulus dari STSI pada tahun 1999. Pada tahun itu, ia mendirikan komunitas Sanggar Wayang Suket. Di sana, ia mengembangkan lebih jauh seni pewayangan, dengan memperkenalkan wayang dari bahan rumput dan menyajikan pertunjukan wayang yang keluar dari pakem yang telah baku. Karena itulah, meskipun awalnya banyak diprotes, dalang berbobot 150 kilogram ini menjadi ikon wayang suket. Ia telah menerima sejumlah penghargaan, seperti Penghargaan Prins Claus pada tahun 2005. Saat ini, Slamet Gundono bermukim di Jl. Sibela Timur III No. 1 Mojosongo, Jebres, Surakarta.

Gundono menulis sejumlah naskah teater wayang orang, seperti Sukesi atau Rahwana Lahir, Limbuk Ingin Merdeka, dan Bibir Merah Banowati. Slamet Gundono, harus diakui sebagai dalang muda yang kreatif. Sebagai pengagum Ki Nartosabdho (alm), ia ingin menjadi dalang wayang kulit yang bergaya klasik. Kemampuan dan karakter vokalnya cukup bagus, bahkan bisa disebut reinkarnasinya Ki Narto. Soal olah gerak boneka wayang alias sabet juga standar.

Hanya, dia kalah dalam persaingan antar-dalang. Lobi dan jaringan dengan konsumen dan broker sudah dikuasai dalang-dalang mainstream, yaitu Ki Manteb Sudharsono dan Ki Anom Suroto untuk gaya Surakarta dan Ki Hadi Sugito untuk gaya Yogyakarta. Karena itulah, ia mengembangkan gaya pertunjukan sendiri, seperti wayang suket yang boneka wayangnya terbuat dari rumput atau wayang gremeng yang dimainkan tanpa boneka wayang kulit. Nyatanya, dia sukses dengan hasil eksplorasi kreatifnya. Baik ditilik secara eksistensialis maupun dari sudut pandang ekonomis.

Slamet Gundono adalah dalang yang sering disebut-sebut mbeling. Ia adalah dalang yang cerdas, yang tidak tunduk pada aturan baku, juga tidak mendek karena keterbatasan peralatan dan persyaratan dalam mendalang. Lakon dan jalan cerita yang dimainkan, pada pertunjukan merupakan gubahan dari fiksi yang dipadukan dengan fakta, sehingga dalam lakon terdapat pembaruan. Cerita tidak mengalami stagnasi.

 Boneka wayang yang dibuat dari kulit, yang biasa digunakan untuk pertunjukan wayang kulit, di tangan Slamet Gundono bisa diubah dengan apa saja. Pertunjukan wayang seperti itu, tentu saja sudah sangat menjauh dari pakem pertunjukan wayang kulit konvensional. Jika pertunjukan Slamet Gundono harus diberi istilah, dengan pertunjukan teater wayang. Dikatakan teater, karena pertunjukan ini juga melibatkan aktor-aktor lain yang bermain di panggung, dan dalam beberapa adegan para aktor itu berinteraksi dengan wayang yang dimainkan Slamet.

Garibaba’s Strange World (2009)

Pertunjukan gado-gado seperti itu sudah merebak di Tanah Air. Banyak yang melakukannya. Namun, ada satu kekuatan yang dimiliki Slamet dan kawan-kawannya sehingga pertunjukannya tetap memikat dan enak ditonton. Setidaknya ada empat unsur yang menjadi kekuatan dalam pertunjukan Slamet. Pertama, Slamet Gundono selalu memasukan unsur humor namun tidak dengan maksud melawak.

 Kedua, sebagaimana layaknya dalang konvensional yang pandai menembang, Slamet Gundono yang setiap kali pentas selalu ditemani ukulele, pandai menembang dengan suara yang merdu. Kepandaiannya ini membuat narasi yang disampaikan, jadi lebih memikat, dengan tingkat penghayatan yang tepat. Ketiga, sekalipun lakon yang dibawakan bernuansa surealis, namun alur cerita yang dibangun masih ada benang merahnya, sehingga penonton dapat mengikuti jalan cerita yang dibentangkan.

 Keempat, Slamet selalu mengusahakan pertunjukannya berlangsung secara komunikatif. Ada interaksi antara pemain dengan penonton seperti yang terdapat dalam pertunjukkan teater tradisional, misalnya Lenong, Longser, Ludruk, Ketoprak, Makyong.

Setelah merilis buku pertamanya, Presiden Bunuh Rakyat, beberapa tahun lalu, Slamet Gundono juga meluncurkan buku Pertanyaanku tuk Air, Antologi Pertanyaan Puitik Dalang Suket tanggal 8 Oktober 2011 di Stasiun Solo Sangkrah. Buku setebal 100 halaman ini berisi 70 teks Slamet Gundono seputar politik, cinta hingga kesetiaan yang dibalut dalam pertanyaannya kepada air. “Ketika saya bertanya kepada air, bisa jadi saya bertanya kepada diri sendiri. Bisa jadi pula saya memang bertanya kepadanya. Tidak ada batasan dalam karya ini.”

Diungkapkan Slamet Gundono, ketertartikannya kepada air berawal dari perasaannya yang menganggap air selalu hadir dalam setiap perjalanan hidupnya. “Lebih dari sekadar kebutuhan hidup seperti mandi dan minum, bagi saya air sangat mewarnai hidup dan pendewasaan diri selama ini,” katanya.

Di setiap lokasi yang ia tinggali, Slamet Gundono selalu dihadapkan persoalan tentang air. Saat tinggal di Kentingan semasa mahasiswa, ia menjadi salah satu saksi dahsyatnya banjir akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo. Saat tinggal di Ngringo dan Jomboran, Slamet Gundono bahkan menghadapi persoalan air lebih besar berupa polusi. “Sampai di tempat tinggal yang terakhir ini, Mojosongo, masih saja saya diingatkan ihwal eksistensi air lewat penjual air keliling yang setiap pagi selalu menyapa di depan rumah. Bagi saya, air sudah seperti makhluk hidup yang selalu mengajak berkomunikasi,” tuturnya.

Ditambahkan Slamet, buku yang diterbitkannya secara independen itu bisa didapatkan di sejumlah komunitas seni di Solo. Ia mengaku belum menentukan banderol harga buku tersebut. “Yang jelas, buku ini tidak profit oriented. Mungkin nanti harganya bisa bervariasi, tergantung siapa pembelinya. Kalau memang tak punya uang dan ingin membaca, bisa saja kami gratiskan,” ucap dia.

Untuk kali pertama, pihaknya akan mencetak sekitar 300 eksemplar buku. Di samping buku, Slamet Gundono akan mengemas antologinya dalam format CD. “Dalam format ini, kemasannya akan lebih musikal. Saya berencana menggunakan alat musik gesek seperti cello dan rebab untuk latar lagu,” pungkasnya.

29 Juni, Jumat,

Hari yang mendebarkan. Jam satu siang saya sudah tiba di teater terbuka Dago Tea House. Saya langsung emrapat ke sudut Dago Tea House di mana kelompok musik galengan sedang berlatih. Hebat sekali mereka! Saya adalah pengagum utama mereka! Saya juga dibuat takjub dengan gitar dan bass bamboo yang dibuat si abah Galengan sehingga saya berhasrat memesan satu buah bass bamboo buatannya.  Tak lama, saya bertemu kawan ketika di Purnawarman, Yoppie, vokalis band Once, yang kini ternyata menjadi pengurus Dago Tea House.

Tak lama makan siang dating dari Toko You dan saya makan siang barena Pak Endo Suanda, Slamet Gundono, dan kawan-kawan karat yang lain. Kita sempat berbincang mengenai berbagai hal, juga mengenai adab-adab mengolah makanan bersama pemilik Toko You.

Usai makan, semua berkumpul di sudut tempat Galengan berlatih untuk latihan musik bersama. Konsepnya adalah memainkan sepenggal terakhir nada sintren Cirebon yang bercerita mengenai kearifan lokal, gugahan kesadaran untuk memperhatikan alam, hubungan manusia dengan manusia, serta manusia dengan tuhan. Di tengah latihan, Bintang dari Jendela Ide ikut bergabung memainkan gendang kendi dan jimbe. Usai latihan, alat segera ditata di panggung dengan arahan Uwox, dilanjut dengan cek tata suara hingga menjelang jam delapan malam.

Jam delapan malam, semua berkumpul sekali lagi untuk melakukan persiapan terakhir sebelum akhirnya semua masuk panggung disusul oleh tepuk tangan audiens. Slamet menyapa semua auudiens melalui satu nomor ciptaannya berjudul “Air”. Satu aransemen yang kocak namun penuh dengan visi dan sisi kontemplatif. Salmet memainkannya dengan gambus bamboo buatan Pak Endo Suanda.

Usai itu, giliran Wayang Suket tampil duluan menamilkan dua komposisi yang sangat apik. Galengan kemudian tampil menampilkan dua komposisi usi instrumenal dan disusul oleh Karat yang tampil memainkan dua lagu “Burial Buncelik” dan “Maap!” Pertunjukan langsung disambung dengan kolaborasi tiga band plus Bintang dari Jendela Ide.

Musik yang dihasilkan mengalir seperti air. Konsep saling mengisi dan battle terangkum dalam jams ession dua puluh menitan itu hingga akhirnya semua mencapai satu titik di mana kolaborasi harus usai. Beberapa bagian ada yang lepas karena perbedaan tingat rasa dalam mengolah dan mengalunkan musik namun semua dengan cepat kembali ke jalurnya masing-masing. Semua mempersilahkan setiap instrumen untuk bersuara secara independen, lalu bersuara dalam rumpul teknik permainannya sebelum akhirnya semua lebur bersama seluruh instrumen yang dimainkan bersama.

Benar-benar sebuah pertunjukan yang spektakuler!

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Eddie Vedder, Slamet Gundono dan Wayang Suket, Peterpan, Time Bomb Blues, The S.I.G.I.T, Janis Joplin, The Black Sabbath, Deep Purple

Books : Al Qur’an al Karim

Movies :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh Jon 666

17 Juni, Minggu, Gitar Gambus Bambu Pak Endo Suanda dan Indifference Things

Berbincang bersama Robi, Gembul, dan Alfred, kawan-kawan Navicula dari Bali. Mereka memiliki wawasan musik tradisional yang luas dan mutakhir. Saya tertarik bekerja sama menggarap satu komposisi musik kecak untuk Nicfit dan musik Baleganjur untuk Karinding Attack. Gembul dan Robi berjanji membantu saya dalam proses ini.

Di saat yang bersamaan, saya juga bertemu dengan Pak Endo Suanda yang saat itu kebetulan sedang di Common Room, mengadakan pertemuan mengenai aktivasi taman budaya seluruh nusantara bersama Gustaff dan kru Common Room. Senang sekali berkenalan dengan Pak Endo yang selama ini sangat terkenal kiprahnya dalam pengembangan instrumen bambu. Apa lagi ketika pak Endo kemudian mengajak mengajak Karinding Attack untuk berkolaborasi dengan Slamet Gundono akhir Juni 2012. Beberapa masalah teknis seperti akomodasi sempat dibahas sekilas dan akan dibahas lebih lanjut kemudian. Berikut adalah profil Pak Endo Suanda dicuplik dari website Taman Ismail Marzuki,

Lahir di Majalengka, Jawa Barat, 14 Juli 1947. Sejak usia 10 tahun, adalah seorang nayaga dan penari tradisi. Belajar membuat topeng, tari dan karawitan Cirebon sejak tahun 1969. Masuk ASTI (kini STSI) Bandung tahun 1968 dan menyelesaikan Sarjana Mudanya ditahun 1973. Melanjutkan studinya di Akademi Seni Tari Indonesia (kini ISI), Yogyakarta (1973-1976). Selama belajar di Bandung dan Yogyakarta, ia meluangkan diri untuk menjadi pelatih musik dan tari (1969-1973). Mendapat beasiswa untuk program MA di Wesleyan University, Middletown, Connecticut, Amerika Serikat (1979-1983). Meraih gelar Ph.D. etnomusikologi dari Washington University, Amerika Serikat (1987-1991).

 Sepulang belajar di Wesleyan University, ia menjadi pelatih seni tradisional dan eksperimental pada ASTI (kini STSI) Bandung dan Institut Kesenian Jakarta (1983-1984). Sempat menjadi konsultan pada Departemen Etnomusikologi, Universitas Sumatera Utara (1984-1987). Menjadi asisten untuk musik gamelan di University of Washington, saat ia berkuliah di Washington University, Amerika Serikat.

Tahun 1977, menjadi penata tari Topeng Babakan untuk pertunjukan di TIM. Selanjutnya selama 5 bulan bergabung sebagai pelaku dan penyusunan iringan Teater Loh-nya Julie Taymor di Bali. Mengikuti Festival PTM I/1978 dengan menampilkan tari Klana Tunjung Seta. Ditahun yang sama, ia membantu membuat iringan musik, topeng dan kostum untuk film ‘November 1828’ arahan sutradara Teguh Karya. Kemudian menggarap topeng Kupu Tarung untuk Festival Jakarta tahun 1978.

 Seniman yang menjadi pengajar tetap di ASTI (STSI) Bandung ini, pernah menjadi artist in residence di Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat, mengajar musik gamelan dan tari topeng (1981-1982). Sempat ikut serta dalam workshop tentang teater di University of Sydney, Australia. Sering mengadakan pertunjukan, baik sebagai penari maupun sebagai koreografer, antara lain dalam Festival Ramayana (1970, 1971) sebagai anggota kontingen Jawa Barat. Memimpin pertunjukan Topeng Babakan di Hongkong (1979), Pertunjukan Tari Prabu Siliwangi bersama dengan Iravati Durban di Bandung dan Jakarta (1984). Pertunjukan Kesenian Sunda di berbagai kota di Amerika Serikat (1989). Tahun 1992, ia mengadakan pertunjukan Kesenian Sunda dan Cirebonan di Adelaide, Australia. Pertunjukan Tari Topeng dan Wayang Cepak Cirebon dalam Festival Boneka Internasional di Hiroshima dan kota lain di Jepang (1993).

 Endo juga banyak menulis, baik untuk dimuat dalam majalah atau surat kabar maupun sebagai makalah untuk berbagai pertemuan, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris, umumnya tentang kesenian tradisional, khususnya tentang kesenian Cirebon seperti tari topeng dan wayang kulit Cirebon. Tulisan-tulisannya dimuat dalam majalah Budaya Jaya, Kalam, Asian Music, surat kabar Pikiran Rakyat dan Jakarta Post.

Endo merasa resah, karena pemerintah mandaftarkan produk seni dan budaya Indonesia sebagai warisan dunia, tetapi disisi lain pemerintah tidak memberikan akses yang baik bagi warga negara yang ingin mendapatkan pengetahuan soal produk budaya dan seni tersebut. “Banyak orang bicara bagaimana membangun karakter bangsa yang berpijak pada khazanah budaya dan seni lokal. Kita bicara pengembangan kecerdasan yang berbasis kearifan local. Namun, pengetahuan riil soal kehidupan kebudayaan kita tak terdata dengan baik. Padahal data yang membentuk ilmu pengetahuan,” katanya.

 Akses publik terhadap pengetahuan budaya dan seni nusantara itu yang digugat Endo sejak tahun 2007 saat dia melakukan pendokumentasian secara digital produk seni dan budaya seluruh nusantara. Ia mendirikan lembaga Tikar Media Budaya Nusantara, yang bakal menjadi cikal bakal ensiklopedia produk seni dan budaya Indonesia. Bersama Tikar Media Budaya Nusantara sejak tahun 2007 mendokumentasikan dan mengarsipkan secara digital 13 kategori produk budaya dan seni nusantara, seperti tarian, musik, teater, senirupa, topeng, wayang, arsitektur, pemukiman, tekstil, kuliner, permainan dan keterampilan.   

 Dalam mengkoleksi dan mengarsip semua data produk budaya dan seni nusantara, Endo dibantu para relawan mantan mahasiswanya di STSI Bandung dan ISI Yogyakarta. Selain itu, pada tahun 2004, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPPSN). Kegiatan di LPPSN antara lain membuat bahan jar berupa buku dan audiovisual yang kemudian ditawarkan kepada semua sekolah yang ada di Indonesia. Datanya antara lain dari pendokumentasian dan pengarsipan yang telah ia lakukan. Kegiatan ini awalnya merupakan keprihatinan Endo melihat pendidikan seni yang tak memberikan pencerahan kapada anak didik.

 Apa yang dikerjakan olehnya dengan Tikar Media Nusantara dan Lembaga Pendidikan Seni Nusantara sedikut banyak mengubah pengajaran seni dan budaya di sekolah. Sudah ribuan sekolah di 12 provinsi yang menerima bahan ajar dari Lembaga Pendidikan Seni Nusantara.

http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/ensu.html

Malamnya, Indfference Things II digelar di Swarga Café bersama Nicfit, Neowax, WaterBroke, 2Sisi, Dadi Yeehaw, Balian, dan Navicula. Acara ini juga merupakan acara bersejarah bagi Ujungberung Rebels. Indifference Things I tahun 2006 yang juga digarap oleh Doni Nicfit dan kawan-kawan di Purnawarman, merupakan panggung terakhir Ivan Scumbag. Indifference Things kali ini terasa bagi emosional buat saya. Saya yakin, perasaan ini juga dirasakan oleh mereka yang mengetahui ini. Luv you Scumbag!

Karinding Attack tampil setelah band Kimung, Nicfit. Di panggung yang akrab ini Karinding Attack menghajar arena dengan lima nomor “Bubuka Gayatri”, “Burial Buncelik”, “Nu Ngora Nu Nyekel Kontrol”, “Lapar Ma!” dan “Maap!”

Setelah Karinding Attack tampil Navicula. Saya pribadi menaruh penghargaan yang tinggi terhadap band muda ini. Mereka mengusung banyak sekali tema dalam lagu-lagunya dan bukan cuma itu, juga mempraktekkanya di kehidupan sehari-hari di Bali. Mereka berkampanye untuk menyelamatkan orang utan, juga membantu ibu manajer mereka, Lakota, untuk menyosialisasikan keutamaan ASI eksklusif. Ini hanya sekelumit kecil hal-hal sosial yang mereka lakukan. Saya kira, tak salah kami mengundang kawan-kawan untuk tampil di bansung karena mereka membawa aura positif di sini. Semoga semua tetap panceg dina galur, kita semua!

19 Juni, Selasa,

Bertemu Egi dari komunitas karinding Mekar Galih menjajaki kemungkinan Karat tampil di acara peresmian komunitas.

21 Juni, Kamis,

Bertemu Egi dari komunitas karinding Mekar Galih memastikan Paperback tampil di acara peresmian komunitas.

22 Juni, Jumat

20:47:51

Sms dari Eben,

Malem brad J

Sehubungan dgn project CD kompilasi band2 Indo yg rencananya akan dirilis oleh Metal Hammer mag UK pd edisi bulan depan, saya diberi amanat oleh mereka untuk menyampaikan bbrp informasi kpd teman2 yg Bandnya terpilih untuk masuk dlm CD kompilasi tersebut. Oleh karena itu sy mengundang teman2 untuk kumpul di Chronic Rock Jl. Sawah Kurung No. 19 Lantai 2 (dkt Ciateul) besok hari Sabtu jam 3 sore, untuk membicarakan bbrp hal mengenai project ini. Mohon konfirmasinya dr teman2 yg akan hadir J Hatur Tengkyu! \m/

Ketika SMS ini dating, Kimung sedang mengedit, mempersingkat, dan merumuskan lirik-lirik Karat yang akan dimainkan di Festivan gamelan Yogyakarta tak lama lagi. Berikut adalah rumusan tersebut, simaklah,

GAYATRI MANTRAM

Mantra Gayatri adalah doa universal yang tercantum dan diabadikan dalam Weda, kitab suci paling purwakala. Mantra Gayatri adalah doa yang dapat diucapkan dengan penuh kerinduan oleh pria dan wanita dari segala bangsa sepanjang masa. Pengulang-ngulangan mantra ini akan mengembangkan (kemampuan) akal budi.

OM BHUUR BHUVAH SVAH

TAT SAVITUR VARENYAM

BHARGO DEVASYA DHIIMAHI

DHIYO YO NAH PRACODAYAAT

Mantra Gayatri ditemukan oleh Rsi Wiswamitra. Rsi Wiswamitra lah menginisiasi Sri Rama dalam misteri pemujaan Surya melalui mantra Aditya Hrdayam. Mantra ini mempunyai potensi yang tidak terbatas dan merupakan formula yang penuh vibrasi. Mantra Gayatri mempunyai kekuatan yang luar biasa dan tidak terhingga, kekuatan yang sungguh menakjubkan karena Surya merupakan dewa penguasanya.

Mantra Gayatri terdapat di dalam Weda suci paling kuno yang dimiliki manusia. Gayatri adalah ibu Weda. “Gayatri Chandsaam Maathaa” Gayatri menyelamatkan orang yang mengucapkannya. Gaayantham thraayathe iti Gayatri.

BURIAL BUNCELIK

Ditulis oleh Kimung, “Burial Buncelik” adalah ungkapan yang sering dilontarkan ibunya untuk merujuk pada ekspresi kesakitan yang luar biasa yang ditujukan oleh mata yang melotot diserta ekspresi wajah yang tegang, rahang mengatup saling  menekan, dan gigi geligi yang saling bergemeletuk menandakan sakit luar biasa. Tak ada jeritan yang bisa keluar, hanya mata yang bagai memaksa keluar dari rongganya. Tokoh utama di lagu ini adalah ‘saya’, aing.

“Burial Buncelik” memotret pemandangan para pengemis di jalanan, orang-orang yang mengais sampah untuk makan, yang marah karena lapak dagangnya digusur, yang menangis karena tempat mencari makan mereka di pasar tradisional terbakar—entah sengaja atau tidak. “Burial Buncelik”juga keluhan kawan-kawan saya yang di sekitar rumahnya dibangun mall. akan ketiadaan air bersih dan fenomena maraknya air sebagai hak asasi manusia yang kini lazim dikemas dan diperdagangkan,  negara yang dengan jelas mendzalimi rakyatnya, air gratis di negara kapitalis .

“Burial Buncelik” juga adalah potret anak-anak muda yang tidak menjadi diri mereka sendiri. Mereka memilih menjadi hantu, berseliweran di jalanan sebagai idol—bukan sebagai manusia. Sebagai sesuatu yang kosong, bukan sesuatu yang isi. Mengekspresikan sesuatu yang lain, bukan sesuatu dari dalam dirinya.kecenderungan ini akan mendidik kaum muda untuk menjadi bangsa pengikut yang miskin inisiatif dan inovasi. Mereka hidup ditakar, bukan menakar. Menjadi seperti ini, menjadi seperti itu, bukan menjadi ini, atau menjadi itu. Tak terbayang begitu melelahkan cara hidup seperti itu. tak terbayang bagaimana pola pikir dan idealism anak-anak muda yang harus memikirkan penampakan citra untuk dilihat dari luar, bukan membangun karakter dari dalam diri sendiri.

“Burial Buncelik” adalah keprihatinan mendalam atas hilangnya empati orang per orang dalam kehiduapn sehari-hari. Semua orang punya kehiduan sendiri-sendiri dan jarang sekali mereka mau menyisakan ruang, bahkan waktu untuk orang lain—bahkan untuk orang tua dan keluarga. Sifat dasar bangsa ini yang awalnya kekeluargaan dan kebersamaan mengalami degradasi ke tebing-tebing sulit individualisme. Lagu ini juga sekaligus ajakan untuk sama-sama merasa, sarua ngarasa.

“Burial Buncelik” adalah penegasan akan kesakitan, akan manusia yang semakin sulit untuk hidup dan bernapas, tingkat stress yang semakin tinggi sehingga meningkatkan penyakit jantung dan gangguan otak. Lagu ini juga potret dari kepalsuan, iri, dengki, angkara atas segala kepalsuan yang terbentuk dari kegagalan manusia untuk sama-sama merasa.

SIA SIA ASA AING

 “Sia Sia Asa Aing”, terinspirasi dari semangat anarki dan kebebasan punk rock, mengedepankan harmonisasi vokal geram dan jerit, dengan konsep arsansemen karinidng yang jauh keluar dari pakem permainan karinding. Lagu ini menceritakan kumalnya intelektualitas orang-orang yang terlalu sibuk bicara omong kosong hingga mulutnya dipenuhi oleh busa-busa ludah yang menjijikkan, penangkapan dan pemberangusan, dan absurditas konsep kebenaran-kejahatan, serta kebaikan versus kebaikan yang melahirkan kejahatan total.

“Sia Sia Asa Aing” juga memotret sikap tubuh pembohong yang sombong, maling-maling amatir dan profesional yang banyak mengatur orang seenak perut buncit mereka serasa kuasa, sehingga tak jarang mereka berperilaku amoral, melakukan perkosaan, semena-mena menjamah privasi orang lain, tak tahu batas, dan dengan busuk mengobrak-abrik bahkan hal paling individu yang menjadi keramat manusia-manusia lain. Lagu ini memotret bentuk paling menjijikkan dari manusia-manusia ini

Akhirnya, “Sia Sia Asa Aing” adalah gugatan bagi mereka yang tidak punya jati diri sehingga terus menerus merongrong orang-orang dengan karakteristik palsu yang terus menerus mereka dengungkan bagai lalat-lalat di pasar.

Rumusan lima lagu lagi bersambung di edisi depan ^^

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Eddie Vedder, Alice in Chain, Soundgarden, Carcass, Decapitated, Dying Fetus, Eddie Brickell, Alanis Morisette

Books : Al Qur’an al Karim

Movies : Psycho

 

Oleh Jon 666

10 Juni

Kabar dari fRoots Magazine U.K. bahwa Karinding Attack akan dimuat di fRoots Magazine edisi Juli 2012. Pihak fRoots Magazine juga mengajak Karinding Attack untuk ikut dalam kompilasi fRoots magazine yang terdiri dari 15 musik dari 15 negara berbeda yang dibagikan secara gratis ke radio-radio di Inggris untuk diputar. Mereka meminta lagu “Burial Buncelik” untuk dimasukkan ke dalam kompilasi tersebut. Karat said yess!

Berikut adalah editorial release fRoots Magazine U.K. July 2012 Issue,

fR349 July 2012 issue

Despatched to subscribers 12th June. Street date 21st June

http://www.frootsmag.com

Continuing our summer 2012 theme, the cover feature on our 33rd Anniversary Issue (!) is the second of three revisits to icons of English folk: a major new interview with Shirley Collins plus an extract from our first one with her, published in 1988. Then we’ve also got features on got Dar es Salaam’s sensational Afro-punks Jagwa Music, Greek clarinet master Manos Achalinotopoulos, American traditionalist Jeff Davis, South Africa’s Vusi Mahlasela, a look at this summer’s capital-spanning BT River Of Music, actor Stephen Mangan on how he ended up on stage at Cambridge (and on TV) with Richard Thompson, English folk veteran Steve Turner, snack-purveying band The Malawi Mouse Boys, Anglo-Moroccan project Shore To Shore, Scotland’s Joy Dunlop & Twelfth Day, plus Show Of Hands’ Phil Beer answering the Rocket Launcher questions. All this plus lots of reviews, packed news pages, our new columns by Tim Chipping and Elizabeth Kinder, BIFF and all the rest.

And in this issue’s up-front fRoots Playlist, our current favourites on the fRoots player: Emily Portman Hatchling, Sam Lee Ground Of Its Own, Warsaw Village Band Nord, Duffy Power Tigers, Chicha Libre Canibalismo, Aysenur Kolivar Bahceye Hanimeli, Karinding Attack Gerbang Kerajaan Serigala, Geomungo Factory Metamorphosis, Kan Sleeper and Els Berros De La Cort Les Nostres Vices E Pecats.

Tracks from all those Playlist albums above, plus more from this issue’s featured and reviewed artists including Joy Dunlop & Twelfth Day, Kottarashky & The Rain Dogs, Bella Hardy, Shirley & Dolly Collins, Vusi Mahlasela, Mahsa & Marjan Vahdat, Charley Patton and the Everly Brothers can be heard on the July fRoots Radio available via Podomatic and Mondomix from 12th June – see www.podwireless.com.

http://www.facebook.com/mobileprotection#!/notes/ian-anderson/froots-july-2012-issue/10150878914062781

 

11 Juni

Karat berkumpul membahas tur dan rencana kolaborasi dengan para musisi Nining Meida A.S., Time Bomb Blues, The S.I.G.I.T, dan Navicula.

 

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Eddie Vedder, Time Bomb Blues, The S.I.G.I.T, Navicula, Nining Meida A.S., Darso, Pearl Jam, Stone Temple Pilots

Books : Al Qur’an al Karim

Movies : The Beatles Live @ BBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh Jon 666

5 Juni, Selasa,

Latihan pertama dengan Time Bomb Blues. Awalnya saya akan mengajak Yuki dalam proyek panggung ini, tapi saya kira Jimbot yang lebih pas sebagai partner saya di Dumb Brother, tentunya selain di Karinding Attack juga.

Sampai di Studio Ruang Putih, Mang Abuy dari Time Bomb Blues menyambut kami dengan hangat. Kami berbincang banyak hal mengenai dinamika musik bawahtanah Bandung. Saya sangat menghormati mereka dan saya sangat bangga bisa terlibat di panggung reunion band idola saya ini. Terbayang dulu jaman SMP, SMA, dan kuliah ketika saya mengejar panggung-panggung Time Bomb Blues dan sekarang saya satu panggung dengan mereka. Bagi Karinding Attack dan ranah musik karinding secara umum, ini tentu saja pengakuan dari musisi senior bagi dinamika musik karinding yang kami kembangkan. Rahayu mangs sadaya!

Latihan lancar, kami memainkan tiga lagu, “Mungkin” dari Time Bomb Blues, “Hey Joe” dari Jimi Hendris, dan “Backstreet Girl” dari Rolling Stones. Selain saya dan Jimbot dari Karinding Attack, ikut mendukung konser ini adalah Rekti The S.I.G.I.T, Ammy 4Peiti, Ully Time Bomb, Hari Pochank dari Blues Libre, dan Gugun Blues Shelter. Hajar!

 

7 Juni

Latihan ke dua bersama Time Bomb Blues. Kami semakin lebur di sesi ini dan latihan akan dilanjut keesokan harinya sambil cek tata suara sebelum konser. Usai latihan, saya, Jimbot, dan Hari Pochank jam session membawakan lagu “Milik Kita” dari Paperback. Bangga sekali bisa main dengan maestro harmonika ini. Rahayu!

 

8 Juni

Saya dan Jimbot mendukung konser reuni Time Bomb Blues. Benar-benar sebuah konser yang fenomenal setelah mereka vakum hampir Sembilan tahun. Sebuah kebanggan tentu saja bermian bersama legenda blues Bandung. Saya ingat betul dulu ketika SMA dan kuliah nonton Time Bomb Blues di klub-klub dalam acara Rolling Stone night atau The Doors night. Mata dan telinga saya waktu itu tak pernah bisa lepas sedetik pun dari mereka ketika Time Bomb Blues tampil di atas panggung.

Dan Time Bomb Blues memang berbeda dengan band-band blues pada umumnya. Jika kita menonton konser Time Bomb Blues kita serasa menjadi bagian dari pertunjukan band ini saking akrabnya Time Bomb Blues dengan para audiensnya. Dari panggung-panggung itu juga akar dan rasa musikalitas saya, terutama yang berkaitan dengan blues, rock n’ roll, rock, dan heavy metal semakin terasah. Sosok Budi Arab terutama adalah sosok yang paling saya kagumi di Time Bomb Blues. Permianan gitarya yang massif namun apik terus terngiang dan terbayang dalam pikiran saya.

Sambil menunggu konser, saya Jimbot, dan Hendra berbincang dengan Rekti. The S.I.G.I.T kini sedang menggarap album baru dan Rekti berhasrat memasukkan beberapa instrument lain di beberapa lagu di album baru mereka. Ia mengungkapkan bahwa ia sudah membayangkan karinding yang mengisi beberapa bagian di lagu-lagu tersebut. Ia lalu membagi dua lagu di materi untuk album barunya. Sangat keren! The S.I.G.I.T banyak bermain dalam pola permainan yang lebih akploratif dengan tipikal aransemen yang kolasif. Banyak sekali pola-pola yang terdengar berbeda satu sama lainnya namun berhasil dipadukan dalam satu benang merah yang sangat apik. Posisi karinidng dan instrument bawaan Karinidng Attack bisa diposisikan sebagai jembatan antar pola dalam lagu. Juga sebagai pembawa nuansa lain yang sudah dibangun dalam lagu. Rekti bilang kita semua bisa bersiap jika vokal sudah selesai digarap di studio. Mari hajar bro!

Panggung bersama Time Bomb Blues berlangsung dengan lancar walau “Backstreet Girl” tak jadi dimainkan karena keterbatasan waktu. Di sesi lagu “Hey Joe”, Gugun ikut bergabung bermain melodi gitar. Awesome!

 

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Eddie Vedder, Time Bomb Blues, Jimi Hendrix, Rolling Stones, The S.I.G.I.T, Gugun Bles Shelter, Janis Joplin, Pearl Jam

Books : Al Qur’an al Karim, Memoar Melawan Lupa

Movies :

Quotes :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh Jon 666

27 Mei, Minggu, Latihan Gabungan dan Gladi Kotor “Konser Tanpa Nama”

Karat mulai latihan untuk panggung peluncuran album “Suara Lainnya” Peterpan. Latihan digelar di Studio Rossi, milik salah satu personil band Kelelawar Malam. Latihan juga sekaligus gladi kotor pertunjukan. Kami berkenalan dengan sosok-sosok yang bekerja untuk “Konser Tanpa Nama” ini. Dimas Leimena, Oleg Sancha, serta kru dari Berlian dan Studio Rossi semua menampilkan performa kerja yang patut diapresiasi positif. Mereka sangat professional tapi juga mampu membangun iklim yang nyaman bagi artis yang mereka garap. Karat berlatih secara maraton bersama New Peterpan serta artis-artis pendukung lain seperti Idris Sardi, Mas Ino, Momo, Henry Lamiri, perkusi, dan orkestra dari jam dua belas siang hingga jam sepuluh malam. Karat diplot tampil di tiga lagu Peterpan, “Di Belakangku”, “Sahabat” yang juga dibuka oleh “Bubuka” versi Karat, serta tinggal sepanjang permainan saksofon Mas Ino di lagu “Tak Ada yang Abadi”. Ketika Momo Geisha masuk di lagu “Cobalah Mengerti”, Karat meninggalkan panggung.

Menyenangkan sekali berada di sana bersama para personil New Peterpan yang memang sangat hangat da bersahabat.

Usai latihan, personil semua kembali ke Bandung, sementara kru dan manajemen menginap di Hotel FX Jakarta. Mereka adalah Meyti, Vicki, Ismet, Haris, dan Kimo.

 

29 Mei, Selasa, “Konser Tanpa Nama” dan Suara Lainnya

Jam dua pagi semua berkumpul di Common Room untuk siap-siap berangkat ke Jakarta, melakukan gladi resik konser “Suara Lainnya” Peterpan. Jam setengah enam pagi Karat sudah berkumpul di Senayan City. Kami melakukan gladi resik dari jam sebelas siang hingga jam setengah enam sore. Jam delapan malam konser dimulai…

Bagi saya pribadi yang besar di jalanan dengan segenap pergulatan antara idealisme musik metal dan eksplorasi musik tradisional, ini adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga bermain bersama Peterpan, salah satu band pop terbesar di Indonesia yang juga tetangga kami di Ujungberung. Sebuah pengalaman yang sangat besar bisa bermain celempung tepat di depan Titik Puspa, Guruh Soekarnoputra, Hetty Koes Endang, Camelia Malik, musisi-musisi senior Indonesia yang selalu saya banggakan, Bu Acin, serta para penggiat industri musik Indonesia.

Tak pernah terbayangkan sama sekali kami bisa sampai di titik sejauh ini walau kami sadar titik ini bukan sepenuhnya milik kami. Tapi sudah berada di sini mendukung sahabat dalam bermusik adalah sebuah pengalaman dengan luapan emosi yang luar biasa. Kami banyak belajar mengenai bagaimana keterbukaan terhadap sebuah ide bisa dikembangkan dalam sebuah industri. Dan tak ada hal yang lebih berharga selain belajar : )

Konsernya sendiri berjalan sangat mulus walau terganggu oleh gangguan teknis hilangnya metronom yang mengakibatkan Karat tak bisa bermain dan berhenti bersamaan dengan Peterpan. Namun ini bukan kesalahan dari Karat, lebih ke masalah teknis yang lagi-lagi harus lebih dipersiapkan dalam konser besar yang melibatkan alat musik bambu. Intro sebelum masuk “Sahabat” yang terlalu panjang dan bertele-tele juga terasa mengganggu, juga Ki Amenk yang lupa dan tiba-tiba pergi meninggalkan panggung di luar skenario. Namun secara keseluruhan, penampian Karat berhasil memberikan impresi yang luar biasa bagi seluruh audiens yang dating di koser ini.

Usai konser, Karat sempat foto-foto disekitar arena dan mendapatkan CD Suara Lainnya, langsung diberikan oleh Bu Acin ayng ramah. Karat bahkan sempat berfoto-foto dan berbincang dengan Bu Acin tentang musik tradisional.

Usai membereskan berbagai hal, rombongan segera kembali ke Bandung dan hang out dengan stong taste di Common Room sampai subuh.

Selamat ulang tahun Meyti dan Viki!!!!

30 Mei, Rabu,

Berikut adalah beberapa cuplikan mengenai Konser Tanpa Nama Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David yang berkaitan dengan Karinding Attack,

…Atmosfer mistis terasa begitu pemain Karinidng Attack mulai memainkan isntrumen tradisional Sunda seperti karinding, celempung, gong tiup, toleat, saluang, serunai, dan suling yang kemudian diikuti rapalan berbahasa Sunda yang terkesan seperti mantra. Bersama band tradisional yang bercorak metal ini, David, Reza, Uki, dan Lukman memainkan tembang “Di Belakangku” dan “Sahabat”…” Bintang Edisi 1097 Tahun XXII Minggu Pertama Juni 2012

…Sejak awal hingga kahir, konser ini dimainkan secara instrumentalia. Termasuk kolaborasi apik yang menghadirkan kelompok Karinding Attack dengan mantan band bernama Peterpan ini. Penonton seakan terbawa suasana mistik saat bunyi-bunyian yang dimainkan dengan alat tetabuhan, seruling, karinding, dan alat pukul dan bambu khas Sunda. Seorang berpakaian khas Sunda warna putih gading membawa dupa dan menabur bunga melati muncul dari belakang penonton. Bau kemenyan bakar menusuk hidung. “Sampurasun ka sadayana,” ujar salah seorang dasri mereka menyapa penonton. Selanjutnya mengawal lagu “Di Belakangku” dan “Sahabat” dengan tempo sedang, sarat balutan bebunyian tradisi khas Karinding Attack. Sebuah gagasan jempolan sesuai yang terdapat dalam album “Suara lainnya” versi mantan Peterpan tanpa Ariel dalam persembahan instrumentalia…” Ratna Djuwita, Pikiran Rakyat, Jumat 1 Juni 2012

Sementara, ini adalah ulasan mengenai album Suara Lainnya yang berkaitan dengan Karinding Attack di Harian Kompas, Minggu 27 Mei 2012,

…Pada album instrumental Suara Lainnya, kawan-kawan Ariel itu melepas rasa lama. Mereka mengemas karya lama dengan pendekatan yang dirancang untuk suguhan instrumental, bukan garapan musik yang berorientasi pada vokal. Dengan pendekatan seperti itu, mereka bisa leluasa menggagas bentuk dan rasa baru dari lagu-lagu Peterpan. Keleluasaan gagasan itu termasuk dalam urusan melibatkan seniman lain untuk memainkan lagu Peterpan. Untuk lagu “Sahabat”, misalnya, awak eks Peterpan menggagas untuk menampilkan kelompiok Karinding Attack sebagai penafsir. Hasilnya adalah lagu “Sabahat” dan “Di Belakangku” dengan sentuhan etnis, bernuansa kesunda-sundaan khas Karinding Attack. Mereka adalah kelompok music modern dengan basis tradisi. Mereka antara lain memainkan instrumen karinding serta suling Sunda…”

 

1 Juni

Imey dari Karinding Attack rapat dengan Gio Atap Promotion membahas rencana tur “Karinding Attack Serigala Jalanan”.

 

10 Playlist Jon 666 : Tarawangsa, The Beatles, Eddie Vedder, Pearl Jam, Peterpan, Pink Floyd, Nine Inch Nails, The S.I.G.I.T, Padi, Slank

Books : Al Qur’an al Karim, Seratus Tokoh yang Berpengaruh dalam Sejarah, Jurnal Karat

Movies : Blitz, Possession